Posted in KiHae Couple, Super Junior

Our Little Angel [Little Kihae] – 2


Tittle : Our Little Angel

Pairing : KiHae

Chap 2 update ^^

Ah… sepertinya kemarin saya lupa memberi tahu kalau ini sequel dari To be a Parents, tapi sepertinya udah pada tahu ya, hehe… kalau yang pengen tahu ceritanya dari awal bisa baca To be a Parents dulu ya, dan juga jangan lupa baca drabblenya Our Little Angel, di sana Kihaenya masih bayi, ya, tapi karena drabble ceritanya singkat banget.

Ah, sudahlah, silahkan baca dan semoga kalian tidak kecewa dengan chap ini.

– isfa_id –

PRANK…

BRUKKK…

TRANG…

BANG…

KLETAK…

KRENTANG…

Jangan tanya saya itu semua suara apa! Karena saya tidak tau…

Sedari tadi Donghae melempar semua benda yang berada dekat dengannya, ya, semua benda yang bisa dia lempar ke wajah suaminya yang sudah membuatnya sangat marah. “Dasar kau… *sensor* *sensor*!!!” Donghae terus mengutuk Kibum dengan kata-kata yang entah sebenarnya kenapa bisa dia katakan. Dia terus meraih benda yang dapat diraihnya dan melemparnya ke arah Kibum, meski sudah sedari tadi dia gagal karena Kibum terus mengelak.

Dia tidak berhenti melakukan itu, hingga… “Jagi-ya, itu pisau, jangan lempar, aku bisa mati.”

Donghae terdiam mendengar ucapan Kibum, dilihatnya benda yang ada di tangannya sekarang, “Aish…” dia kesal, kenapa tidak ada benda lain, kenapa tinggal pisau, padahal dia masih ingin melempar Kibum dengan sesuatu. Dia memutar kepalanya mencari sesuatu yang bisa dia lempar, hanya tertinggal kompor, tabung gas, kulkas, yang jelas barang-barang yang berukuran besar. “Ahhh…” dia berteriak kecewa, karena tidak mungkin dia mengangkat semua itu, walaupun bisa Kibum bisa mati, dia tidak mau itu.

Bukankah dia sedang marah sekarang? Kenapa dia harus memikirkan keselamatan Kibum? Sepertinya cinta mengalahkan segalanya. “Aish…” dia kembali bersungut dan melepaskan pisau yang ada di tangannya. Ditatapnya Kibum dengan pandangan setajam mungkin, dan kemudian meninggalkan Kibum menuju kamar dan mengunci diri di sana.

Kibum berlari menuju kamar mereka yang sudah terkunci. “Jagi-ya, dengarkan aku dulu, aku bisa jelaskan, buka pintunya.” Kibum terus mencoba membujuk Donghae, tapi sudah berkali-kali dia mengetuk pintunya Donghae sama sekali tidak bergeming. Tidak ada suara yang terdengar sedikitpun, “Apa dia tidur?”

Jagi-ya…”

Hening…

Jagi-ya…”

Tetap hening…

Ja…” Kibum menghentikan kata-katanya saat dia merasakan handphone di sakunya bergetar. Diambilnya dan dilihatnya siapa yang menghubunginya “Sekolah Kihae?” ucap Kibum sedikit kurang yakin. Ditekannya tombol hijaunya, “Yeoboseyo…” ucap Kibum pelan.

Appa…”

Ye?” Kibum sedikit terkejut mendengar suara anaknya di seberang sana. Tadi dia pikir guru atau kepala sekolah yang meneleponnya, tapi ternyata suara anaknya yang terdengar.

Appa… kenapa belum jemput Kihae? Kihae sendirian di sekolah, teman-teman Kihae sudah pulang semua. Eunwoon sakit, jadi Kihae tidak punya teman. Appa… cepat jemput Kihae…”

Kibum melihat jam yang melingkar di tangannya, ‘Omo… seharusnya aku sudah menjemput Kihae satu jam yang lalu,’ batinnya saat sadar. “Ne, Kihae tunggu di sana eoh? Sebentar lagi appa jemput,” ucap Kibum dan menutup teleponnya setelah mendapatkan jawaban dari Kihae.

Jagi-ya, apa kau tidur? Aku mau menjemput Kihae, kau tidak mau ikut?” Kibum mencoba bicara lagi dengan Donghae tapi tetap tidak ada jawaban.

“Baiklah, aku pergi,” lanjut Kibum dan beranjak pergi. Tapi baru berjalan beberapa langkah, dia mendengar suara pintu kamar terbuka. Dia tersenyum saat melihat Donghae keluar, segera digenggamnya tangan Donghae, tapi segera dilepaskan dengan paksa oleh Donghae yang segera berjalan keluar dari apartement mereka.

Di mobil.

Mereka sama sekali tidak bicara, Donghae sibuk memperhatikan jalan dari kaca mobil, tanpa melirik sedikitpun ke arah Kibum. Kibum pun hanya fokus menyetir, meski sesekali dia melirik ke arah istrinya itu.

Setelah sampai di sekolah Kihae, Donghae langsung turun dan langsung berjalan menuju ruang guru. Dilihatnya Kihae yang sedang duduk di salah satu kursi sambil memainkan pulpen di atas selembar kertas. Donghae mendekatinya dan segera menggendong tubuh mungil Kihae, “Mianhae jagi-ya, eomma telat jemput,” ucapnya lembut sambil mengecup pipi lembut malaikat kecilnya itu.

Ne eomma,” jawab Kihae singkat sambil menggerak-gerakkan kakinya dalam gendongan Donghae, “Eomma… cepat, Kihae lapar,” rengeknya karena Donghae masih belum beranjak dari sana.

Ne,” jawab Donghae pelan dan segera berpamitan dengan nona Park, gurunya Kihae. Begitu pula dengan Kibum yang ada di belakangnya.

“Maaf merepotkan Anda,” ucap Kibum singkat saat berpamitan.

Kibum dan Donghae kembali saling berdiam diri saat mereka sudah berada di dalam mobil. Donghae melihat kertas yang sedari tadi dipegang oleh Kihae, kertas yang dia coret-coret saat di ruang guru tadi. “Itu apa? Eomma boleh lihat?” tanya Donghae lembut.

Ne,” jawab Kihae dan langsung membuka kertas itu dan memperlihatkan isinya kepada eommanya. Dia sedikit bergerak-gerak di atas pangkuan eommanya. “Baguskan Eomma?

“Haebum?” tanya Donghae saat membaca tulisan anaknya itu, ya, isinya hanya satu kata itu, Haebum.

Ne, ini nama buat adik kecil Kihae nanti, baguskan Eomma?” tanya Kihae lagi. Tapi sebelum dia mendapatkan jawaban dari Donghae dia langsung memperlihatkan itu ke Kibum, meski Kibum hanya meliriknya sekilas karena dia harus tetap fokus menyetir. “Baguskan Appa, nanti adik kecil Kihae namanya Haebum,” ucapnya tanpa memperhatikan raut wajah kedua orang tua mereka.

“Sama dengan Kihae, nama Kihae kan singkatan dari nama Appa sama Eomma, jadi adik kecil Kihae juga harus punya nama singkatan dari Appa sama Eomma,” Kihae mencoba menjelaskan alasannya kenapa dia memilih nama Haebum untuk nama adik kecilnya nanti, meski entah kapan adik kecilnya itu jadi.

Donghae hanya tersenyum kecil mendengar ucapan anaknya itu.

Eomma…” Kihae membalik duduknya dan menghadap Donghae. “Eomma kenapa? Eomma sakit ya?” tanya Kihae karena sedari tadi Donghae hanya diam, “Eomma marah sama Kihae ya? Kihae nakal ya Eomma?” Kihae terus bertanya, tapi Donghae hanya menjawab pertannyaan Kihae dengan senyum kecilnya. “Appa…”

– isfa_id –

Halmeoni…” Kihae langsung berlari menemui nyonya Kim saat mereka sudah sampai di rumah orang tua Kibum.

Donghae menatap Kibum sedikit tajam, “Kenapa ke sini?” tanyanya ketus.

“Kihae pasti bertanya kenapa rumah berantakkan, jadi bagaimana eomma menjelaskannya,” jawab Kibum sedikit menggoda Donghae.

“Tidak perlu bersikap manis, tidak akan merubah apapun,” sungut Donghae dan segera meninggalkan Kibum yang masih berdiri di dekat mobil mereka.

Kibum hanya tersenyum melihat Donghae yang masih marah. “Istriku benar-benar manis kalau sedang cemburu,” ucapnya pelan dan segera ikut masuk.

Flash back on

Kibum masuk ke apartementnya dan melihat Donghae sedang berada di meja dengan laptopnya, hari ini tidak ada syuting, tadi dia hanya pergi ke suatu tempat, hanya untuk sedikit mengisi hari liburnya. Tapi saat melihat Kibum Donghae langsung masuk ke kamarnya. Kibum tidak terlalu memperdulikan itu, tapi yang jadi pertanyaannya kenapa tadi sebelum Donghae masuk ke kamarnya dia melihat tatapan tajam dari mata Donghae. Kibum segera menyusulnya ke dalam kamar dan mendapati Donghae sedang berbaring dengan posisi membelakanginya.

Jagi-ya, kau tidak mau memeluk suamimu ini eoh?” goda Kibum sambil ikut berbaring dan memeluk pinggang Donghae lembut.

“Lepaskan!”

Kibum tersenyum mendengar ucapan Donghae dan semakin memeluknya erat. “Lepaskan Bummie!” ulang Donghae, tapi Kibum tetap memeluknya. “Lepaskan Kim Kibum!!!” ucap Donghae sedikit berteriak dan segera bangkit. Dia berjalan keluar kamar meninggalkan Kibum yang masih terdiam di sana. Tapi perlahan Kibum bangkit dan menyusul Donghae, tapi saat dia baru keluar dari kamar dia melihat laptop Donghae yang belum sempat dimatikan Donghae tadi.

Kibum tersenyum saat melihat apa yang terpampang di layar monitor tersebut, sebuah berita tentangnya dan seorang yeoja yang tertangkap kamera sedang berciuman. “Istriku cemburu?” godanya dan menemui Donghae yang sedang ada di dapur. Donghae sama sekali tidak bergeming dan Kibum langsung memeluknya karena itu.

Donghae langsung mendorong tubuh Kibum dan terus memandangnya dengan tatapan yang sangat tajam, dia benar-benar marah dengan Kibum.

“Kamu percaya berita itu? Aku tidak mungkin melakukan itu, aku hanya mencintai istriku, dan aku hanya akan mencium istriku,” ucap Kibum sambil memegang kedua pipi Donghae.

“Jadi kamu mau bilang berita itu bohong?” tanya Donghae sambil melepaskan tangan Kibum dari wajahnya. Kibum mengangguk kecil. “Dan kamu mau bilang kalau photo itu bohong?” tanyanya lagi. Kibum menggeleng. “YA!!!” Donghae berteriak dan langsung mendorong tubuh Kibum menjauhinya. “Jadi photo itu asli?” tanya Donghae dan Kibum mengangguk. “Tadi kamu bilang kamu hanya mencintaiku, hanya akan menciumku, lalu kenapa kamu mencium yeoja itu?” kesal Donghae sambil melempar mangkok kecil ke arah Kibum.

Jagi-ya, aku bisa jelaskan,” ucap Kibum setelah berhasil menyelamatkan diri dari serangan mangkok kecil Donghae.

“Aku tidak mau dengar,” jawab Donghae dan kembali melempar sesuatu ke arah Kibum.

Jagi-ya…”

“Berhenti memanggilku seperti itu!”

“Donghae-ya, itu hanya salah satu adegan di dramaku.”

“Kalau hanya adegan di drama tidak mungkin akan keluar berita seperti itu, kamu bohong, kamu selingkuh.”

“Donghae-ya…”

“Aku tidak mau dengar, tidak mau dengar, kamu jahat Bummie, jahat…” ucap Donghae dan kembali melempari Kibum dengan sesuatu yang bisa dia lempar. Donghae tidak mau mendengarkan penjelasan Kibum, hingga terjadilah perang hebat antara mereka.

Apa Donghae keterlaluan? Tapi wajar kalau dia melakukan itu, karena dia cemburu.

Flash back off

Halmeoni lihat, bagus kan?” ucap Kihae memperlihatkan kertas yang sedari tadi dipegangnya, sekarang mereka sedang ada di ruang keluarga di rumah orang tua Kibum, “Ini nama adik kecil Kihae, Haebum, baguskan Halmeoni?” ulang Kihae.

Nyonya Kim sedikit melotot mendengar ucapan Kihae, “Jadi kalian ke sini untuk memberitahu eomma kabar bahagia ini?” tanya nyonya Kim karena dia menganggap Donghae sedang hamil sekarang.

Ye?” ucap Kibum tidak mengerti.

Nyonya Kim mendekati Kibum dan Donghae yang sekarang sedang duduk berdampingan. Mereka memang sengaja duduk berdampingan agar nyonya Kim tidak curiga kalau mereka sedang bertengkar sekarang. Nyonya Kim menyentuh wajah Donghae sambil tersenyum manis, “Kau harus jaga kesehatanmu, jangan sampai terjadi apa-apa dengan calon cucuku,” ucap nyonya Kim lembut dan beralih mengelus perut rata Donghae.

Ye?” Donghae terkejut. “Eomma, bukan se…”

Kibum langsung segera merangkul Donghae membuat Donghae menghentikan kata-katanya. “Ne Eomma, aku akan menjaga menantu kesayangan Eomma ini,” ucap Kibum yang tidak sadar mendapat tatapan tajam dari Donghae. Nyonya Kim tersenyum mendengar ucapan Kibum dan langsung menggendong tubuh mungil cucu kesayangannya.

“Tadi Kihae bilang lapar, eoh?” ucap nyonya Kim yang mendapatkan anggukan dari Kihae. “Mau makan sama halmeoni?

Ne…” jawab Kihae senang.

Nyonya Kim segera menggendong Kihae menuju meja makan meninggalkan Kibum dan Donghae.

“Kenapa kau lakukan itu?” tanya Donghae kesal sambil melepaskan tangan Kibum yang melingkar di pundaknya. Tapi belum juga Kibum memberikan jawaban Donghae langsung meninggalkannya dan menyusul Kihae dan mertuanya.

Malam hari.

Kibum berbaring di tempat tidur sambil sesekali memangdangi punggung Donghae yang tertidur sambil membelakanginya. Mereka tidur berdua, ya, dengan alasan yang sama seperti siang tadi, mereka tidak ingin orang tua Kibum tahu kalau mereka sedang bertengkar. Dan Kihae? Dia tidur bersama Sae Hee, adik Kibum.

Kibum memutar posisi tidurnya dan menatap Donghae, tapi kemudian memutar posisinya lagi menjadi telentang. Dia meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya, dia gelisah, dia tidak bisa tidur.

Donghae menyadarinya karena dari tadi Donghae memang belum tidur. Tapi dia tidak bergerak sedikitpun tetap dengan posisinya semula, membelakangi Kibum. “Ahhh… aku tidak bisa tidur kalau seperti ini,” didengarnya desahan Kibum. Tiba-tiba dilihatnya sebuah tangan melingkar di pinggangnya, “Biarkan aku memelukmu, aku tidak bisa tidur kalau tidak memelukmu,” ucap Kibum sambil mempererat pelukannya di pinggang Donghae. “Aku tahu kamu belum tidur, tapi jangan memintaku untuk melepaskannya, aku hanya ingin tidur,” lanjut Kibum.

Terlukis sebuah senyum kecil di bibir Donghae, ingin rasanya dia menyentuh tangan Kibum atau berbalik dan membalas pelukan Kibum. Tapi dia sedang marah sekarang, ‘Tidurlah,’ ucap Donghae dalam hati.

Tengah malam.

Donghae terbangun, tadi dia ikut tertidur setelah mendapatkan pelukan hangat dari suaminya. Dilihatnya tangan Kibum masih setia melingkar di pinggangnya, dia tersenyum. Dia membalik posisi tidurnya hingga menghadap Kibum, ditatapnya lembut wajah Kibum yang sedang terlelap. Disingkirkannya sedikit rambut yang menutupi kening Kibum. “Jadi benar-benar kena,” ucapnya lembut saat melihat tanda biru di kening Kibum. Mungkin saat dia melempari Kibum tadi ada yang mengenai kening Kibum. “Pasti sakit.”

Donghae sedikit mengangkat tubuhnya dan mencium kening Kibum tepat di tanda birunya. “Mianhae, karena aku terlalu cemburu, aku tahu kamu tidak akan melakukan itu, mianhae…” ucap Donghae sambil membelai pipi mulus Kibum.

Tubuh Kibum bergerak, pundaknya naik turun sedikit tidak beraturan, terukir sebuah senyuman lebar di bibirnya hingga keluar suara tawa.

YA!!! KIM KIBUM… KENAPA KAU SELALU MEMPERMAINKANKU?” Donghae berteriak kesal karena ternyata Kibum sedang tidak tidur. Tapi Kibum terus tertawa mendengar Donghae berteriak seperti itu. Donghae segera memukul Kibum dengan bantal, “Aish… kamu puas, eoh?” ucap Donghae sambil terus memukuli Kibum.

‘Klek…’ pintu kamar mereka terbuka.

“Kalian tahu ini jam berapa?” terdengar suara tuan Kim yang masuk ke dalam kamar mereka. Kibum dan Donghae langsung terdiam mendengarnya. “Kalau kalian ingin main, jangan terlalu berisik.”

Ye?” ucap Kibum dan Donghae bersamaan.

“Bummie, kalau istrimu tidak mau jangan dipaksa,” lanjut tuan Kim.

Ye?” ucap Kibum semakin bingung. “Appa… bukan seperti itu, kami…”

“Lanjutkanlah, appa tidak akan mengganggu, tapi ingat, jangan berisik, dan bermainlah pelan-pelan, istimu sedang hamil!” ucap tuan Kim dan segera meninggalkan kamar Kibum dan Donghae.

Hening…

Donghae mengerjapkan matanya dan menatap Kibum, tapi kemudian dia menunduk malu. Kibum mengangkat dagu Donghae dan mengecup bibirnya lembut, “Bummie…” ucap Donghae sambil memukul dada Kibum pelan.

Kibum hanya tersenyum dan langsung menarik tubuh Donghae ke dalam pelukkannya dan mencium pucuk kepala Donghae, “Saranghae…” ucapnya lembut.

“Bummie…” Donghae sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Kibum.

“Hm…”

Appa dan eomma benar-benar mengira aku sedang hamil.”

“Sudahlah, tidak usah memikirkan itu, nanti aku akan bicara dengan mereka,” jawab Kibum. “Atau kita buat adik kecilnya sekarang saja?” Kibum mulai menggoda Donghae.

“KIBUM…”

“Aish… apa Kibum tidak bisa memperlakukan istrinya dengan lembut?” ucap tuan Kim yang sekarang sedang berbaring di tempat tidur.

“Dia itu sama seperti appanya,” celetuk nyonya Kim yang ada di sampingnya.

Ye?

– isfa_id –

Appa… cepat bangun,” Kihae menarik tangan Kibum. Kibum bangkit, tapi bukannya bangun dia malah mengangkat tubuh mungil Kihae dan membaringkannya di tengah dia dan Donghae.

Appa masih mengantuk, kita tidur lagi, eoh?” ucap Kibum dan kembali memejamkan matanya.

Appa… cepat bangun, nanti Kihae telat ke sekolahnya.”

“Kenapa kalian berdua berisik sekali,” ucap Donghae dan membalik posisi tidurnya, karena dia juga masih merasa mengantuk, dan masih ingin tidur lebih lama lagi.

“Kihae lihat, eomma juga masih mau tidur, kita tidur lagi, eoh?” ucap Kibum.

Appa… cepat bangun…”

“Hmmm…” Kibum dan Donghae langsung bangun setelah mendengar suara nyonya Kim. “Kihae sini, bantu halmeoni menyiapkan sarapan.”

Ne…” jawab Kihae dan langsung berlari menemui nyonya Kim.

“Cepat bangun!” perintah nyonya Kim.

Donghae bangkit sambil mengucek matanya yang masih sedikit mengantuk, dia turun dari tempat tidur tapi Kibum menariknya, “Mau ke mana?” tanya Kibum.

“Mandi,” jawab Donghae singkat.

“Kita mandi sama-sama,” ucap Kibum dan langsung menarik Donghae masuk ke kamar mandi.

“AKU TIDAK MAU!”

“Kihae… apa eomma dan appa seperti itu setiap hari?” tanya Sae Hee yang menemani Kihae di meja makan sambil membantu nyonya Kim menyusun sarapan, sedangkan tuan Kim fokus membaca koran paginya.

Neeomma selalu memukul kepala appa,” jawab Kihae polos sambil menggerak-gerakkan kakinya dan memainkan sendok karena sudah tidak sanggup menunggu sarapannya selesai. “Halmeoni… Kihae lapar,” rengeknya.

Nyonya Kim dan Sae Hee tersenyum melihat ekspresi wajah Kihae, “Kalau eomma memukul kepala appa, apa appa juga memukul kepala eomma?” tanya Sae Hee lagi.

Ani…” jawab Kihae.

“Jadi, apa yang appa lakukan?”

“Cium pipi eomma,” jawab Kihae lagi dan terus memainkan sendoknya.

Ajumma…”

Sae Hee memutar bola matanya kesal, sebenarnya dia tidak suka Kihae memanggilnya seperti itu, tapi Kihae itu sangat patuh pada Kibum dan Donghae, jadi walaupun dia meminta Kihae memanggilnya ‘noona’ Kihae pasti tidak mau, ‘Kata appa sama eomma Kihae harus panggil ajumma,’ itulah jawaban yang akan diterimanya. Jadi mau tidak mau Sae Hee harus rela dipanggil ‘ajumma’.

“Hm…” jawab Sae Hee singkat.

“Apa di perut ajumma ada adik kecil?” tanya Kihae polos.

Ye?” Sae Hee terkejut.

“Di perut ajumma tidak ada adik kecilnya, memangnya kenapa?” tanya Sae Hee kemudian.

“Kata Eunwon, di perut Eunhyuk ajumma ada adik kecilnya. Tapi, waktu Kihae tanya sama eomma di perut eomma belum ada adik kecil, kata appa adik kecilnya belum jadi. Kihae mau punya adik kecil, Kihae mau yeodongsaeng yang manis seperti eomma,” jelas Kihae.

Nyonya Kim dan tuan Kim yang mendengar ucapan Kihae langsung mendekati Kihae, “Di perut eomma belum ada adik kecil?” tanya nyonya Kim ke Kihae karena sedikit kurang yakin.

Ne, kata appa adik kecilnya belum jadi,” jawab Kihae.

Eomma…” Kihae langsung turun dan berlari menemui Donghae saat Donghae keluar dari kamarnya yang disusul Kibum di belakangnya.

– isfa_id –

Kibum berjalan menuju apartement sambil terus menggenggam tangan Donghae, mereka baru saja pulang setelah mengantar Kihae ke sekolah. Kibum menoleh sedikit melihat wajah Donghae yang sedang kesal, karena tadi mereka sempat dimarahi orang tua Kibum karena mereka bohong mengenai kehamilan Donghae. Padahal bukan Donghae yang bohong tapi Kibum, tapi dia juga ikut dimarahi karena menyembunyikan kebohongan Kibum.

“Istriku marah, eoh?” ucap Kibum dan memeluk Donghae dari belakang.

“Bummie, apa yang kamu lakukan, nanti ada yang lihat,” ucap Donghae sambil melepaskan pelukan Kibum, dan langsung berjalan kembali menuju apartement mereka meninggalkan Kibum yang masih berdiri di belakangnya sambil tersenyum.

“Cepat Bummie,” ucap Donghae karena Kibum masih saja berjalan dengan sangat santai sementara dia sudah berdiri di depan pintu apartemen mereka. ‘Huh… sepertinya aku harus benar-benar libur hari ini, aku pasti akan sangat lelah membereskannya nanti,’ batin Donghae membayangkan keadaan apartement mereka yang pasti sangat berantakkan.

Tapi Donghae terkejut saat melihat apartement mereka sudah rapi waktu Kibum membuka pintu, “Apa kamu yang melakukannya?” tanya Donghae sedikit kurang yakin sambil menatap mata Kibum.

“Mana mungkin, dari kemarin aku bersamamu,” jawab Kibum.

“Jadi?”

“Aku minta bantuan Heechul hyung.”

Ye?” ucap Donghae tidak percaya.

Kibum tersenyum dan langsung menuju dapur, mengambil sebotol air mineral dan menghabiskannya.

“Apa yang kamu katakan pada Heechul hyung?” tanya Donghae penasaran.

“Yang ku katakan?”

“Hm…”

Kibum memegang wajah Donghae dengan kedua tangannya, “Aku bilang…” ucap Kibum pelan, “Aku bilang… ‘Hyung, menantu kesayanganmu sedang marah padaku, apa kau mau menolong anak kesayanganmu ini?’ itu yang aku katakan,” jelas Kibum dan dia melihat raut kesal di wajah Donghae. Dia terkekeh.

“Jadi kamu ceritakan semuanya?” tanya Donghae.

Ne…” jawab Kibum dan langsung berlari mengunci diri di kamar sebelum Donghae melempar sesuatu ke arahnya.

YA!!! KIM KIBUM, KELUAR KAU!!!

– isfa_id –

Membosankan… saya merasa ini sangat membosankan, apa menurut kalian membosankan? Maaf…

Jadi gimana? Masih mau dilanjutin g’, apa cukup sampai di sini aja? Kkk~

Advertisements

16 thoughts on “Our Little Angel [Little Kihae] – 2

  1. ya ampuun si eomma ini kok marah2 aja ya… appa juga sich yg cari gara2 sama eomma…
    nah nah tuh kan eomma ngajak perang, Kihae tolong gagalkan perangnya… wkwkwk

  2. ahahaha donghae-ya cemburu XDd, sampe lempar barang begitu aishhh untng sadar jd ga sempat lempar piso, apa yg terjadi klo tuh piso dilempar, kibum jadi kibum potong /dijitak/
    Wkwk, drama adek bayi sampe ke rumah mertua, kkk, tp malah jadi slah paham kkk kesian dimarahin dikira boongan /tpbenerankibumtukangkibul ko/digetok/

  3. Bnr2 pasangan yg lucu deh mereka, krjaannya brantem trus nih tp cepet bngt baiknya hehehehehehe

    Kibum kasian bngt ya d’lempar brng2 sama donghae yg sabar ya oppa, mknya jngn bkin donghae cemburu bgtu ya

    Kihae bnr2 pngn pnya adik ya???????
    Ayo kibum oppa n donghae oppa trus berjuang ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s