Posted in KiHae Couple

Our Little Angel [Little Kihae] – 3


Tittle : Our Little Angel

Pairing : KiHae

Yosh… chap 3 update ^^

Semoga kalian g’ kecewa dengan chap ini.

Happy reading ^^

– isfa_id –

Donghae tersenyum sambil terus menekan-nekan hidung Kibum, dia sudah melakukan itu dari satu jam yang lalu. “Jagi-ya, hentikan!” ucap Kibum yang merasa tidurnya terganggu. Tapi Donghae sama sekali tidak mendengarkannya, dia tetap menekan-nekan hidung Kibum.

Kibum langsung menjauhkan tangan Donghae dari wajahnya dan meletakkannya di pinggangnya. “Bukankah tadi kamu bilang lelah? Kenapa sampai sekarang belum tidur?”

Donghae tersenyum dan langsung menyandarkan kepalanya ke dada bidang Kibum, “Aku tidak bisa tidur,” jawab Donghae seraya mempererat pelukkannya di pinggang Kibum.

“Aku mau tidur dengan Kihae,” ucap Donghae lagi dan melepaskan diri dari dekapan hangat Kibum. Dia turun dari tempat tidur mereka dan segera memakai piyamanya yang tergeletak di lantai.

Apa kalian ingin tahu yang mereka lakukan tadi? Saya rasa tidak perlu dijelaskan karena kalian sudah bisa tebak apa yang suami istri lakukan.

Donghae segera melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar mereka setelah selesai memakai piyamanya lagi, tapi Kibum langsung menarik tangannya membuatnya terjatuh di atas tubuh suaminya itu. “Kau mau meninggalkan suamimu sendirian eoh?” ucap Kibum dan langsung menekan kepala Donghae hingga bibir mereka berdua berpaut.

Pipi Donghae merona merah saat Kibum melepaskan pagutan bibir mereka. Kibum tersenyum dan membalik posisi mereka hingga Donghae berada di bawah tubuhnya. “Tidur di sini saja eoh?” ucapnya, dan Donghae hanya bisa mengangguk kecil dengan pipi yang semakin merona merah.

Kibum sangat suka melihat Donghae seperti itu. Setiap kali dia menciumnya Donghae pasti langsung tersipu malu. Itu membuat Kibum selalu merasa kalau mereka baru melakukan itu untuk pertama kalinya, dan itu membuat dia tidak pernah bosan melakukannya pada Donghae. “Aku ingin kamu selamanya seperti ini,” bisiknya yang membuat pipi Donghae semakin merona merah.

“Jangan menggodaku Bummie,” ucap Donghae dan langsung mendorong tubuh Kibum menjauhinya, diapun segera membalik posisi tubuhnya membelakangi Kibum karena malu.

– isfa_id –

Eomma pergi eoh? Ingat, jangan nakal,” ucap Donghae saat mengantar Kihae ke sekolahnya. Dia mencium pipi lembut Kihae dan Kihaepun membalas mencium pipi mulus eommanya.

Ne Eomma.”

Kihae langsung berlari memasuki sekolahnya dan Donghae langsung kembali masuk ke taksi menuju lokasi syuting variety show yang diikutinya. Dia memang mengantar Kihae sendiri karena Kibum sudah harus berangkat ke lokasi syuting dramanya jam empat pagi tadi. Dia bahkan tidak sempat melihat Kibum pergi karena dia masih tertidur pulas.

Eommaappa mana?” itulah yang ditanyakan Kihae tadi pagi saat tidak melihat Kibum di meja makan.

Donghae tersentak sedikit kaget saat dirasakannya handphonenya bergetar, dia tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar handphonenya. “Ne yeoboseyo,” ucapnya sesaat setelah menekan tombol hijaunya. “Ne… aku baru saja mengatar Kihae, sekarang aku sedang menuju lokasi syuting, syutingmu belum mulai?”

Nenado saranghae,” ucap Donghae sedikit pelan saat mengakhiri obrolannya bersama Kibum di telepon.

– isfa_id –

Di sekolah Kihae.

Kihae berjalan menuju ke kelasnya, saat langkah pertamanya memasuki kelasnya dia melihat beberapa temannya tertawa, dia tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Dia kembali melangkahkan kakinya menuju mejanya, tapi dia melihat Eunwon menundukkan kepalanya. “Annyeong Eunwon,” sapa Kihae riang. “Eunwon, tadi Kihae cuma diantar eomma, soalnya appa pergi kerjanya pagi, padahal Kihae kan suka kalau diantar eomma sama appa ke sekolah,” ucap Kihae panjang lebar sambil menopang wajahnya dengan kedua tangannya yang bertengger di atas meja.

Kihae menatap Eunwon yang masih menunduk, Eunwon sama sekali tidak bicara, tidak menjawab semua ucapan Kihae tadi, “Eunwon… Eunwon kenapa?”

“Hiks…”

“Eunwon kenapa?”

“Kihae… mereka mengambil pensilku, hiks…” Eunwon berucap sambil menangis dan menunjuk teman-teman mereka yang sedang tertawa di depan kelas.

“Ya sudah, Eunwon pakai pensil Kihae saja, Kihae punya banyak ko’,” ucap Kihae dan langsung memberikan sebuah pensil biru kesukaannya kepada Eunwon.

“Tapi pensil itu hadiah dari eomma.”

Kihae langsung berjalan menuju ke depan kelas, “Kangwoo, Kihae mau minta pensilnya Eunwon,” ucap Kihae ke salah satu teman sekelasnya yang tadi mengambil pensil Eunwon. Tapi tiba-tiba ada satu anak yang berbadan gemuk mendekati mereka.

“Ini…” ucap anak itu dan menyodorkan pensil Eunwon ke arah Kihae.

Gomawo…” ucap Kihae sedikit menundukkan kepalanya dan mengambil pensil yang ada di tangan anak tersebut. Tapi tiba-tiba anak itu mengambil kembali pensilnya. “Kenapa diambil lagi, itukan pensil Eunwon,” ucap Kihae sambil menatap anak berbadan gemuk itu. “Kihae mau minta.”

“Ini pensilku, Eunwon sudah memberikannya,” ucap anak gemuk itu.

“Kamu bohong, tadi Eunwon bilang kalian mengambilnya. Kihae mau minta,” ucap Kihae lagi dengan sangat lembut.

Anak gemuk itu tetap tidak mau memberikannya kepada Kihae, hingga mau tak mau Kihae menarik pensil itu paksa, tapi anak berbadan gemuk itu ikut menarik pensil tersebut, hingga mereka saling tarik-menarik.

Tapi tiba-tiba anak berbadan gemuk itu melepaskan pensil itu membuat tubuh Kihae terjatuh, “Hiks…” Kihae menangis kecil saat sikunya menyentuh lantai, “Hiks… sakit…” ucap Kihae saat dia sudah duduk dan melihat sikunya yang terluka. Tapi anak berbadan gemuk dan beberapa temannya itu malah tertawa melihat Kihae menangis.

“Kihae cengeng…” seorang temannya mengucapkan itu.

Kihae tidak menjawabnya dan langsung berjalan menuju mejanya dan Eunwon, “Eunwon ini,” ucap Kihae sambil menyodorkan pensil Eunwon.

– isfa_id –

Donghae langsung berlari setelah keluar dari taksi dan menghampiri Kihae yang sekarang sedang ada di gendongan Eunhyuk. “Eomma…” didengarnya suara Kihae yang memanggilnya dengan sangat pelan.

Eunhyuk menurunkan Kihae dari gendongannya dan segera memegang tangan Eunwon. Donghae terdiam sesaat waktu melihat tubuh malaikat kecilnya itu, di kedua siku dan lututnya terdapat luka, di tangannya juga ada beberapa goresan kecil, dia yakin itu sangat pedih. “Eomma…” kembali di dengarnya panggilan dari anaknya itu.

Donghae langsung berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dan Kihae, “Eomma… sakit…” Donghae langsung memeluk Kihae saat Kihae mengatakan itu.

“Nanti kita pulang eoh? Biar eomma yang obati,” ucap Donghae lembut sambil mencium kening Kihae.

Ne Eomma… hiks…” jawab Kihae dengan isakannya.

Mianhae Donghae, ini semua gara-gara Eunwon,” ucap Eunhyuk.

Donghae langsung mendongak melihat wajah Eunhyuk, “Mianhae Ajumma,” didengarnya Eunwon minta maaf setelah Eunhyuk memintanya. Donghae tersenyum dan langsung memeluk tubuh Eunwon.

– isfa_id –

Kami minta maaf Donghae ssi, ada murid baru di kelas Kihae, dan dia baru tahu soal Anda, dan…” nona Park menghentikan kata-katanya sejenak, “Maaf sebelumnya, tapi dia mengatakan Anda aneh, karena Anda adalah seorang namja,” nona Park mencoba menjelaskan apa yang terjadi tadi di kelas.

Donghae memeluk tubuh mungil Kihae yang sedang ada di pangkuannya sekarang. Mereka sedang ada di dalam taksi menuju apartementnya. “Eomma… sakit…” kembali Kihae mengucapkan itu saat dia merasakan sakit pada luka-lukanya.

Ne… Kihae tahan sebentar ya, sebentar lagi kita sampai rumah, nanti eomma obati,” jawab Donghae. Donghae menatap sekilas ke kaca mobil dan terlihat supir taksi yang menatapnya melalui kaca itu. Donghae tahu apa yang ada di pikiran supir taksi itu, pasti supir taksi itu berpikir ini aneh, karena dia namja tapi anaknya memanggilnya eomma. Tapi Donghae tidak mempermasalahkan itu, toh, memang sudah banyak orang yang menyebutnya seperti itu. Tapi dia yang mengandung dan melahirkan Kihae, dia eommanya.

Setelah sampai di gedung apartement mereka, Donghae langsung keluar dari taksi dan menggendong Kihae. “Eomma…” didengarnya malaikat kecilnya itu memanggilnya.

“Hm…”

“Kihae nakal.”

“Kenapa Kihae bilang begitu? Anak eomma tidak nakal,” ucap Donghae lembut.

“Tapi Eomma sedih, kata appa kalau Eomma sedih, berarti Kihae nakal.”

Donghae seketika menitikkan air matanya, diciumnya pipi lembut Kihae, “Anak eomma jangan bilang begitu eoh?” ucapnya.

Ne Eomma…”

Donghae langsung menurunkan tubuh mungil Kihae dan membiarkannya duduk di sofa saat mereka sudah masuk ke dalam apartement mereka, “Kiahe tunggu di sini eoh? Eomma ambil obat dulu,” ucap Donghae yang mendapat anggukkan dari Kihae.

Setelah mengambil kotak P3K, Donghae kembali menghampiri Kihae dan langsung mengobati lukanya, “Sakit?” tanya Donghae, karena dia sedikit takut kalau Kihae kesakitan.

Ani…” jawab Kihae. Tapi Donghae tahu Kihae bohong, dia tahu ini sangat sakit, tapi dia tersenyum mendengar jawaban anaknya itu, karena dia tahu Kihae tidak mau membuatnya sedih. Karena Kihae tidak mau disebut anak nakal.

“Kihae lapar?” tanya Donghae setelah selesai mengobati luka Kihae.

Kihae mengangguk.

Eomma masakin ramyeon mau?” tanya Donghae lagi.

Ne…” jawab Kihae riang.

– isfa_id –

Kibum masuk ke apartementnya, dilihatnya dua orang yang sangat dia cintai berada di ruang tengah sambil menonton televisi. Dia berjalan mendekatinya, dilihatnya Kihae yang duduk di pangkuan Donghae, dan Donghae memeluknya dengan sangat erat. Kibum dapat melihat luka-luka yang ada di tubuh Kihae. Dia berjalan perlahan mendekati mereka dan segera duduk di samping mereka.

Kihae langsung tertunduk saat melihat Kibum yang sudah duduk di sebelahnya, dia memeluk tangan Donghae erat.

Perlahan Kibum mengangkat wajah Kihae hingga mata mereka bertemu, Kibum menatap mata Kihae dalam, entah apa yang ingin dicarinya dari mata anaknya itu. Dia melihat kesedihan di sana.

“Tadi Kihae berantem?” tanya Kibum.

Mianhae Appa.”

Kembali Kibum menatap mata Kihae dalam, dan menatap Donghae sekilas, dapat dilihatnya di mata istrinya itu juga terdapat kesedihan. Kemudian dia kembali menatap Kihae.

“Kihae ingat apa janji Kihae sama appa?

Kihae mengangguk.

“Kalau ada yang mengejek Kihae?”

“Kihae harus diam.”

“Kalau ada yang memukul Kihae?”

“Kihae tidak boleh balas.”

“Jadi kenapa Kihae berantem?”

“Soalnya tadi dia bilang kalau eomma…”

“JANGAN JADIKAN EOMMA ALASAN!” entah kenapa tiba-tiba Kibum berteriak seperti itu kepada Kihae.

“Hiks…”

Donghae langsung memeluk tubuh Kihae erat dan menatap Kibum tajam, “Hentikan!” ucapnya ketus dan meninggalkan Kibum sambil menggendong Kihae ke dalam kamar Kihae.

– isfa_id –

Donghae terus menepuk pundak Kihae lembut yang sedang terlelap di dalam dekapannya. Perlahan dilepaskannya pelukkannya itu dan menarik selimut untuk menghangatkan tubuh mungil malaikat kecilnya itu. Diciumnya keningnya lembut dan juga pipinya.

Perlahan Donghae keluar dari kamar Kihae dan menutup pintunya pelan. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dan Kibum. Dilihatnya Kibum sedang duduk di tepi tempat tidur mereka sambil menundukkan kepalanya. Donghae segera menghampirinya, mengambil bantal dan memukul kepala Kibum berkali-kali, “Kenapa kau lakukan itu?”

Kibum hanya diam menerima semua pukulan Donghae di kepalanya, dia tahu dia pantas mendapatkan itu. Dia sudah membuat malaikat kecil mereka menangis.

Donghae terus memukuli Kibum dengan sekuat tenaga, hingga perlahan pukulannya mulai memelan dan menghilang. Dia melepaskan bantalnya dan tertunduk dengan air mata yang terus mengalir.

Kibum bangkit dan segera memeluknya tapi Donghae langsung mendorongnya, “Jangan sentuh aku!”

Kibum kembali menarik tubuh Donghae ke dalam pelukkannya dan kembali Donghae mendorong tubuh Kibum menjauhinya, tapi kali ini dia tidak berhasil karena Kibum memeluknya dengan sangat erat. Dipukulnya dada Kibum berkali-kali, “Kamu jahat, kamu membuat Kihae menangis, kamu jahat Kibum…” isak Donghae dan terus memukuli dada Kibum.

Kibum hanya diam dan semakin mempererat pelukkannya, dia mencium pucuk kepala Donghae dan kemudian kembali memeluknya erat.

– isfa_id –

Kibum memeluk tubuh Donghae yang sekarang sedang tertidur pulas, dilihatnya mata Donghae yang bengkak karena dari tadi dia menangis.

Kalau aku bukan namja, pasti Kihae tidak akan mengalami hal ini, ini semua salahku, salahku Kibum, karena aku namja…” ucapan Donghae tadi kembali berkutat di otaknya. Kibum merasa menjadi suami dan appa yang gagal saat mendengar Donghae mengatakan itu, dia sudah membuat istri dan anaknya menangis, semua ini karena dia. Dia yang sudah membuat Donghae hamil, dia yang sudah membuat Kihae terlahir di dunia ini, ini salahnya.

Mianhae… ini semua salahku,” ucap Kibum lembut dan mencium kening Donghae.

– isfa_id –

Donghae sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka pagi ini, sesekali dia menolehkan pandangannya ke arah dua orang yang dicintainya yang saling berdiam diri. Kihae sedari tadi menundukkan kepalanya, dia tidak berani melihat wajah Kibum. Dan Kibum juga hanya diam sambil memperhatikan Kihae tanpa bicara sedikitpun.

Donghae meletakkan piring di meja makan, “Eomma… Kihae mau roti,” ucap Kihae pelan dan tetap menundukkan kepalanya. Kihae berucap dengan suara yang sangat pelan, hingga tidak akan mudah mengerti apa yang sedang diucapkannya, “Eomma… Kihae mau roti,” ulangnya karena Donghae tidak bergerak sedikitpun.

Donghae hanya menatap Kihae dengan sebuah aliran air mata yang mengalir dari sudut matanya. Kibum menatapnya sekilas, “Kihae mau roti?” tanya Kibum lembut karena Donghae sama sekali tidak memberikan apa yang Kihae mau. “Appa ambilkan eoh?” lanjut Kibum dan mengambil dua potong roti tawar, “Kihae mau selai apa?” tanyanya lagi, tapi Kihae sama sekali tidak menjawab. “Oh neappa lupa, Kihae kan suka coklat, appa kasih selai coklat, eoh?” lanjutnya dan memberikan selai coklat di roti tawar yang dia siapkan untuk Kihae.

“Coklatnya yang banyak kan?” Kibum kembali mencoba bertanya tapi Kihae masih tidak mengeluarkan suaranya, dia masih menunduk. Kibum bangkit dari duduknya setelah selesai membuatkan roti untuk Kihae, dia pindah ke tempat duduk Kihae dan memangkunya. “Mau appa suapi?” tanya Kibum lagi, dan kembali Kihae hanya diam. Donghae yang melihat itu kembali menangis, dia tidak sanggup lagi melihatnya dan langsung berlari menuju kamarnya.

Kihae menolehkan sedikit pandangannya ke arah eommanya yang sudah menghilang, dan kemudian kembali menunduk. Kibumpun melakukan hal yang sama, dia melihat Donghae yang meninggalkannya dan Kihae ke dalam kamar, tapi kemudian dia kembali fokus ke Kihae. “Appa suapi eoh?” ucapnya dan memotong roti menjadi potongan-potongan kecil.

Kibum menyuapkan satu potongan roti ke mulut Kihae, tapi Kihae tidak memakannya, “Kihae makan eoh? Kalau tidak makan nanti Kihae sakit. Kalau Kihae sakit nanti eomma sedih, Kihae tidak mau kan melihat eomma sedih?” Kibum kembali mencoba membujuk Kihae dan itu berhasil. Kihae mulai mengunyak suapan pertama Kibum.

Kibum terus menyuapi Kihae hingga rotinya habis, “Kihae masih mau?” tanyanya, dan Kihae menggeleng. Kibum tersenyum, paling tidak sekarang Kihae sudah mulai menjawab pertanyaannya. “Oh, sepertinya eomma lupa membuat susu untuk Kihae,” ucap Kibum karena tidak melihat gelas susu di meja makan. “Kihae tunggu eoh? Appa buatkan susu dulu,” ucapnya lagi yang mendapatkan anggukan dari Kihae.

Kibum segera menurunkan Kihae dari pangkuannya dan segera menuju dapur untuk membuatkan susu. Setelah selesai segera diberikannya susunya ke Kihae, tapi Kihae hanya meminumnya beberapa tegukkan, “Sudah?” tanya Kibum lembut dan Kihae mengangguk pelan. Kibum memutar posisi duduk Kihae sehingga sekarang mereka berhadapan, tapi Kihae tetap menundukkan kepalanya. “Kihae marah sama appa?” Kihae menggeleng menjawab pertanyaan Kibum.

Mianhae… karena kemarin appa membentak Kihae,” ucap Kibum lembut.

Kihae mengangguk dan itu membuat Kibum tersenyum.

“Kihae maafin appa kan?” tanyanya, dan kembali Kihae mengangguk. “Kalau begitu peluk appa!

Kihae langsung memeluk tubuh Kibum erat, “Appa…” panggil Kihae pelan.

“Hm…”

“Kihae janji, Kihae tidak akan nakal lagi, Kihae tidak akan membuat eomma sedih, Kihae tidak akan membuat Appa marah.”

Kibum tersenyum mendengarkan ucapan Kihae yang terdengar sangat polos, meski ada beberapa tetes air mata yang keluar dari matanya.

– isfa_id –

Kibum memeluk tubuh Kihae yang sekarang sedang tertidur di pangkuannya dengan sangat erat, dia benar-benar merasa bersalah kepada malaikat kecilnya itu. Apa salah Kihae sehingga kemarin dia membentaknya? Kihae hanya tidak rela orang lain mengatakan hal yang tidak-tidak tentang eommanya, Donghae.

Kihae masih terlalu kecil untuk mengerti hal ini, bahkan Kibum dan Donghae pun tidak bisa sepenuhnya mengerti tentang masalah yang mereka hadapi. Mengapa Donghae bisa hamil? Padahal dia namja. Tapi Kihae yang harus menghadapi masalah yang paling besar karena memiliki seorang eomma namja, yang membuat dia sering diejek teman-temannya.

Ya, memang bukan hanya Kihae yang mengalami itu, tapi juga Eunwon. Tapi paling tidak Eunwon punya Kihae yang akan selalu membelanya saat teman-temannya mengejeknya, tapi Kihae? Eunwon terlalu lemah untuk ikut membela Kihae, Eunwon terlalu cengeng untuk ikut menjawab semua ucapan teman-temannya. Eunwon hanya bisa menangis bila itu sudah terjadi, dan yang harus menenangkannya adalah Kihae.

Kibum menatap wajah polos Kihae yang sudah benar-benar tertidur pulas, “Mianhae jagi-ya, semua gara-gara appa…” ucapnya pelan dan mencium pipi Kihae. Dia merasakan sedikit rasa panas di wajah malaikat kecilnya itu, “Kihae demam, eoh?” ucapnya lagi dengan lebih pelan. “Kihae tidak apa-apa kan? Jangan sakit eoh? Nanti kalau Kihae bangun kita minum obat, Kihae pasti sembuh,” ucapnya lagi untuk menenangkan perasaannya sendiri.

Kibum menggoyang-goyangkan badannya sendiri ke kiri dan ke kanan untuk membuat Kihae lebih terlelap dan sesekali dia mendendangkan sebuah lagu. “Kita pindah ke kamar, eoh?” Kibum sedari tadi bicara sendiri, ya, karena Kihae tidak akan bisa mendengarnya karena dia sudah tertidur dengan sangat pulas sejak mendapatkan pelukkan hangat dari Kibum beberapa jam lalu.

Kibum beranjak dari sofa ruang tengah apartement mereka dan berjalan menuju kamar Kihae. Dibaringkannya tubuh mungil anaknya itu dan menarik selimutnya. “Anak appa tidur sendiri di sini eoh? Appa mau lihat eomma dulu,” ucap Kibum lembut dan mencium kening Kihae.

Perlahan Kibum melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kihae, ditutupnya pintunya perlahan dan dia berjalan menuju kamarnya dan Donghae. Kibum tersenyum kecil melihat Donghae yang sedang duduk di tempat tidur mereka sambil bersandar di dinding. Donghae menekuk kedua kakinya dan memeluknya, dia juga menenggelamkan kepalanya di kedua kakinya itu.

Kibum mendekati Donghae, “Jagi-ya,” panggilnya lembut, tapi Donghae tidak menjawab. Kibum kembali melangkahkan kaki mendekati Donghae dan segera duduk di sebelahnya. Kibum berniat menarik tubuh Donghae dan membiarkannya bersandar di pundaknya, tapi saat dia melakukan itu, tiba-tiba tubuh Donghae jatuh.

Jagi-ya…” panggil Kibum panik, segera diubahnya posisi Donghae dan terlihat wajah Donghae yang sangat pucat. Kibum menyentuh wajah Donghae dengan kedua tangannya, panas, sangat panas. Dilihatnya keringat yang sudah membasahi dahi Donghae, “Jagi-ya kau kenapa?” ujarnya benar-benar panik.

Kibum segera membaringkan Donghae dan menyelimutinya, “Aku mohon jangan seperti ini, jangan sakit,” ucapnya pelan. Kibum sedikit menyingkirkan rambut yang menutupi dahi Donghae dan menciumnya. Perlahan dia keluar dari kamar dan menuju dapur untuk menyiapkan kompres. Setelah selesai dia kembali ke kamar dan mendapati tubuh Donghae yang bergerak tidak tenang. Dia mengigau.

“Kihae… Kihae…” didengarnya Donghae yang terus memanggil nama malaikat kecil mereka dengan suara yang sangat pelan. Tiba-tiba air mata Kibum mengalir, segera dia berlari kecil mendekati Donghae dan memasangkan kompresnya. “Kihae… Kihae… Kihae…” kembali didengarnya Donghae menyebut nama Kihae. “Kihae…”

Kibum segera membelai wajah Donghae, “Jagi-ya… jangan seperti ini, Kihae tidak apa-apa, aku mohon jangan seperti ini, jangan buat aku semakin merasa bersalah kepada kalian, aku mohon… jangan seperti ini.”

Perlahan Donghae mulai kembali tenang, dan itu membuat Kibum sedikit lega. Kembali dibelainya wajah Donghae dan mengganti kompresnya. Dikecupnya kedua pipi Donghae dan menarik selimut untuk lebih menutupi tubuh Donghae agar dia benar-benar merasa hangat.

Kibum beranjak untuk kembali menuju ke dapur berniat menyiapkan sesuatu untuk Donghae saat Donghae nanti bangun, tapi tiba-tiba tangannya digenggam Donghae dengan sangat erat. Kibum menoleh tapi dilihatnya Donghae masih terlelap, dia tersenyum, mungkin Donghae sedang bermimpi sekarang, itu yang dia pikirkan.

Akhirnya Kibum memutuskan untuk menemani Donghae, dia berbaring di samping Donghae dan memeluknya erat. “Saranghaejeongmal saranghae jagi-ya…” ucap Kibum dan mengecup pipi Donghae. “Mianhae… padahal aku berjanji akan menjaga kalian dengan baik, tapi aku membuat kalian seperti ini, mianhae…”

Kibum terus berbaring dan terus memeluk Donghae, dapat dirasakannya tangan Donghae yang terus menggenggam sebelah tangannya, sangat erat. “Kau mimpi apa?” Kibum benar-benar khawatir melihat Donghae yang seperti itu. Perlahan dia bangkit tanpa melepaskan tangannya dari genggaman Donghae. Dia kembali mengganti kompres Donghae, ini sedikit susah karena dia melakukannya dengan satu tangan.

Perlahan dirasakannya genggaman Donghae mulai melemah, dan akhirnya dia bisa melepaskan tangannya. Kibum tersenyum dan dilihatnya wajah Donghae yang sudah mulai kembali tenang, “Tunggu di sini eoh? Aku tidak akan ke mana-mana, aku mau menyiapkan bubur untukmu dan Kihae,” ucap Kibum dan mencium kening Donghae sebelum dia kembali memasangkan kompresnya.

Kibum berjalan ke dapur setelah kembali benar-benar memastikan Donghae sudah tenang. Dia menyiapkan semua bahan untuk membuat bubur dan mulai memasak.

Kibum menuju ruang tengah dan mengambil handphonenya yang ada di atas meja sambil membiarkan buburnya masak. Dia menekan tombol hijau untuk menghubungi managernya.

Gomawoyo Hyung…” ucap Kibum saat mengakhiri teleponnya.

Tadi pagi sebenarnya dia sudah meminta managernya itu agar memberikan dia libur karena dia harus menemani Kihae begitu pula dengan Donghae, karena itu hari ini mereka semua ada di rumah. Dan Kihae memang sengaja tidak masuk sekolah karena Kibum mau luka Kihae benar-benar sembuh dulu sebelum dia sekolah lagi, meskipun tadi pagi Kihae sempat ngotot ke Donghae kalau dia mau sekolah.

Tapi Kibum kembali menghubungi managernya itu untuk meminta libur lebih lama setelah melihat keadaan Donghae, sepertinya dia benar-benar harus menjaga Donghae dan Kihae beberapa hari ini, untungnya managernya bersedia memberikannya izin.

Kibum kembali ke dapur dan melihat buburnya sudah masak. Dia mematikan kompor dan segera kembali ke kamarnya menemui Donghae yang masih tertidur dengan pulas. Dia tersenyum dan kembali berbaring di samping Donghae, “Buburnya sudah masak, nanti kamu makan eoh?” ucapnya pelan dan kembali mencium pipi Donghae. Dia bangkit lagi setelah ingat harus mengganti kompres Donghae. Setelah selesai kembali dia berbaring dan memeluk Donghae.

Kibum memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, meski pada akhirnya dia sama sekali tidak tidur. Dia hanya berbaring, memejamkan mata dan memeluk tubuh Donghae dengan sangat erat. Dia terus seperti itu, paling tidak dia merasa nyaman berbaring di samping istrinya, dan dia harap dia juga bisa memberikan kenyamanan untuk Donghae.

Kibum membuka matanya dan memandangi wajah Donghae yang masih sangat pucat, dibelainya perlahan wajah mulus Donghae. Dia tersenyum hingga tiba-tiba…

EOMMAAPPA…”

Kibum segera berlari menuju kamar Kihae setelah mendengar teriakkan Kihae tadi, dilihatnya tubuh Kihae bergerak sambil terus memanggil eomma dan appanya. Kibum mendekatinya dan segera mengangkat tubuh Kihae, “Jagi-ya, kamu kenapa, kenapa tiba-tiba badanmu panas seperti ini, tadi tidak apa-apa?” ucap Kibum benar-benar panik. Tadi dia memang merasakan tubuh Kihae sedikit panas, tapi sekarang, tubuhnya benar-benar panas.

EOMMAAPPA…” kembali Kihae berteriak dalam pelukkan Kibum.

Jagi-ya, jangan sakit, eomma juga sedang sakit sekarang, kamu jangan sakit eoh? Appa bingung,” Kibum berusaha menenangkan Kihae dengan memeluknya lebih erat lagi, diciumnya kedua pipi Kihae dan kembali memeluknya, “Appa mohon, jangan sakit.”

Appa…” Kihae kembali bersuara, tapi sekarang dengan sangat pelan.

Neappa di sini, Kihae jangan sakit eoh?”

Eomma…”

“Kihae… appa mohon.”

Appa…”

Kibum memeluk Kihae dengan sangat erat, dia bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang? Tubuh Kihae benar-benar panas, dan Donghae, Donghae juga begitu? Kibum benar-benar bingung, dia benar-benar tidak tahu harus apa, “Handphone,” ucapnya pelan dan segera keluar kamar Kihae untuk mengambil handphonenya yang tadi kembali diletakkannya di meja ruang tengah setelah menghubungi managernya. Kibum sama sekali tidak melepaskan Kihae, dia keluar dari kamar Kihae sambil menggendongnya.

Kibum menekan tombol gulirnya untuk menghubungi orang tuanya, tapi entah kenapa tiba-tiba Kibum tidak bisa melihat nama orang tuanya di dalam kontaknya, “Ahhh…” dia berteriak prustasi. “Mana nama eomma?” Kibum benar-benar kesal, padahal dia sudah berkali-kali menekan tombol gulirnya.

EommaAppa…” Kihae kembali mengigau.

Ne, Kihae… appa di sini,” ucap Kibum lembut sambil terus menekan tombol gulirnya, “Eomma, eomma, eomma, ahhh… mana nama eomma?” kesalnya. “Huh…” Kibum menarik nafas lega saat membaca nama orang tuanya di kontaknya, dia segera menekan tombol hijaunya, tapi belum sempat teleponnya dijawab oleh sang eomma, Kibum mendengar Donghae yang berteriak dari dalam kamar.

“KIHAE…”

Kibum melepaskan handphonenya yang membuat handphonenya jatuh terhempas ke lantai, tapi dia tidak perduli. Dia segera memperbaiki posisi Kihae dalam gendongannya dan berlari menuju kamarnya dan Donghae. Dilihatnya Donghae gelisah sambil terus meneriakkan nama Kihae.

“KIHAE… KIHAE…”

“Ada apa dengan kalian berdua?”

EommaAppa…”

“Kihae…”

Kihae dan Donghae terus mengigau.

T.B.C

Advertisements

20 thoughts on “Our Little Angel [Little Kihae] – 3

  1. kenapa episode ini sngat menyedihkan… aku ampe nangis,,huhu,, hae eomma(?) and kihae jangan nangis eooh.. kasihan bumppa,,

  2. yah! Unnie kenapa chap ini isinya nangis nangisan seh XC, kan sedih bacanya uks XC, apalg pas kibum ngebentak kihae XC, kesian kihae nya iks,
    Kenapa mereka sakit sama2, aahh unnie kibum panik tuh, kesian kan XC

  3. Sbnrnya kihae n donghae itu knpa????
    Bisa sakitnya brngan bgtu, apa mngkin kontak batin antara eomma n anaknya ya????

    Part ini sedih deh smpe berlinang air mata nih T_T

  4. bapak sih keburu emosi, jadi beginikan # tampol kibum
    kalau udah nangis semua begini, bapak sendirikan yang repot *ketularan mama dedeh*
    huwa…. bapak!!!! tanggung jawab, eomma sama anaknya menderita noh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s