Posted in KiHae Couple, Super Junior

Our Little Angel [Little Kihae] – 21


Tittle : Our Little Angel

Pairing : KiHae

Chap 21 update ^^

Happy reading ^^

– isfa_id –

Sebuah naskah yang terletak di hadapan Kibum langsung menarik perhatiannya. Segera Kibum mengambil naskah itu dan membalik tiap lembarnya, membacanya dengan seksama, hingga akhirnya dia mendengar suara pintu yang terbuka dan menampilkan sosok seorang namja paruh baya.

Kibum tersentak saat menatap seseorang yang masuk ke sana hingga dia langsung berdiri, “Tuan? Anda?”

.

.

Kibum duduk di sebuah bangku kayu di taman kecil kantor penulis Park, ya… penulis naskah dramanya. Ditatapnya naskah yang sedari tadi memang sudah berada di tangannya sambil sesekali memberikan kecupan lembut di pucuk kepala Kihae yang memang sedang duduk di sebelahnya dengan kepala yang bersender di pundaknya.

Kihae terlihat sedang asyik menikmati eskrim coklatnya sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung karena keadaan kursi yang memang cukup tinggi untuk anak seusianya.

“Bagaimana?”

“Ye?” Kibum terperanjat saat tiba-tiba dia mendengar seseorang bertanya padanya dan saat dia menolehkan pandangannya ternyata tuan Park sudah berada di sebelahnya sambil menatap naskah yang ada di tangan Kibum, membuatnya mengerti bila tuan Park menanyakan soal naskah barunya.

“Oh… ini jauh lebih baik,” jawab Kibum, karena dia memang merasa naskahnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

“Baguslah jika begitu, aku ingin membuat drama ini menjadi drama yang terbaik karena ini adalah drama terakhirku.”

Kibum sedikit tercengang mendengar ucapan tuan Park, apa maksudnya dengan drama terakhir, tapi Kibum tidak berani untuk mempertanyakan itu, karena sekarang yang Kibum lihat adalah sebuah tatapan kosong dari mata tuan Park yang sedang menatap lurus ke depan.

Dan kini tatapan Kibum beralih menatap sebuah buku yang ada di genggaman tuan Park, sebuah buku bersampul hitam polos, terlihat seperti sebuah agenda. Tapi kemudian tatapannya teralihkan kepada malaikat kecilnya saat Kihae sedikit bergerak untuk lebih menyamankan posisi duduknya dan itu kembali membuat Kibum memberikan sebuah kecupan di pucuk kepala sang malaikat kecilnya.

“Putramu?”

“Iya,” jawab Kibum sambil menatap mata tuan Park yang sedang memperhatikan Kihae. “Dia mirip eommanya.”

“Kihae mirip Appa,” ucap Kihae sambil mendongak menatap wajah Kibum saat Appanya itu mengatakan bahwa dia mirip dengan Eommanya, dan Kibum hanya tersenyum mendengarnya begitu pula dengan tuan Park yang sekarang mengusap kepala Kihae.

Keheningan tercipta saat tuan Park kembali menatap lurus ke depan dengan tatapan kosongnya dan itu membuat Kibum kembali mengingat kata-kata tuan Park beberapa detik yang lalu tentang drama terakhirnya ini.

“Maaf,” ucap Kibum memulai pembicaraan, “Kalau saya boleh tahu, mengapa Anda mengatakan ini adalah drama terakhir Anda?” tanyanya sopan.

Sebuah senyuman getir tergambar di bibir tuan Park saat mendengar pertanyaan Kibum, dan itu membuat Kibum sedikit menyesal, “Maaf,” sesalnya.

Kembali keheningan tercipta setelah pernyataan sesal Kibum terlontar, tapi kemudian jemari tuan Park tergerak membuka buku yang sedari tadi digenggamnya, “Alzheimer,” gumam tuan Park.

“Appa.”

“Hm?” Kibum sedikit terkejut saat Kihae memanggilnya, karena pandangan Kibum tertuju pada wajah tuan Park saat mendengar tuan Park menggumamkan sesuatu.

“Habis,” jawab Kihae menunjukkan stik eskrimnya.

“Buang ke sana,” ucap Kibum sambil menunjuk sebuah kotak sampah berwarna kuning yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada sekarang.

Kihae yang mendengar perintah Kibum langsung melompat turun dari bangku kemudian berlari kecil menuju kotak sampah dan membuang stik eskrimnya ke sana. Setelah selesai dia segera kembali mendekati Kibum dan melompat untuk naik ke atas bangku dengan sedikit bantuan Kibum yang mengangkat tubuhnya.

Diam adalah yang dilakukan Kihae sekarang karena dia mendengar Kibum dan tuan Park sedang berbicara.

“Tiga tahun, paling tidak selama itu aku menyadari tentang penyakit yang menderitaku. Dan sekarang perlahan ingatanku semakin berkurang, bahkan mungkin bisa dibilang mulai menghilang. Hanya kenangan-kenangan masa lalu yang melekat di otakku, sedangkan apa yang aku lalui sekarang akan menghilang saat aku terbangun esok hari.”

Kibum yang mendengar semua penjelasan tuan Park hanya bisa diam seperti apa yang sedang Kihae lakukan sekarang.

“Mungkin kau bertanya bagaimana aku bisa sadar tentang penyakitku,” ucap tuan Park dan Kibum hanya bisa memberikan anggukan kecil karena memang itu yang ada di pikirannya.

“Aku hidup dalam duniaku di mana aku masih berusia dua puluh lima tahun, masih sangat muda, baru saja menyelesaikan kuliahku dan masih sangat bersemangat untuk mencapai cita-citaku untuk menjadi penulis besar. Tapi aku bingung, bukankah aku tinggal sendiri di kota ini karena memang orang tuaku ada di luar kota. Tapi yang aku lihat aku bersama tiga orang lainnya, yang akhirnya aku ketahui adalah istri dan dua orang anakku, dan entah sudah keberapa kalinya aku merasa seperti itu, melupakan mereka, karena memang aku sama sekali tidak dapat mengingatnya.”

“Hingga akhirnya aku tidak begitu mengetahui apa yang membuatku akhirnya berani bertanya kepada mereka setelah sekian lama aku lupa akan mereka semua, dan saat itulah dia, istriku, menjelaskan apa yang terjadi padaku. Aku tidak percaya saat pertama kali mendengarnya, hingga akhirnya aku sadar, memang ada yang salah denganku. Aku merasa bentuk rumahku berbeda, tetangga-tetanggaku berbeda, semuanya berbeda, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menemui temanku yang ternyata saat itu sudah menjadi seorang dokter, dan dia menjelaskan semuanya padaku.”

“Kau bertanya bagaimana sekarang aku bisa mengingat semuanya?”

Kibum mengangguk mendengar pertanyaan itu.

“Ini, berkat ini,” ucap tuan Park menunjukkan buku yang sedari tadi ada di genggamannya kepada Kibum. “Semuanya ada di sini, aku mencatat semuanya, hingga akhirnya setiap pagi saat aku bangun tidur aku bisa mengingat semua, apa yang aku lakukan, siapa saja yang aku temui, termaksud putramu hari ini, Kihae,” lanjutnya sambil menunjukkan sebuah catatan di mana nama Kihae tertera di sana. Entah kapan tuan Park menulis itu, Kibum sama sekali tidak menyadarinya, mungkin karena dia terlalu fokus mendengarkan semua cerita tuan Park.

“Itu berharga.”

“Sangat,” ucap tuan Park setelah mendengar dua kata yang Kibum lontarkan.

Keheningan sedikit menyelimuti mereka, hingga akhirnya tuan Park kembali melanjutkan ceritanya sambil menatap Kihae sejenak yang ternyata sekarang tengah tertidur di dalam pelukkan Kibum.

“Tapi aku merasa sekarang daya ingatku semakin menurun, aku semakin sering bingung saat melakukan sesuatu dan itu membuat kegiatan menulisku terganggu, karena itu aku memutuskan drama ini adalah drama terakhirku, karena aku tidak yakin aku masih bisa menulis atau tidak. Dan karena aku ingin drama ini menjadi drama terbaikku, maka dari itu aku memilihmu untuk jadi pemeran utamanya.”

Kibum terenyuh, jadi ini maksud sutradaranya saat itu kenapa ‘mereka’ mempertahankannya untuk menjadi pemeran di drama ini, ternyata itu adalah permintaan khusus dari tuan Park selaku penulis naskahnya. “Mengapa saya?” tanya Kibum masih dengan cara bicara yang formal.

“Karena anakku, dia sangat mengidolakanmu,” jawab tuan Park, “Paling tidak hingga sepuluh tahun yang lalu,” lanjutnya yang membuat sebuah kekecewaan sedikit tergambar di wajah Kibum, karena dia pikir anak tuan Park sudah memiliki idola baru sekarang, dan itu bukan dia.

“Iya, sepuluh tahun yang lalu, paling tidak sampai saat itu aku tahu kalau dia sangat menyukaimu, dan kadang itu membuatku iri, karena anakku lebih mengidolakanmu daripada aku ayahnya sendiri. Dia bahkan mengidolakanmu hingga dia menghembuskan nafas terakhirnya,” ucap tuan Park yang membuat Kibum hanya bisa menatapnya dengan diam karena ada hal yang belum dia mengerti dengan maksud namja separuh baya di sampignnya ini.
Namja itu tersenyum, “Kelainan jantung, dia menderita kelainan jantung sejak dia lahir, tapi keajaiban masih terjadi hingga dia masih bisa bertahan hingga dia berusia lima belas tahun,” lanjut tuan Park mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya sedang dia bicarakan. “Dia pernah menjalani transplantasi jantung, tapi ternyata tubuhnya menolak dengan jantung baru yang dia terima, hingga akhirnya dia harus meninggal tepat di hari ulang tahunnya yang ke lima belas.”
Tampak sebuah kesedihan di wajah namja tersebut dan Kibum dapat dengan sangat mengerti akan itu.
“Tapi aku yakin, itu karena Tuhan mencintai anakku.”

Kembali keheningan tercipta.

“Apa kau tahu? Itu membuatku merasa sangat terluka saat mengingatnya, karena ternyata aku juga melupakan hal itu, aku lupa bagaimana wajahnya, senyumnya, apa kata terakhir yang dia ucapkan, bagaimana rasanya saat aku memeluknya, menciumnya, aku melupakan semuanya.”

Aliran bening keluar dari sudut mata tuan Park membuat Kibum semakin terenyuh. Dia sangat tidak menyangka akan mendengar hal ini secara langsung. Itu membuat Kibum teringat dengan kata-kata tuan Park saat mereka pertama kali bertemu di lokasi syuting.

“Semua orang mempunyai masalah yang harus dia hadapi di dunia ini, termasuk kamu, bahkan aku pun begitu. Managermu, sutradara, dan semua kru yang ada di sini juga mempunyai masalahnya masing-masing. Tapi kamu harus tetap menjalankan pekerjaanmu dengan professional, jangan membuat masalah pribadimu menghalangimu, aku yakin semuanya akan baik-baik saja.”

Dan sekarang Kibum sangat mengerti dengan semua apa yang tuan Park katakan, apapun yang terjadi pada diri kita, jangan membuat itu menjadi sebuah penghalang, karena semuanya akan baik-baik saja bila kita melakukannya dengan ikhlas, dan Kibum sudah membuktikan itu pada diri tuan Park. Penyakitnya tidak menghalanginya untuk terus mengeluarkan karya-karya yang hebat, bahkan sekarang dapat memberikan motivasi tersendiri untuk Kibum agar bisa melakukan hal yang lebih baik dari apa yang sudah dia lakukan selama ini.

“Aku harus kembali,” ucap tuan Park seraya menunjuk gedung kantornya, “Ada yang harus aku lakukan sebelum aku kembali melupakannya,” lanjutnya yang mendapat anggukan dari Kibum.

“Maaf, kalau boleh saya berbicara, bukankah sayang bila Anda melepaskan dunia yang sangat Anda cintai,” ucap Kibum sebelum tuan Park benar-benar pergi.

“Aku tidak akan pernah berhenti menulis sampai kapanpun,” jawab tuan Park, tersenyum, dan pergi untuk kembali memasuki gedung kantornya.

– isfa_id –

“Eomma.”

Donghae mendongakkan kepalanya, dan terlihatlah di matanya malaikat kecilnya dalam gendongan sang ‘suami’ yang berdiri tanpa ekspresi di hadapannya sekarang.

Mereka berada di rumah, Kibum dan Kihae baru saja pulang dan Donghae tidak menyadari kedatangan mereka mungkin dikarenakan terlalu fokus dengan layar laptopnya. Donghae memang lebih dulu pulang dibanding Kibum dan Kihae.

“Anak Eomma sudah pulang,” ucap Donghae seraya bangkit dan mengambil alih Kihae dari gendongan Kibum.

“Ne, tadi Appa ajak Kihae jalan-jalan ke taman bermain Eomma, Kihae naik roller coaster,” jelas Kihae menjawab pertanyaan Donghae, sementara Kibum langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.

“Eomma, tadi Kihae beli balon nemo buat Eomma, tapi balonnya terbang,” Kihae terlihat menyesal saat mengatakan hal itu, padahal dia sudah sangat senang saat dia melihat sebuah balon nemo besar dan yang ada di pikirannya waktu itu adalah Donghae hingga dia meminta Kibum untuk membelikan balon tersebut. Tapi saat perjalanan pulang kaki Kihae sedikit tersandung membuat dia terjatuh hingga balonnya terlepas dan terbang dengan sangat tinggi.

Donghae tersenyum, tapi untuk sesaat perhatiannya teralih pada Kibum yang baru saja keluar dari kamar mandi dan menuju kamar mereka. Diusapnya kepala Kihae dengan lembut dan memberikan sebuah kecupan di sana, “Tidak apa-apa,” ucap Donghae karena memperhatikan wajah Kihae yang masih tertetuk karena rasa sesalnya.

Mendengar Donghae berbicara seperti itu membuat Kihae tersenyum ceria lagi, karena ternyata sang Eomma tidak kecewa padanya, lagi pula itu hanya balon kan? Meskipun bila diingat Donghae bahkan sempat membuat Kibum marah dengan ‘kasus balon’ di taman bermain beberapa waktu yang lalu.

Donghae segera membawa Kihae ke kamar mandi dan membersihkan tubuh malaikat kecilnya itu dengan air hangat yang sepertinya memang sudah Kibum siapkan karena saat mereka masuk ke sana bathtubnya sudah berisi air hangat. Diusapnya dengan lembut setiap lekuk tubuh Kihae memberikan kenyamanan tersendiri untuk malaikat kecilnya itu belum lagi mengingat dia yang merasa sedikit lelah setelah seharian ini ‘bermain’.

Terlihat di mata Donghae mata Kihae yang mengerjap menandakan bahwa dia sudah mengantuk. Segera diangkatnya tubuh Kihae yang sebelumnya sudah dibalutnya dengan handuk putih yang tergantung di kamar mandi dan kemudian segera menggendongnya ke kamar, memakaikannya piyama dan memberikan sebuah kecupan pengantar tidur.

Langkah Donghae terhenti sejenak sebelum benar-benar keluar dari kamar Kihae dan kembali memperhatikan Kihae yang sudah benar-benar terlelap. Ditutupnya pintu kamar malaikat kecilnya itu dengan perlahan dan kemudian menuju dapur di mana Kibum berada sekarang, menyiapkan secangkir minuman hangat.

“Aku merindukanmu,” gumam Donghae sedikit teredam di pundak Kibum karena sekarang dia tengah memeluk suaminya itu dari belakang.

Kibum diam, sama sekali tidak menjawab pernyataan Donghae, sementara Donghae tersenyum karena sebenarnya dia sedang bermaksud menggoda Kibum dengan pernyataan rindunya. Mereka hanya tidak bertemu beberapa jam saja hari ini meskipun memang kenyatannya Donghae merindukannya.

Suara gelas yang bergesekkan dengan meja menggema di telinga Donghae dan Kibumlah pelakunya setelah menenggak habis minuman hangatnya. “Aku mengantuk,” ujar Kibum melepaskan pelukkan tangan Donghae di pinggangnya dan kemudian meninggalkan Donghae ke kamar mereka setelah sebelumnya melirik ke arah laptop Donghae yang ada di meja ruang tengah yang menampakkan sebuah gambar di mana Donghae tengah menggendong seorang bayi mungil yang sedang tersenyum.

“Marah?”

Pertanyaan itu sukses membuat langkah Kibum terhenti tepat di depan pintu kamar mereka. “Lihat aku!” perintah Donghae yang ternyata sudah ada di belakangnya dan menarik tangannya hingga membuat tubuhnya berputar menghadap sang ‘istri’ tercinta. “Tadi aku hanya…”

“Aku paling tidak suka kau abaikan seperti itu!” potong Kibum sebelum Donghae menyelesaikan semua kata-katanya. “Aku tidak masalah bila kau tidak memperdulikanku karena Kihae, atau kau tidak memperhatikanku karena…” tangan Kibum terulur mengusap perut Donghae yang sudah membuncit mengingat kehamilannya yang sudah akan menginjak usia lima bulan, “…dia,” lanjutnya. “Tapi kau mengacuhkanku karena anak orang lain!” kali ini terdengar sebuah penekanan di tiap kata yang Kibum ucapkan.

“Hiks.”

“Heh?” Kibum terdiam saat tiba-tiba mendengar suara isakan, dilihatnya Donghae yang menunduk di hadapannya dengan pundaknya yang terlihat naik turun menandakan bahwa ‘istri’nya itu tengah menangis.

“Hiks… hiks…”

“Hah?” Kibum menarik nafas. Kadang dia tidak percaya dengan kelakuan Donghae yang satu ini, setiap kali dia marah, pasti Donghae akan menangis. Kibum sangat mengerti dengan ‘trik’ Donghae ini, karena itulah yang akan dilakukan Donghae agar kemarahannya berhenti. ‘Sudahlah,’ batin Kibum dan kemudian langsung menarik tubuh Donghae ke dalam pelukkannya. Percuma bila dia meneruskan ‘aksi’ marahnya, karena nanti Donghae akan menangis dengan lebih keras lagi, dan itu sudah pasti akan membuatnya luluh juga.

Diusapnya kepala dan punggung Donghae dengan sangat lembut seraya berbisik “Maaf” ke telinga ‘istri’nya itu.

Suara cekikikan tiba-tiba terdengar di telinga Kibum, siapa lagi pelakunya kalau bukan Donghae, baiklah… Kibum selalu kalah untuk hal ini.

T.B.C

Sebenarnya chap ini dibuat tergabung dengan chap 20, tapi saya pikir terlalu panjang, jadi dibagi dua. Tapi? Setelah dibagi malah menjadi sangat pendek, xDDD.

Advertisements

20 thoughts on “Our Little Angel [Little Kihae] – 21

  1. dipart ini paling suka ‘sebenarnya chap ini dibuat tergabung dgn chap 20 , tapi saya pikir terlalu panjang jadi dibagi 2 . tapi? stlah dibagi malah menjadi sangat pendek’ hahaha

    sblum nya maaf ya eonn ^^v bukan nya mau nagih ff laen tapi cuma mau ngasi tau kalo aku masih nunggu lanjutan ‘TWINS’ ‘im a ghost’ sama ‘memories’ lho eonniee ^^ *dijitak*

  2. wah aku ngikutin ff ini setengah-setengah -_- banyak yg ketinggalannya ><
    abis yg aku ikutin itu tingkah laku kihaenya, lucu bgt sumpeehhh *dibakar eonni*
    banyakin kihae nya aja eonni *ngarang* ._.v

  3. jiiiaahhh… Kihae udah gede digendong terus sama ortunya -___- tapi bagusnya dia gak manja hehehhehe yang manja mah masih eomma-nya *death glare Hae* O_o
    oh ya… ff lain diupdate juga dong kangen yang I’m a ghost sama Memories T_T

  4. huhhh….huhh…huuhhh… *ngos-ngosan baca ini ff
    ringan, sederhana, konflik asik #eh
    tiga hari berturut-turut nggak berhenti baca ff ini dan baru bisa comment pas ampe disini

    nggak mau ngereview, maunya dilanjutin ampe beres *bawa golok #maksa

    oya, kenalin dulu aku kkbman di AFF 😀

  5. iya chap ini pendek unn /plak, kkk baru baca sekarng ahahahahahahha

    sedih baca partnya tuan Park, aplg yg anaknya udah pergi itu ;;w;;. alzheimer itu penyakit yang menyeramkan, melupakan kenangan dengan orang2 ish, seperti masuk di time slip XC,

    KiHae, akur :’3, kkk donghae caranya ampuh ahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s