Posted in KiHae Couple

Black Dragon vs Red Tiger – 4


Tittle: Black Dragon vs Red Tiger

Cast:

– Black Dragon: Siwon, Donghae, Kyuhyun, Leeteuk, Kangin, Shindong, Henry, Zhoumi
– Red Tiger: Kibum, Eunhyuk, Sungmin, Heechul, Hangeng, Yesung, Ryeowook

Terinspirasi dari MV Blok-B – Nanrina.

Entahlah, saat melihat MV itu jadi terpikir untuk membuat FF ini, walaupun ceritanya tidak sepenuhnya mirip dengan MV tersebut.

Berharap kalian suka.

Happy reading ^^

– isfa_id –

‘Slash…’

Terpaan angin malam menyentuh setiap benda yang dilaluinya. Beberapa daun berguguran dari tangkainya, melayang dan jatuh ke jalan yang terlihat hitam pekat karena gelapnya malam. Dingin adalah apa yang kita rasakan bila tersentuh angin tersebut, dan mungkin inilah alasan mengapa tak ada seorangpun yang masih berada di luar rumah bila jam telah menunjukkan tengah malam, bahkan sekarang sudah dapat dikatakan pagi hari.

Jam satu malam, Kibum berlari menyusuri gelapnya malam tanpa memikirkan betapa tidak baiknya angin malam yang menyentuh tubuhnya. “Hhh… hhh… hhh…” desahan nafasnya dapat terdengar dengan jelas, mengingat bahkan tak ada kegiatan sedikitpun di sekitarnya.

‘Tolong cari Donghae.’

Sebuah pesan yang Kibum terima dari Leeteuk membuatnya bergegas meraih jaket hitam yang entah milik siapa dan segera berlari keluar dari kediamannya tanpa menghiraukan semua orang yang bertanya akan ke mana dia pergi selarut ini.

Hingga di sinilah dia berada sekarang. Di sebuah jalan lapang dengan lampu-lampu jalan yang berjejer rapi memberikan penerangan akan gelap yang diciptakan oleh sang malam.

“Hhh…” desahan nafas Kibum kembali terdengar. Terlihat tangannya yang mengepal, mencoba menahan sedikit rasa dingin yang menerpanya. “Hhh…” kembali dan kembali desahan tersebut terdengar dengan Kibum yang merogoh kantong celananya guna mengambil handphonenya. Diperhatikannya jam yang tertera di sana, menunjukkan bahwa sudah hampir dua jam dia berlari ke sana kemari mencoba mencari tahu di mana Donghaenya berada.

Kibum membuka kontaknya setelah menarik nafas sedikit panjang guna mengatur kembali nafasnya, “Agghhh…” dia kesal saat ternyata Leeteuk, orang yang berusaha dia hubungi sama sekali tidak mengaktifkan nomornya. Mungkin sudah lebih dari lima puluh kali dia mencoba menghubungi Leeteuk mulai dari dia menerima pesan tersebut, tapi sampai sekarang Leeteuk tidak mengaktifkan nomornya kembali.

– isfa_id –

Henry berdiri di depan kamar Leeteuk entah sudah berapa lama, tangannya sedari tadi memegang knop pintu tapi tak pernah tergerak untuk membukanya. Sesaat dia menarik nafas panjang dan kemudian memutar knop pintu tersebut, hingga kini dia dapat melihat Leeteuk yang tengah terbaring di tempat tidurnya, dengan selimut tebal yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.

“Hyung…” Henry memanggil Leeteuk pelan, tapi tak ada jawaban apapun dari Leeteuk. ‘Apa sudah tidur?’ batinnya dengan sedikit memiringkan kepalanya guna menatap wajah Leeteuk yang memang berbaring membelakanginya.

Henry semakin berjalan mendekat dan kemudian menaiki tempat tidur tersebut dengan sebelumnya mengangkat selimut tebal Leeteuk agar tubuhnya juga bisa mendapatkan kehangatan dari benda tersebut. Dia menarik nafas menghirup aroma tubuh Leeteuk yang menurutnya sangat hangat dan kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Leeteuk.

“Mengapa belum tidur? Siwon akan marah.”

Henry terkesiap karena ternyata Leeteuk belum tidur seperti apa yang dia pikirkan.

“Aku tidak bisa tidur, aku boleh tidur di sini bersama Hyung kan?”

Leeteuk bergerak, mengubah posisinya menjadi telentang. Dia menatap langit-langit kamarnya yang kemudian diikuti oleh Henry yang juga melakukan hal yang sama dengannya.

Henry menyandarkan kepalanya pada pundak Leeteuk dan dalam hitungan detik diapun langsung tertidur. Dan Leeteuk? Dia tersenyum dengan sedikit menolehkan kepalanya guna menatap wajah Henry yang tengah tertidur sekarang. Kadang ingin rasanya Leeteuk mengabaikan Henry, mengingat Henry adalah adik dari Choi Siwon, orang yang dia benci, terlebih dengan apa yang telah Siwon lakukan pada Donghae, adiknya.

Tapi entah itu tidak bisa dia lakukan, lagipula, Henry tak salah apa-apa, Henry bahkan tak tahu apa-apa, karena Henry memang tidak pernah ikut serta dalam hal apapun di ‘kelompok’ mereka. Dan yang bisa Leeteuk lakukan sekarang hanya menarik selimutnya guna menutupi tubuh Henry agar tubuhnya merasa lebih hangat.

Hal seperti ini kadang membuat Leeteuk merindukan Donghae. Dia rindu, bahkan sangat rindu, bahkan sebelum Donghae menghilang seperti saat ini. Jangan tanya mengapa Leeteuk hanya berbaring di kamarnya tanpa berusaha mencari Donghae yang bahkan sampai sekarang belum kembali. Itu dia lakukan karena dia memang tak bisa melakukan apapun. Siwon memerintahkan pada Kangin, Shindong dan Zhoumi agar tidak membiarkan Leeteuk keluar. Hingga inilah yang terjadi, Leeteuk hanya terkurung di kamarnya tanpa bisa melakukan apapun.

“Hyung… apa Donghae hyung belum pulang?”

“Kau belum tidur?”

Leeteuk terkejut karena tiba-tiba Henry bertanya padanya, karena dia pikir tadi Henry sudah terlelap, ternyata hanya matanya saja yang tertutup.

Leeteuk terdiam beberapa saat sambil memperhatikan wajah Henry yang tetap dengan matanya yang terpejam. “Belum.” Jawaban singkat yang dia berikan mendapatkan anggukan dari Henry yang mengisyaratkan bahwa Henry mengerti dengan jawabannya tersebut.

Henrypun semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Leeteuk dan kemudian berujar “Aku tidak bisa seperti ini bila bersama Siwon hyung.”

Leeteuk mengerti, Henry yang tak terlalu dekat dengan sang kakak hanya bisa bermanja dengan orang lain, terutama padanya.

Kembali Leeteuk teringat akan Donghae yang biasa bermanja padanya, dulu, ya… dulu. Sebelum akhirnya Donghae membencinya karena membuat sang adik terpisah dari orang yang sangat dia cintai, Kibum.

Leeteuk sangat ingat teriakkan Donghae yang memelas dari dalam kamar yang dia kunci untuk meminta keluar.

(“Hyung… buka… aku tidak mau!”)

Setetes air mata mengalir dari sudut mata Leeteuk, terlebih saat kata benci yang Donghae ucapkan padanya kembali terngiang.

(“Kau… bukan Hyungku! Aku membencimu!”)

– isfa_id –

‘Prank.’

Suara kaleng yang dilempar ke dalam kotak sampah bergema di tengah lapangnya keadaan jalan malam ini yang tidak dilalui siapapun, kecuali seorang pria pelaku pelemparan kaleng tersebut dan dia adalah Kibum.

Kibum baru saja menghabiskan minuman yang dia beli dari mesin penjual minuman yang memang mudah ditemukan di manapun.

‘Prank.’

Lagi suara itu terdengar, tapi bukan karena Kibum kembali melempar kaleng minumnya, tapi karena dia yang sekarang tengah menendang mesin penjual minuman tersebut karena kesal. Sudah berjam-jam dia berada di luar, berlari ke sana kemari mencari Donghae tapi sama sekali tak dia temukan. Dia sama sekali tidak tahu ke mana harus mencari Donghae, tak ada petunjuk, misal ke tempat yang selalu didatangi Donghae. “Sebentar,” Kibum bergumam setelah sebuah kata melintas di otaknya. “Apa kau di sana?”

– isfa_id –

Kyuhyun tengah berbaring dengan kepala sedikit mendongak menatap wajah seseorang yang tengah terlelap sambil memeluk tubuhnya. Terus dipandanginya wajah pria tersebut dengan sedikit membelai pipinya, “Yang kau cintai itu aku kan?” tanyanya pelan, tersirat sedikit kesedihan dari nada bicaranya. Dia tersenyum meski sedikit enggan dan kemudian menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Siwon yang merupakan seseorang yang tengah terlelap di sampingnya.

“Aku,” gumam Kyuhyun dengan sebuah tatapan tajam yang entah dia tujukan pada siapa, mungkin pada seorang pria manis yang bayangannya tiba-tiba muncul di dalam otaknya, Lee Donghae.

– isfa_id –

(“Bummie… ini di mana?”

Donghae berdiri di depan sebuah bangunan yang belum menampakkan bentuk yang sesungguhnya (?), tapi dia tahu bahwa bangunan tersebut berupa sebuah rumah yang memang baru berbentuk dinding-dinding kasar yang belum diselesaikan. Matanya memperhatikan bangunan tersebut yang tampak seperti puing-puing bangunan dengan seksama. Perlahan kakinya maju memasuki salah satu bagian bangunan tersebut di mana sepertinya merupakan bagian terbesar dari bagian-bagian yang lain yang memang terbagi oleh dinding-dinding yang membatasinya.

Sedikit gelap di sana, dan hanya sinar matahari yang menyelinap dari lubang-lubang kecil di setiap dinding yang sepertinya akan menjadi ventilasi bila bangunan ini sudah selesai yang memberikan penerangan.

Donghae menggenggam tangan Kibum dengan sangat erat seraya terus memandangi tiap bagian dari ruangan tersebut. “Ini apa?” tanyanya penasaran. Sudah sedari tadi memang dia merasa penasaran, entah kenapa Kibum mengajaknya kemari, ke sebuah bangunan yang belum berbentuk.

Kibum yang mendengar pertanyaan Donghae hanya tersenyum dan melonggarkan pegangan tangan mereka hingga perlahan terlepas dan kini terganti dengan sebuah pelukkan yang Kibum berikan pada pinggang Donghae. “Rumah kita.”

“Hem?”

Donghae yang tidak mengerti dengan ucapan Kibum langsung membalik tubuhnya menatap mata Kibum guna untuk mendapatkan penjelasan yang lebih lanjut dari apa yang sudah Kibum katakan tadi padanya.

Kibum yang mengerti dengan keingintahuan Donghae kembali memeluk kekasihnya itu dan sekarang bahkan lebih erat dari sebelumnya. “Ini akan menjadi rumah kita kelak,” jelas Kibum.

Donghae bingung dan menginginkan penjelasan yang lebih lagi dari Kibum.

“Aku akan membawamu ke sini, hanya kita berdua.”

“Hem?”

Donghae yang sepertinya masih belum mengerti mendongakkan kepalanya menatap Kibum dengan wajah yang menurut Kibum sangat lucu.

“Kau benar-benar menggemaskan,” ucap Kibum membuat Donghae bertambah bingung dan tanpa dia sadari ternyata Kibum mencuri sebuah kecupan di bibirnya.

“Eh?” Donghae benar-benar terlihat seperti orang bodoh sekarang.

“Selamat ulang tahun, ini hadiah untukmu,” Kibum berucap dengan sedikit mengacak rambut Donghae gemas.

“Heoh?” Donghae masih tidak mengerti, dan Kibum hanya bisa tertawa dibuatnya.)

.

.

Kibum berdiri seraya memperhatikan sebuah bangunan setengah jadi di hadapannya, di mana bangunan tersebut adalah sebuah impiannya yang akan ia tempati bersama seseorang yang sangat dicintainya. Namun sayang, bangunan tersebut tidak terselesaikan dan terabaikan selama tiga tahun semenjak perpisahan itu terjadi.

Perlahan kaki Kibum melangkah memasuki bangunan tersebut, gelap, pengap, dia bahkan tak dapat melihat apapun di sana. Dia mengeluarkan handphonenya, paling tidak cahayanya bisa sedikit menerangi arah langkahnya.

‘Sreekkk.’

Kibum terperanjat sesaat mendengar suara seperti sebuah benda yang bergesekkan dengan lantai di dekatnya. Tubuhnya berputar, begitu pula dengan matanya yang mengitari setiap sudut tempat dia berdiri sekarang.

‘Sreekkk.’

Kembali Kibum mendengar suara itu, apa? Siapa? Apa pemikirannya benar bahwa Donghae kemari?

Langkah Kibum semakin maju guna lebih memasuki bangunan tersebut, dan suara itu semakin terdengar jelas di telinga Kibum.

Perlahan, perlahan, perlahan langkah Kibum semakin maju, memasuki sebuah ruangan paling besar dari bangunan tersebut. Handphonenya diputar ke sana kemari guna melihat ada apa di sana, hingga gerakkan tangannya itu terhenti saat melihat tubuh seseorang yang tengah menyudut di sisi kiri ruangan tersebut.

“Hiks.”

Kibum dapat mendengar suara isakkan yang dia yakin berasal dari orang tersebut. Ditatapnya dengan seksama tubuh seseorang yang tengah menekuk kedua kakinya dengan wajah yang terbenam di sana.

“Maafkan aku.”

‘Deg.’

Suara itu, ya, suara orang itu, Kibum sangat hafal.

“Maafkan aku.”

Lagi, Kibum mendengar orang tersebut menggumamkan dua kata yang sama.

Kibum semakin mempercepat langkahnya mendekati orang tersebut, semakin dekat dan semakin dekat.

“Maafkan aku.”

“Hae…”

Orang tersebut, yang memang adalah Donghae mendongakkan kepalanya saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya. “Hiks,” isakkan masih keluar dari mulutnya. Ditatapnya seseorang yang tengah berdiri di depannya.

Donghae menyipitkan matanya, memastikan apa yang dilihatnya. Pandangannya kabur karena air mata yang menggenang belum lagi kegelapan malam yang menghalangi penglihatannya meski dia dapat menangkap seberkas cahaya yang berasal dari benda yang berbentuk persegi yang ada di dalam genggaman orang tersebut, tapi tetap saja tidak bisa menolongnya untuk dapat mengenali siapa yang berada di hadapannya sekarang.

“Hae…”

Kembali orang itu memanggil nama Donghae, tapi perlahan mata Donghae tertutup, cahaya itu tak lagi terlihat, dan seketika semuanya menjadi gelap.

“HAE!”

– isfa_id –

Hangeng keluar dari sebuah ruangan yang adalah kamar Kibum dan kemudian menutup pintunya perlahan. Dia berhenti seraya tersenyum pada seseorang yang berdiri di hadapannya sekarang, seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka di luar kamar tersebut.

“Dia siapa?”

Orang itu yang adalah Eunhyuk bertanya pada Hangeng.

“Sudahlah, lebih baik kau kembali tidur, aku juga masih mengantuk,” jawab Hangeng dan kemudian berlalu dari hadapan Eunhyuk untuk kembali ke kamarnya sendiri guna melanjutkan tidurnya yang terganggu tadi karena membukakan pintu untuk Kibum yang baru saja kembali setelah beberapa jam pergi entah ke mana dia tidak tahu, meski akhirnya dia mengerti saat Kibum menjelaskan semuanya.

Eunhyuk yang masih berdiri di sana terus saja memperhatikan pintu kamar Kibum yang tertutup. Tinggal dia sendiri di sini, karena memang yang lain sama sekali tidak terbangun, hanya dia dan Hangeng yang mendengar ketukan pintu yang Kibum ciptakan tadi.

Eunhyuk menghembuskan nafas perlahan dan kemudian kembali beranjak memasuki kamarnya, sepertinya dia juga harus kembali tidur, mengingat sekarang masih jam empat pagi.

.

.

Kibum terus memperhatikan wajah Donghae yang tengah tertidur sekarang. Dia menarik nafas lega saat Hangeng mengatakan tidak terjadi apa-apa dengan Donghae, selain kelelahan, dan mungkin itu dikarenakan Donghae yang sepertinya hari ini tak ‘menyentuh’ makanan sama sekali, terlebih dia terus menangis terlihat dari matanya yang membengkak. “Ada apa?” bisik Kibum dan menggenggam tangan Donghae guna memberikannya kehangatan.

Oh ya, jangan tanya mengapa Hangeng sepertinya bisa mengetahui kondisi Donghae, karena memang sesungguhnya dia memiliki latar belakang ilmu kesehatan. Dia pernah tercatat sebagai seorang mahasiswa kedokteran meski di semester akhir dia memutuskan untuk berhenti, dan alasannya mungkin tak perlu dipertanyakan, karena sesungguhnya tak ada satu orangpun yang tahu alasannya tersebut.

Kibum melepaskan genggaman tangannya pada Donghae saat matanya menangkap sesuatu yang melingkar di leher Donghae, kalungnya. Namun bukan kalungnya yang menjadi pusat perhatian Kibum melainkan sebuah liontin yang adalah sebuah cincin yang ada di sana.

Jemari Kibum terulur untuk sedikit menarik cincin tersebut, tanpa membuat kalung tersebut terlepas tentunya. Diperhatikannya dengan seksama cincin tersebut dan kemudian sebuah senyuman terkembang di bibirnya setelah benar-benar memastikannya. Dia mengangkat tubuhnya yang sedari tadi terduduk di sisi ranjang guna memberikan sebuah kecupan di kening Donghae, “Terima kasih,” kembali dia berbisik akan sebuah rasa bahagia yang dia rasakan karena Donghae masih menyimpan sebuah hadiah yang Kibum berikan padanya, sebuah cincin dengan ukiran nama mereka berdua di bagian dalam cincin tersebut.

Tapi? Apakah dia masih bisa tersenyum, masih bisa mengatakan ‘terima kasih’ seandainya dia tahu apa yang terjadi?

“Eungh.”

Kibum kembali menggenggam tangan Donghae saat mendengar Donghae yang melenguh. Mimpi burukkah? Entahlah.

“Eungh,” kembali Donghae melenguh dengan kepala yang tidak bisa diam, berbalik ke kanan dan ke kiri.

Kibum yang melihat itu semakin mempererat genggaman tangannya sembari berucap, “Tidak apa-apa,” dan memberikan kecupan lembut pada tangan Donghae, hingga perlahan Donghae kembali tenang. Tapi tiba-tiba Kibum melihat setitik air mata yang mengalir dari sudut mata Donghae dan jemarinya langsung mengusapnya, “Ada apa hem?” Kibum benar-benar dibuat khawatir dengan keadaan Donghae sekarang.

Kibum pernah bahkan memang menginginkan Donghae kembali padanya, merebutnya kembali dari seseorang yang telah mengambil cintanya, kekasih hatinya. Dan mungkin seharusnya dia bahagia karena sekarang dengan mudahnya dia mendapatkan Donghaenya kembali tanpa harus melakukan apapun, seperti sebuah pertarungan yang dia bayangkan. Tapi? Mengapa harus dalam keadaan seperti ini? Di mana Donghae terlihat sangat tidak baik. Dan Kibum harus mengetahui penyebabnya.

“Maafkan aku.”

Donghae kembali mengigau, membuat Kibum semakin terlihat cemas akan kondisi orang yang masih sangat dia cintai ini.

– isfa_id –

Leeteuk terbangun dan menatap Henry yang masih terlelap di sebelahnya. Dia berdiri perlahan agar tidak mengganggu tidur lelap Henry. Dia terduduk dengan bersandar di kepala tempat tidurnya. Dan diam adalah hal yang dilakukannya. Apa yang harus dia lakukan? Dia sendiri tidak tahu.

Bayangan wajah Donghae melintas di otaknya, membuat rasa bersalahnya kembali tumbuh. Bagaimana keadaan Donghae? Keadaan adiknya. Apakah Kibum berhasil menemukannya? “Kibum,” Leeteuk bergumam dan kemudian langsung beranjak dari tempat tidurnya. Tapi langkahnya sedikit memelan saat melihat Henry yang merubah posisi tidurnya, mungkin dia merasa terganggu.

Leeteuk menuruni tempat tidurnya perlahan dan kemudian mengambil handphonenya yang dia simpan di dalam laci meja nakasnya. Leeteuk kembali menatap Henry yang sudah kembali terlelap dan kemudian perlahan keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Segera dia mengunci pintu kamar mandi setelah berada di dalamnya.

Leeteuk memperhatikan handphone yang kini tengah dia genggam. Ditekannya tombol untuk mengaktifkan handphone tersebut hingga kembali menampakkan wajah Donghae yang dia jadikan wallpaper.

Leeteuk tersenyum dan kemudian segera membuka jendela pesannya. Tapi baru saja dia akan mengetik beberapa kata yang dia akan tujukan pada seseorang, handphonenya sudah bergetar menandakan sebuah pesan yang masuk. Segera dibukanya pesan tersebut yang akhirnya membuahkan sebuah senyum di wajahnya.

‘Donghae bersamaku… Kibum.’

– isfa_id –

Donghae, pria manis itu terlihat tengah terbaring di sebuah tempat tidur dengan selimut biru yang menutupi tubuhnya. Namun, perlahan tubuhnya bergerak, dimulai dengan kepala yang bergerak ke kanan.

Perlahan matanya terbuka dengan tangan yang menekan pelipisnya, dia merasa sedikit pusing.

‘Deg.’

Tiba-tiba jantung Donghae berdegup kencang saat matanya sudah benar-benar terbuka. Matanya menatap ke sekeliling ruangan, “Ini,” desahnya dan terus mengedarkan matanya ke segala penjuru seraya merubah posisinya menjadi terduduk dengan tangan yang terus menekan kepalanya, paling tidak guna menghilangkan rasa pusing yang dia rasakan.

“Kau sudah bangun?”

Donghae terkejut saat mendengar sebuah suara yang menyentuh gendang telinganya. Dia menoleh untuk menatap seseorang yang tengah berdiri di depan pintu, menatapnya seraya tersenyum.

Kibum, orang yang berada di depan pintu itu segera melangkahkan kakinya memasuki ruangan di mana Donghae berada. Dia berjalan mendekati Donghae dengan senyum yang terus terkembang di wajahnya, hingga kini dia sudah duduk di sisi ranjang dengan menatap Donghae yang masih terlihat bingung menatapnya.

Jemari Kibumpun tergerak untuk menyentuh wajah Donghae, setelah sebelumnya dia meletakkan segelas susu yang memang tadi dia bawa ke atas meja nakas di dekatnya. Kibum membelai wajah itu dengan senyum yang terus menghiasi wajah tampannya, sementara Donghae hanya bisa diam, bahkan sekarang dia menundukkan wajahnya, tak berani menatap mata Kibum.

Mata Donghae terbelalak seketika saat dia melihat cincin yang dia jadikan liontin kalungnya, hingga tiba-tiba tangannya tergerak untuk menggenggam cincin itu.

“Aku sudah melihatnya,” ucap Kibum membuat Donghae perlahan melepaskan genggaman pada cincin tersebut. “Terima kasih…” Kibum kembali berucap meski belum dia selesai dan langsung menarik tubuh Donghae ke dalam pelukkannya. “…karena sudah memegang janji kita.”

‘Deg.’

Donghae langsung mendorong tubuh Kibum menjauhinya. Memegang janji mereka? Hati Donghae begitu terasa sakit mendengar ucapan Kibum, dan kepalanya semakin tertunduk menyembunyikan air mata yang menetes dari pandangan Kibum.

Kibum yang sama sekali tidak menyadari itu hanya terus tersenyum, karena pikirannya berbeda, mungkinkah Donghaenya malu?

Mata Kibumpun tertuju pada gelang di tangannya, sebuah gelang hadiah ulang tahun dari Donghae, dan dengan ukiran nama Donghae pada ujung gelang tersebut. “Aku…”

“Hiks…”

Ucapan Kibum terhenti saat mendengar sebuah isakan yang keluar dari bibir Donghae.

“Hae…” panggil Kibum pelan seraya memegang kedua pundak Donghae membuat kepala Donghae sedikit terangkat dan itu berhasil membuat Kibum dapat melihat mata Donghae yang mulai memerah dengan aliran air mata di pipinya. “Hei, ada apa?”

Donghae diam, diam, dan diam. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia harus menjawab apa?

“Ma- ma-af,” Donghae mencoba untuk berucap, tapi sedikit sulit dengan isakan-isakan yang terus terjadi. “Ma-af, hiks…”

“Hei…” tangan Kibumpun berpindah pada pipi Donghae, mengangkat wajah itu agar dia benar-benar bisa melihat Donghaenya.

Kibum menatap ke dalam mata Donghae yang telah tergenangi oleh air mata, dia melihat sebuah kesedihan yang sangat besar di sana.

Air mata itupun tidak berhenti menetes dari mata indah Donghae, mata yang selama ini selalu membuat Kibum merasa tenang saat melihatnya, mata yang selalu Kibum sukai.

“Maaf,” Donghae kembali berucap tapi kali ini dengan kedua tangannya yang menepis tangan Kibum.

Tidak, tidak seharusnya dia berada di sini, di sini bukan tempatnya. Kibum, Kibum pasti tidak akan bisa menerimanya lagi setelah apa yang dia perbuat, sesuatu yang pasti akan membuat Kibum sangat membencinya.

Donghae segera bangkit turun dari ranjang Kibum dan beranjak untuk keluar dari sana bila saja Kibum tidak menahan tangannya.

“Hae…” Kibum masih memanggilnya dengan sangat lembut.

Yang bisa Donghae lakukan masih saja diam.

Kibumpun bangkit dari duduknya dan segera memeluk Donghae dari belakang. “Jangan pergi lagi,” pinta Kibum tulus.

Dan Donghaepun kembali terdiam. Dia bingung. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Haruskah dia tetap berada di sini? Tapi apakah Kibum akan menerimanya bila mengetahui apa yang telah terjadi? Atau dia harus pergi? Ke mana? Dia bahkan tidak ada tujuan sama sekali, kecuali… kembali pada Siwon. Tidak, Donghae sama sekali tidak menginginkan itu.

“Jangan pergi,” kembali Kibum berucap.

“A-aku…”

“Aku mencintaimu, sangat.” Ucap Kibum yang berhasil membuat Donghae menghentikan pergerakkan bibirnya dan membiarkan Kibum memeluknya erat, dan semakin erat.

“Kibum… oh… eh… maaf.”

Kibum langsung melepaskan pelukkannya pada Donghae saat seseorang memanggil namanya, meski orang tersebut kini sudah kembali menutup pintu kamarnya, tapi Kibum yakin orang tersebut masih berada di luar, di depan kamarnya.

Sedikit diliriknya Donghae yang masih terdiam di tempatnya dan kemudian kembali memeluknya tapi kini Kibum memeluk tubuh Donghae dari depan dan memberikan sebuah kecupan di pucuk kepala Donghae.

Kemudian Kibum langsung berjalan keluar dari kamarnya dan menemukan Heechul, orang yang memanggilnya tadi masih berdiri di depan kamarnya, sesuai dengan apa yang Kibum pikirkan.

“Ada apa Hyung?” tanya Kibum setelah dia menutup pintu kamarnya.

“Oh… bukan apa-apa, aku pikir Hangeng berbohong,” jawab Heechul.

Kibum mengerti dengan maksud Heechul yang sedang membicarakan Donghae.

Hangeng memang memberitahu pada Heechul bahkan pada sahabat mereka yang lain bahwa Donghae telah ‘kembali’, dan sepertinya Heechul ingin memastikan itu dengan bertanya pada Kibum, meski akhirnya dia tak perlu bertanya lagi setelah apa yang dia lihat tadi.

‘Klek.’

Kibum dan Heechul bersamaan menoleh ke arah pintu kamar Kibum yang terbuka dan tentu saja Donghaelah pelakunya.

“Donghae!” Heechul memanggil Donghae dengan sedikit teriakan menandakan kebahagiaan dan sedikit rasa terkejut. Mengapa sedikit? Karena dia sudah melihat Donghae tadi, bukan?

Donghae yang dipanggil hanya membungkukkan tubuhnya dan kemudian segera berlari keluar dari rumah Kibum.

“HAE!!!”

Kibum yang melihat Donghae pergi segera berlari menyusulnya meninggalkan Heechul yang hanya diam dan Kibumpun hanya berlari lurus tanpa memperhatikan seseorang yang dilewatinya, yang menatapnya dengan sedikit gurat kesedihan, Eunhyuk. Sepertinya dia akan patah hati sebelum mencoba memulai menata hatinya.

.

.

“Lepaskan!”

“Tidak, tidak akan pernah, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi.”

“Lepaskan! Aku mohon.”

‘Greb.’

Kibum yang mendengar ucapan Donghae, yang memintanya untuk melepaskan genggaman tangannya, langsung menarik Donghae ke dalam dekapannya, “Tidak akan pernah, tidak akan pernah,” gumamnya dan lebih mempererat pelukkannya.

“Lepaskan!” sementara Donghae terus meronta, mencoba mendorong tubuh Kibum guna melepaskan pelukkannya.

Kibum yang memang tidak pernah mempunyai niat untuk melepaskan kembali miliknya semakin mempererat pelukkannya seraya bergumam, “Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu lagi, termasuk dia…”

.

.

(Kibum menggenggam erat handphone hitam miliknya setelah beberapa saat yang lalu pembicaraannya dengan seseorang di seberang sana terputus.

Kibum, yang beberapa saat lalu mendapatkan sebuah pesan yang dikirim oleh Leeteuk segera menghubunginya sebelum nomor tersebut kembali dinonaktifkan.

‘Terima kasih, dan tolong jaga Donghae.’

Pesan singkat yang diterima Kibum, yang membuat Kibum langsung beranjak duduk dari posisi berbaringnya di sofa ruang tengah guna sedikit menghilangkan rasa lelah setelah menemani Donghae yang sepertinya bermimpi buruk dengan lenguhan permintaan maafnya.

Segera Kibum menekan tombol panggil, karena dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu hanya untuk tersenyum atau apapun itu meski dia memang bahagia sekarang karena Donghaenya, orang yang sangat dicintainya sudah kembali padanya. Tapi, dia harus mengetahui alasan mengapa Donghae terlihat sangat buruk sekarang, dia harus mendapatkan jawaban itu sekarang juga, dan satu-satunya orang yang dapat dia tanya yang dia anggap tahu apa yang terjadi adalah Leeteuk, hyung dari Donghae.

Hingga akhirnya dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat Leeteuk menceritakan semua padanya. Pelan, sangat pelan suara yang Kibum dengar dan dia yakin Leeteuk sedang bersembunyi sekarang. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Leeteuk memang sedang berada di kamar mandi, mengurung dirinya di sana.

Amarah jelas terlihat di mata Kibum, tatapan tajamannya mengisyaratkan sebuah dendam yang sangat besar. Orang itu, yang telah merebut miliknya dengan sengaja ‘menodainya’. Dan Kibum, tentu saja tidak akan tinggal diam untuk hal tersebut. Donghaenya, tersakiti.)

.

.

‘Dia… harus mati!’

T.B.C

Arrgghhttt… cerita macam apa ini?

Di mana sisi actionnya? Sama sekali tidak sesuai dengan judulnya. -_-“

Advertisements

36 thoughts on “Black Dragon vs Red Tiger – 4

  1. Tapi ini itu MANISSSS…..!!!!! KiHae moment yg mengharukaannnnn…… u,u aku mau, aku mau…. cepet publish lanjutannyaaaa….!!! Argghhhttt…. #tonjok Siwon… Eh… ._.
    Kyaaaa….. KiHae laggiiii…. eh, tp itu beneran Eunhyuk naksir Bummie..?? Yahh… ga enak bgttt… >,< Hyukkie,… sama aku aja yaa…?? 😀

  2. Kerennnnn banget eonn..
    Pengen liat bales dendamnya kibum ke siwon..
    Heuhhh.. Ternyata yang ditakutin hae salah.. Kibum tetep cinta sama hae. Bersyukur banget dehhh..
    Tuh kan.. Hyuk ternyata mulai suka sama kibum.. Aduhhhh mulai ribet deh..
    Lanjutttttt eonnn.. Kerennnnn

  3. wah… hae benci leeteuk karena hae dipisahin sama kibum???…. aigoo~

    yah….kyu mau ngapain hae tuh..???

    ah, aku kok suka banget kalo kibum bilang “Kau benar-benar menggemaskan,” ke hae kekekekeke ^^

    tuh kan????? hyuk!!! stay away from kibum, will ya!!! dia itu milik hae… hmmmppp *pout*

    waaahhhh yes… kibum tahu…dan dia gak benci sama hae tapi benci ke ‘pelaku’ itu

    sebenarnya yg terjadi apa sih unnie?? donghae masuk black dragon karena dipaksa siwon??? hmm jadi siwon di sini antagonis?? *kasih bocoran dong* eh? kekekekeke simpan untuk chap selanjutnya 😀

    ah, akhirnya kihae bertemu kembali…. 😀
    unnie makasih udah update~ ^^

  4. donghae ketemu ;;w;;. dirumah impian mereka, kibum cinta hae sampe udah merencanakan buat hidup bersama hae, au keren

    Nahkan unyuk patah hati :), sudah sudah kan ad masih ad IU /korban gosip/, mash bingung ama pairing2nya neh, unyuk, siwon, kyuhun, sungmin. Siwon x kyuhyun kan, unyuk ama cungminnie ajah udah deh /kipai

  5. YES!!! Ternyata pas Kibum bilang “Aku mencintaimu, sangat.” ke Hae itu, Bum udah tau kondisi Hae sebenernya, kan yah. Ah…senengnyaaa. No need to worry deh. 😀
    Mending Kibum kerjasama ma Kyu aja buat bikin Siwon menderita. Kalo langsung mati sih keenakan. :p

    Note to Eunhyuk : Stay away from KiHae!!!
    Ditunggu next chap-nya. Keren dear!

  6. eonni aku new reader nih, jadi mianhe kalo baru comment satu kali ya, tapi aku dulu suka comment pas di situs ff kok. ayo cepat cepar pertemukan kibum sama donghae kalo perlu sekalian aja main tonjok”an asalkan donghae ga kenapa”. kalo bisa si leeteuk bebasin juga, kasian amat dia sampe harus sembunyi gitu, aaaa pokoknya banyakin kihae momment yaaa cipok nih buat eonni whuahaha eh iya kalo mau minta pw kemana ya._. aku belum baca yang part 2nya

  7. mystwazowski. kurang familiar ya, mian soalnya aku suka ganti” nama eon-_- dan aku baru active paket internet lagi jadi udah ketinggalan banyak buanget cerita yang kamu buat._. kalo emang bener” ga kenal, anggep aja aku new reader deh *menyendiri di bawah shower*

  8. asyik makin rame………. tinggal tunggu cara balas dendamnya ….ha ha ha ha
    aduh…kibum ampe udah punya masa depan secerah itu sama donghae
    akh………..#tendang siwon

  9. Ommo Kibum beneran cinta ma Hae,tau Hae dah “sensor” sama siwon dia masih kekeuh,Kau memang Daebak Appa. Siwon tunggu pembalasan KiHae,dibaleskan?,iya kan?,trus Hyuk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s