Posted in KiHae Couple

Memories – 5


Tittle : Memories

Pairing : KiHae

*Localized Amnesia, bentuk yang sangat umum adalah ketika individu lupa akan semua kejadian yang terjadi selama interval waktu tertentu. Biasanya interval waktu ini diikuti dengan cepat oleh kejadian yang sangat mengganggu, seperti kecelakaan mobil, kebakaran atau bencana alam.

– isfa_id –

“Localized Amnesia?”

Donghae mengangguk menjawab pertanyaan Kibum yang merupakan tanggapan atas apa yang baru saja dia ceritakan.

Donghae, baru saja beberapa detik yang lalu menyelesaikan ceritanya tentang ‘orang yang sangat dicintainya’ kepada Kibum hingga membuat Kibum tercengang tak percaya.

“Jadi, selama itu kau menunggunya?” kembali Kibum mengeluarkan pertanyaannya.

“Hm,” Donghae menggumam lesu.

“Delapan tahun?” Kibum bertanya lagi.

“Hm,” kembali Donghae bergumam lesu.

“Kenapa?”

“Karena aku mencintainya,” jawab Donghae seraya menatap wajah Kibum, ‘Aku mencintamu,’ batinnya.

– isfa_id –

Donghae tersenyum seraya mengucapkan terima kasih kepada Kibum yang mengantarnya pulang.

Mereka memang baru saja kembali dari makam kedua orang tua Kibum yang Kibum sendiri tidak ketahui, dan sempat sedikit beristirahat di halte karena bus yang memang masih cukup lama tiba, hingga membuat Donghae bahkan sempat menceritakan tentang ‘orang yang dicintainya’ kepada Kibum.

“Beristirahatlah, kau pasti lelah,” ucap Kibum memperhatikan mata Donghae yang masih sayu karena saat Donghae menceritakan hal tersebut dia menangis, dan Kibum merasa itu wajar, karena Donghae sudah pasti akan sangat bersedih dengan apa yang dia jalani selama ini, terus mencintai seseorang yang bahkan mengingat namanyapun tidak.

Kibum tersenyum kemudian setelah mendapatkan anggukkan dari Donghae. segera diraihnya skateboardnya yang tadi dia sandarkan pada dinding rumah Donghae dan bergegas pergi meninggalkan Donghae yang masih memperhatikan punggungnya dengan sebuah kesedihan yang terpancar jelas di sana.

“Kau pasti kembali kan?” tanya Donghae entah pada siapa.

– isfa_id –

‘Ting tong.’

“Eunghhh,” Kibum menggeliat di atas tempat tidurnya saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi, dia masih sedikit enggan untuk bangun terlebih saat matanya yang sedikit terbuka menangkap angka enam pada jam wekernya. Masih terlalu pagi meskipun hanya sekedar untuk bersiap-siap sekolah, masih dua jam lagi, dan dia… malas.

‘Ting tong.’

Kembali bel tersebut berbunyi, hingga mau tak mau Kibum bangun juga dari tidurnya. Dia berjalan sedikit gontai dengan tangan yang mengucek mata mengantuknya. Dia menguap setelah sampai di depan pintu dan kemudian dengan perlahan membuka pintu tersebut hingga menampakkan sosok yang sudah sangat dia kenal, sepupunya, Eunhyuk.

“Ada apa? Ini masih pagi, kau mau pergi sekolah bersamaku?” tanya Kibum lesu pada Eunhyuk yang hanya memberikan sebuah cengiran padanya. “Ish,” Kibum hanya bisa berdecak sebal melihat wajah aneh Eunhyuk pagi ini. Tapi sebentar, Kibum membuka matanya lebar-lebar dan benar-benar memperhatikan Eunhyuk yang masih setia berdiri di depannya sekarang.

Baju kaos, celana olahraga, sepatu kets?

“Kau mau mengajakku ke mana?” tanya Kibum penasaran dengan pakaian Eunhyuk pagi ini. Dia mengajak olahraga? Tumben, karena Eunhyuk tidak pernah mau melakukan itu. Tapi mungkin saja.

“Aku mau…”

Eunhyuk berniat menjawab pertanyaan Kibum, tapi ucapannya terhenti saat melihat tatapan Kibum yang sepertinya memperhatikan sesuatu di belakangnya.

“Donghae…”

“Eh?” Eunhyuk terkejut saat mendengar Kibum menggumamkan sesuatu, nama seseorang, Donghae.

Eunhyukpun segera memutar tubuhnya dan melihat Donghae yang berdiri di depannya, berdiri di seberang jalan rumah Kibum. Eunhyuk memang tidak akan terkejut melihat Donghae ada di sana, karena sesungguhnya dia memang mengajak Donghae kemari dan memintanya untuk menunggu di sana. Tapi, ucapan Kibum tadi yang menyebut nama Donghae, apa dia tidak salah dengar? Kibum mengingatnya?

“Kau tidak tidur?” tanya Eunhyuk penasaran. Karena sesungguhnya Kibum akan melupakan apapun yang dia alami ketika dia bangun tidur, tapi mengapa dia bisa mengingat Donghae yang selama ini dia lupakan, kecuali bila Kibum sama sekali tidak tidur semalam.

“Maksudmu? Aku di sini bersamamu Eunhyuk, mana mungkin aku tidur,” tanya dan jawab Kibum yang membuat Eunhyuk hanya bisa menarik nafas kesal, karena sepertinya Kibum tidak mengerti tentang pertanyaannya.

“Maksudku semalam kamu tidak tidur?” Eunhyuk memperjelas pertanyaannya.

“Oh…” Kibum ber‘oh’ ria. “Aku baru saja bangun gara-gara suara bel yang kamu tekan tadi.”

Eunhyukpun hanya bisa menggaruk tengkuknya mendengar jawaban Kibum. Kibum tidur, dan dia baru saja bangun, tapi mengapa Kibum bisa mengenali Donghae?

“Kau mengenalnya?” akhirnya Eunhyuk kembali bertanya karena dia benar-benar penasaran pada sepupunya ini.

“Tentu saja, dia Donghae, temanmu, kau yang mengenalkannya padaku kemarin,” jawab Kibum yang kali ini tengah tersenyum menatap Donghae yang masih berdiri di tempatnya dengan menggerak-gerakkan kaki kirinya. Dan Donghae yang sedang diperhatikan itu sama sekali tidak menyadarinya karena sekarang dia tengah menundukkan kepalanya.

“Kau mengingatnya?” Eunhyuk histeris, hingga dia sedikit berteriak membuat Donghae yang ada di seberang jalan bisa mendengar suaranya. Membuat Donghae mengangkat kepalanya hingga kini dia menangkap mata Kibum yang sedang memperhatikannya, sementara Eunhyuk menatap Kibum dengan rasa ketidakpercayaan yang besar.

– isfa_id –

“Eunhyuk itu aneh, aku ingat namamu, dia malah mengajakku kemari,” ucap Kibum pada seseorang di sebelahnya yang adalah Donghae sambil menatap gedung putih di depannya.

Ya… mereka sedang ada di rumah sakit sekarang, dan kini mereka berdua tengah duduk di taman kecil rumah sakit tanpa Eunhyuk, karena Eunhyuk masih berada di ruang dokter karena ada beberapa hal yang harus sang dokter sampaikan padanya.

Kibum menoleh ke arah Donghae karena sepertinya dia tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Donghae tentang apa yang dia katakan tadi. Tapi dia terdiam saat melihat Donghae yang menatapnya dengan air mata yang telah menggenangi kedua matanya. Donghae menangis? Kenapa? Sepertinya hari ini dia akan menghadapi banyak hal yang aneh.

“Kau kenapa?”

‘Greb.’

Donghae bukannya menjawab pertanyaan Kibum melainkan langsung memeluk tubuh Kibum dengan sangat erat… sangat sangat sangat erat, membuat Kibum sedikit terbatuk.

“Terima kasih, terima kasih,” ucap Donghae terisak di dalam pelukkan Kibum, “Terima kasih karena telah mengingatku.”

Sungguh, Donghae sangat merasa bahagia dengan apa yang terjadi hari ini.

Awalnya, pagi ini dia dan Eunhyuk hanya berniat untuk mengajak Kibum berolahraga, tapi tidak disangka, sesuatu yang besar terjadi, Kibum… mengingat namanya.

Donghae sangat bahagia, meskipun itu hanya sebatas nama. Dan dia yakin, ini adalah awal yang baik, Kibumnya akan segera kembali, ya… dia yakin itu.

“I… iya…” Kibum berucap terbata, dia bingung.

.

.

“Masa amnesianya telah berakhir.”

“Apa?”

“Sepertinya rasa traumanya sedikit demi sedikit mulai menghilang, hingga akhirnya dia membuka diri untuk menerima hal-hal baru yang dijalaninya. Ini pertanda bagus, kalian sudah dapat mencoba untuk membuatnya mengingat kembali masa lalunya. Tapi saya sarankan agar tidak terlalu memaksanya. Lakukan secara perlahan, karena bila tidak, kalian akan semakin menyakitinya.”

Eunhyuk diam mendengarkan penjelasan sang dokter.

“Ingatannya tidak akan pulih hanya dalam beberapa hari. Dan mungkin ini juga akan menjadi sangat lama. Bisa satu bulan, satu tahun, bahkan mungkin lebih dari delapan tahun.”

Eunhyuk kembali hanya bisa diam, lebih dari delapan tahun, itu akan sangat lama. Sudah delapan tahun ini Kibum melupakan semua apa yang dia alami, apa dia harus menjalani delapan tahun lagi untuk dapat mengingat semuanya?

“Kita akan melakukannya bersama.”

Eunhyuk tersenyum mendengar ucapan sang dokter yang memang merupakan dokter yang merawat Kibum selama ini.

“Selalu temani dia, awasi perkembangannya, dan lebih sering mengajaknya kemari agar saya juga mengetahui perkembangannya.”

– isfa_id –

Kibum terlihat menggaruk kepalanya sendiri yang bahkan tidak ada rasa gatal sedikitpun di sana. Dia bingung, sangat bingung, ada apa dengan hari ini?

Dia sedikit melirik, melihat dari sudut matanya, seseorang yang tengah duduk di sampingnya, siapa lagi jika bukan Donghae.

Donghae masih sibuk mengusap air matanya yang masih saja menetes. Isakan-isakan sesekali masih terdengar keluar dari mulutnya. Tapi, sebuah senyuman kecil terlukis di bibirnya.

“Sudahlah, jangan menangis lagi, nanti semua orang akan menganggapku melakukan hal yang tidak-tidak padamu,” akhirnya Kibum berbicara.

“Iya, maaf,” jawab Donghae dan terus mengusap air matanya.

“Hei.”

Kibum menoleh ke samping saat seseorang memukul kecil pundaknya.

“Ada apa?” tanya orang tersebut yang adalah Eunhyuk pada Kibum saat melihat Donghae menangis, dan Kibum hanya bisa mengangkat bahunya pertanda tidak tahu apa-apa.

Eunhyukpun berjalan mendekati Donghae, dan Donghae langsung menatap Eunhyuk dengan sebuah senyuman yang dapat membuat Eunhyuk mengerti seberapa besar rasa bahagia yang Donghae rasakan sekarang.

“Oh… Kibummie,” panggil Eunhyuk pada Kibum dan Kibum hanya menjawabnya dengan kedua alis yang terangkat.

“Antarkan dia pulang, ada yang harus aku kerjakan.”

“Baiklah,” jawab Kibum seraya menatap Donghae yang tengah menunduk dengan sebuah semburat merah di pipinya, meskipun Kibum menganggap itu karena ulah Donghae sendiri yang terlalu kuat mengusap air mata yang ada di pipinya.

Eunhyukpun tersenyum, dan perlahan berjalan meninggalkan mereka berdua yang masih duduk terdiam di sana, karena Donghae yang masih mencoba untuk menyembunyikan rasa bahagia dan malu yang dia rasakan, karena dia tahu Kibum menganggapnya aneh sekarang.

– isfa_id –

“Eum… aku pulang,” Kibum berucap sedikit terbata karena sesungguhnya dia sama sekali tidak ada apapun yang ingin dikatakan, dan dua kata itu muncul secara tiba-tiba setelah kesunyian yang tercipta atara dia dan Donghae yang telah berlangsung beberapa menit di depan rumah Donghae kini, karena dia mengantarkan Donghae pulang sesuai dengan permintaan Eunhyuk.

Kibum memiringkan kepalanya karena Donghae tak memberikan tanggapan apapun atas apa yang dia katakan tadi. Baiklah, mungkin memang sudah seharusnya dia pergi. sepertinya Donghae memang sedang tidak ingin diganggu, lagipula dia terlihat aneh hari ini menurut Kibum kan?

Tanpa berucap apapun lagi, Kibum langsung membalik tubuhnya dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan Donghae yang masih berdiri menunduk di depan rumahnya, hingga pada langkah ke sembilan Donghae tiba-tiba memanggilnya, “Kibum…” hingga membuatnya mau tak mau menghentikan langkahnya dan kembali membalik tubuhnya menghadap Donghae dan menatapnya dengan tatapan tanyanya.

“Kita berteman kan?” itulah pertanyaan yang keluar dari mulut Donghae, paling tidak menurutnya mereka bisa memulainya dari awal lagi kan?

“Tentu saja,” jawab Kibum yang membuat sebuah senyum mengembang di bibir Donghae.

– isfa_id –

Beberapa hari telah terlewati dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajah Donghae. Bagaimana tidak? Dia tentu saja merasa sangat bahagia karena Kibumnya telah kembali, meski belum sepenuhnya kembali. Meskipun pada kenyataannya sebuah rasa takut teramat besar Donghae rasakan. Bagaimana bila Kibum benar-benar mengingat semuanya? Mengingat apa yang sebenarnya terjadi? Siapa penyebab dari apa yang terjadi selama ini? Mungkinkah Kibum memaafkannya? Mungkinkah?

Tapi Donghae tidak ingin terlalu memikirkan hal itu, bukan dia tidak peduli, bukan dia mencoba untuk menutupi semuanya, bukan dia mencoba untuk melindungi dirinya dari kesalahan yang dia perbuat, tapi dia ingin tetap berada bersama cintanya sekarang, Kibum, hanya itu, dan dia berharap, bila suatu saat Kibum dapat mengingat semuanya, dia dapat diberikan kesempatan untuk menebus semua kesalahannya, bagaimanapun caranya, dia rela.

– isfa_id –

Kibum hanya bisa duduk berdiam diri di ruang tengah rumahnya, memandang layar hitam televisinya. Dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Sekolah? Dia sudah mengetahui berapa umurnya, karena beberapa saat yang lalu, tepatnya di malam setelah dia pulang dari rumah sakit dan setelah mengantarkan Donghae pulang, Eunhyuk datang ke rumahnya untuk menginap, hingga di pagi hari berikutnya, di saat dia bersiap untuk berangkat ke sekolahnya, dia menemukan Eunhyuk hanya bersantai di tempat tidurnya, enggan bangun sepertinya.

“Hei Lee Hyukjae, kita bisa terlambat!” bentakkan Kibum berhasil membuat sang sepupu terbangun, meski tak beranjak dari posisi berbaringnya.

“Apanya yang terlambat? Kita bahkan bukan seorang murid SMA lagi.”

Itulah yang Eunhyuk katakan hingga akhirnya Kibum menuntut penjelasan dengan apa maksud dari kalimat yang baru saja sepupunya itu katakan dan berakhir dengan dia mengetahui semuanya dari apa yang Eunhyuk ceritakan. Dia… yang selama delapan tahun ini mengalami “Localized Amnesia” dikarenakan sebuah kecelakaan yang dia alami saat menjemput kedua orang tuanya yang baru saja mengunjunginya dari Amerika setelah beberapa tahun mereka tidak bertemu karena keputusan Kibum yang ingin tetap berada di Korea dan tidak mengikuti orang tuanya yang harus pindah ke Amerika karena bisnis.

Tidak, saat itu, saat di mana Eunhyuk menceritakan itu, Kibum sama sekali tidak bisa mempercayainya, hingga akhirnya Eunhyuk mengajaknya ke makam kedua orang tuanya yang membuat Kibum terdiam. Makam itu, ya… bukankah dia baru saja ke makam itu bersama Donghae? Jadi? Donghae juga tahu apa yang terjadi?

“Dia namjachingumu, Kibumie.”

Kalimat yang keluar dari mulut Eunhyuk itu sama sekali belum bisa Kibum percayai. Donghae? Kekasihnya? Benarkah? Bukankah itu berarti orang yang diceritakan Donghae padanya itu adalah dirinya sendiri? Orang yang selama delapan tahun ini tetap Donghae tunggu adalah dirinya? Mungkinkah seperti itu?

“Arrgghhhttt…” Kibum berteriak sambil mengacak rambutnya sendiri meningat semua apa yang Eunhyuk jelaskan padanya beberapa hari yang lalu itu. Dia mengeleng-gelengkan kepalanya hingga berakhir dengan tangan yang menekan erat kepalanya sendiri karena sebuah rasa pusing yang tiba-tiba menderanya.

.

.

“Kau baik-baik saja?”

Kibum memandang lurus ke arah pintu kamarnya saat dia mendengar suara seseorang yang menanyakan kabarnya, dan sepertinya itu memberitahunya bahwa dia baru saja tersadar dari pingsannya beberapa waktu yang lalu.

Sebuah pijatan kecil Kibum berikan di kepalanya seraya membenarkan posisi duduknya di atas tempat tidur yang berbalutkan sprai putih miliknya itu. “Donghae,” kata pertama yang dia ucapkan saat sudah merasa nyaman dengan posisinya. “Bagaimana kau bisa ada di sini? Dan bagaimana caranya kau bisa masuk?” beberapa pertanyaan Kibum lontarkan pada seseorang yang masih berdiri di depan pintu kamarnya itu.

“Maaf… aku…”

Kibum melihat Donghae menampakkan wajah menyesalnya karena pasti Donghae berpikir bahwa Kibum tidak suka dengan perbuatannya yang tiba-tiba saja masuk ke rumah tanpa izin.

Memang benar apa yang Donghae pikirkan, karena pada kenyataannya Kibum memang tidak suka dengan Donghae yang tiba-tiba bisa berada di rumahnya bahkan sekarang Donghae telah memasuki kamarnya di mana Donghae masih merupakan ‘orang baru’ di kehidupan Kibum, karena sesungguhnya Kibum belum bisa menerima kenyataan bahwa Donghae adalah kekasihnya, dia belum mengingat semuanya bukan?

“Maaf…”

Kembali terdengar permintaan maaf yang keluar dari mulut Donghae setelah namja itu telah terduduk di sisi tempat tidur Kibum.

‘Kriett’

Suara dua benda yang saling bergesekan menyentuh gendang telinga Kibum, dan itu disebabkan oleh sebuah tatakan yang Donghae letakkan di atas meja nakasnya. Kibum memperhatikan benda tersebut, di mana terdapat botol obatnya dan juga segelas air putih di sebelahnya, juga… sebuah benda berwarna putih seperti perak yang Kibum ketahui itu adalah kunci rumahnya yang mungkin merupakan kunci yang pernah dia berikan kepada Donghae hingga membuat dia tahu bagaimana caranya Donghae bisa memasuki rumahnya yang sangat dia yakin bahwa dia mengunci rumahnya tadi malam, karena sebenarnya memang dia belum keluar hari ini, jadi dia sama sekali tidak membuka pintu rumahnya. Dan itu juga membuat Kibum menyadari siapa yang membawanya ke kamar saat tadi dia pingsan karena rasa pusing di kepalanya.

“Aku kembalikan…” ucap Donghae dengan wajah tertunduk yang tak Kibum jawab sama sekali, “Kalau begitu aku pergi,” lanjutnya dan segera beranjak dari posisinya, hingga saat langkahnya sudah mendekati pintu untuk keluar dari kamar Kibum, suara Kibum menghentikannya.

“Maaf jika aku melupakanmu, hubungan kita.”

Donghae terdiam dengan kedua tangan yang meremas kemeja biru yang tengah dia kenakan.

“Tapi aku tetap meanganggapmu sebagai temanku, kau boleh ke sini kapanpun kau mau.”

Donghae sedikit mendongakkan kepalanya, menahan sebuah genangan di matanya agar tak keluar. Sebuah tarikan nafas dia lakukan dan kemudian membalik tubuhnya untuk memandang Kibum yang kini sudah berdiri di hadapannya.

“Terima kasih,” ucap Donghae dengan sebuah senyuman yang sangat lebar seolah-olah dia sangat bahagia atas apa yang baru saja didengarnya,  meski beberapa detik setelahnya dia segera berlari keluar dari rumah Kibum dengan sebuah aliran air mata yang tidak bisa dia tahan lagi. Tapi senyuman itu masih terlihat jelas tergambar di bibir Donghae meski air mata itu mengalir, setidaknya Kibum tidak membencinya, itu sudah cukup. Benarkah? Bukankah bahkan Donghae pernah berkata ‘Benci aku saja, tapi jangan melupakanku’ saat suatu kali Kibum pernah mengigau dan berucap kalau dia membencinya? Jadi? Apa yang sebenarnya Donghae inginkan? Kibum membencinya? Atau Kibum yang tidak bisa mengingat semuanya, tapi tak ada sedikitpun rasa benci padanya?

.

Donghae terus terduduk dengan posisi kepala yang dia benamkan di kedua kakinya yang tertetuk, juga dengan kedua tangan yang memeluk kedua kakinya tersebut. Dia terus menangis, menangis di sebuah jalan sepi, bersembunyi di belakang sebuah bangunan rumah yang sepertinya tak berpenghuni, di mana rumah tersebut terletak beberapa blok dari kediaman Kibum. Mungkin memang sebaiknya dia menangis sepuasnya di sini daripada harus berlari yang membuat semua orang akan menatapnya bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi?

Donghae terus berada di posisinya seperti itu hingga tiba-tiba dia merasakan seseorang yang bersandar di bahunya.

Dia terkejut yang seketika membuat tangisnya mereda dan juga langsung membuatnya mengangkat tubuhnya, menatap siapa orang yang melakukan hal itu. “Kyu…” ucap Donghae singkat saat mendapati Kyuhyun, pimpinan tempat di mana dia bekerja sekaligus sahabatnya. “Ke-kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Donghae heran karena melihat Kyuhyun sudah berada tepat di sampingnya sekarang.

“Kenapa kau menangis?” bukannya menjawab pertanyaan Donghae, Kyuhyun malah balik bertanya dan langsung kembali menyandarkan kepalanya kali ini di pundak Donghae.

Donghae terdiam melihat hal yang Kyuhyun lakukan padanya.

“Apa?” tanya Kyuhyun sadar Donghae tengah melihatnya yang sedang bersandar di pundak yang masih bergetar setelah tangisan yang terjadi tadi. Sebuah senyum tergambar di wajah Kyuhyun melihat jawaban Donghae yang merupakan sebuah gelengan kecil. “Bukankah seorang sahabat selalu meminjamkan pundaknya saat sahabatnya sedang bersedih? Aku sedang melakukannya sekarang,” ucap Kyuhyun yang membuat Donghae langsung mendorong tubuhnya.

“Apanya?” ucap Donghae kesal, “Aku yang sedih, tapi kau yang bersandar di pundakku,” lanjutnya yang membuat Kyuhyun terbahak mendengarnya.

“Sepertinya kau sudah lebih baik, sudah bisa membentakku.”

Ucapan singkat Kyuhyun menyadarkan Donghae, ya… Kyuhyun sedang berusaha menghiburnya sekarang.

“Kalau begitu aku pulang, apa kau mau ku antar?” sebuah tawaran Kyuhyun berikan.

“Aku bisa pulang sendiri,” tolak Donghae dengan sebuah gerakkan tangan yang menghapus jejak air mata di wajahnya.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang.”

“Tapi Kyu…” Donghae langsung menarik tangan Kyuhyun yang sudah mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkannya, “Kenapa kau bisa ada di sini?” sebuah pertanyaan yang kembali Donghae ucapkan karena sesungguhnya Kyuhyun belum menjawabnya kan?

“Sudahlah, lebih baik kau pulang,” kembali Kyuhyun tak menjawab pertanyaan itu dan segera berlalu meninggalkan Donghae yang hanya bisa menggaruk kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal.

– isfa_id –

“Merasa lebih baik?”

Kibum mengangguk menjawab pertanyaan Eunhyuk yang kini tengah menemaninya saat sepupunya itu menyelesaikan kegiatannya sebagai seorang pekerja kantoran.

“Sebenarnya aku ingin ke sini sejak tadi siang, aku benar-benar khawatir padamu saat Donghae meneleponku dan mengatakan kau pingsan.”

“Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing,” ucap Kibum membuat Eunhyuk menarik nafas lega.

“Apa benar-benar sakit?” sebuah pertanyaan Eunhyuk lontarkan, membuat Kibum yang awalnya fokus pada acaranya televisi yang dia tonton harus beralih fokus pada wajah Eunhyuk yang terlihat sedikit serius.

“Iya,” jawab Kibum mengerti dengan arah pembicaraan Eunhyuk. “Setiap kali aku berusaha untuk mengingat semuanya, kepalaku akan terasa sangat pusing dan juga sakit.”

“Jangan terlalu dipaksakan, lakukan secara perlahan.”

Sebuah obrolan terus berlangsung antara Kibum dan Eunhyuk, hingga tibalah saat di mana Kibum tertidur akibat rasa kantuk yang mendera. Eunhyuk tersenyum dan segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Kibum dari rasa dingin yang mungkin akan menerpanya.

Dibiarkannya sepupunya itu tertidur di kamarnya, dan dia langsung berjalan keluar menuju ruang tengah guna menjawab sebuah pesan singkat yang sebenarnya sudah sedari satu jam yang lalu dia terima.

From: Donghae

Apa dia baik-baik saja?

Di tempat lain, di mana Donghae tengah berbaring sendiri menatap langit-langit kamarnya, menggerutu tidak jelas karena sebuah rasa khawatir yang menderanya akibat Eunhyuk yang sama sekali tak menjawab pesannya. Tapi dia dikejutkan oleh suara handphonenya yang menandakan sebuah pesan masuk di sana.

From: Hyukjae

Dia baik-baik saja, dia sedang tidur sekarang, kau tidak perlu khawatir.

Sebuah balasan yang bisa membuat sebuah senyum terlukis di wajah wanis Donghae.

.

.

‘Ckiiittttt~ braaakkkkk~ prassshhhhh~’

Sebuah mobil Audi berwarna hitam berhenti tepat setelah menabrak sebuah pembatas jalan setelah sebelumnya berputar beberapa kali yang menimbulkan suara dentuman keras. Seorang pemuda keluar dari dalam mobil yang sudah hancur tersebut dengan susah payah di mana dia harus mendorong dengan kuat pintu mobil itu.

“Eomma…” pemuda itu berujar dengan susah payah sambil mencoba mengangkat tubuhnya yang sudah terdapat banyak luka demi menghampiri seorang wanita paruh bayah yang tergeletak beberapa meter dari tempatnya sekarang, karena wanita tersebut sudah terpental keluar dari mobil saat mobil tersebut berputar tak tentu arah.

“Eungh…” sebuah lenguhan terdengar membuat sang pemuda menghentikan langkahnya dan kembali menundukkan tubuhnya guna melihat seseorang yang mengeluarkan lenguhan tersebut yang ternyata masih berada atau tepatnya terhimpit di dalam mobil.

“Appa…” pemuda tersebut segera mengulurkan tangannya mencoba menarik sang ayah keluar dari mobil tersebut.

“Ti-dak bi-sa,” laki-laki paruh bayah itu berucap dengan sangat sulit saat dia berusaha menarik tubuhnya dari himpitan dashboard mobil, “Eom-ma-mu…” kembali laki-laki paruh baya tersebut mengeluarkan suaranya yang membuat pemuda tadi tersadar akan sang ibu yang masih tergeletak tanpa ada seorangpun yang mengangkat tubuhnya.

Pemuda itu berdiri dan kembali berusaha berlari mendekati sang ibu, tapi suara lenguhan sang ayah membuatnya kembali berhenti, “Appa…” ucapnya bingung.

“Eomma… Appa…”

Sebuah rasa pusing tiba-tiba mendera pemuda tersebut, apa yang dia lihat terasa berputar-putar, kepalanyapun tiba-tiba terasa berat, ditambah dengan tarikan nafas yang juga tiba-tiba terasa berat, hingga… hitam… gelap… semuanya hilang.

T.B.C

Setelah 4 bulan, akhirnya FF ini update juga, kkk~

Maaf, karena diupdate dalam waktu selama ini, berharap masih ada yang mau membacanya. Apakah ada yang aneh dengan ceritanya, atau apapun? Karena jujur, sebenarnya saya sendiri lupa dengan cerita FF ini, bahkan FF yang lain juga. #plak

Jadi, pelan-pelan saya membaca ulang walaupun membacanya sedikit ‘lompat-lompat’ untuk mengingat bagaimana ceritanya.

Oh ya, dan untuk penyakit Kibum, itu yang saya temukan saat berkutat (?) dengan Google, bila ada yang salah dan ada yang lebih mengerti bisa memberikan pembenaran (?) mungkin. Terima kasih.

Advertisements

36 thoughts on “Memories – 5

  1. Alhamdulillah, akhirnya Kibum mulai inget masa lalunya, ya terutama udah gak lupa sama Hae lagi, walopun gak terlalu inget sihh.. Heheheh
    Jadi, kenapa Hae ngerasa bersalah gitu eonn? Yang nyebapin kecelakaan itu emang Hae ya?
    Ahhh.. Udah gak sabar liat Kihae bareng lagi..
    Kerennnnn eonnn!! Bagus banget.
    Lanjuttt ya.

  2. kibum udah mulai ingetkah?? tapi masa lama banget 8 tahun? gimana nasibnya si ikan keburu jadi ikan asin dia heheh ._.v di ff ini belum dijelasin kan kenapa hae takut kibun benci dia? atau aku yang ga baca._.

  3. kalo aku jadi hae , aku timpuk ajaa lagi kepala kibum (?) siapa tau bisa inget lagi *dijitak*
    gila ajaaa 8th dilupain siapa yg sabar coba -kecuali donghae-

    black dragon and red tiger kapan eonn?

  4. Aahh akhirnya update 😀
    Kibum benci sama Hae?? Mending Kibum lupa ingatan aja deh … trus pelan2 jatuh cinta lagi sama Hae hihihi.
    Lanjuuutttt lagi cepat yah *maksa* :’))))

  5. huwaaaaa ada apa ini??? apa yg terjadi?? *garuk2 kpala*
    itu kyuhyun suka donghae kah??? *kkkk~ ngarep*
    aku penasaran salah hae apa sih sama kibum…. 😦
    unnie….. lanjutnya jgn lama2 dong yaahh… pwease….. -,-
    sama2 hampir lupa sama cerita sebelumnya kkkkkk~ mian 😐

  6. kasian kibummie :'((
    tapi kenapa jadi gara” hae mereka kecelakaannya ka isfa??
    trus si kyu itu, suka ya ama hae??

    lanjut aja lah 😀 ^^

  7. Sepertinya kyu diem” jdi stelkernya hae nih.. Apa kyu ada rasa yng lbih pada hae?
    Kyaaaa kibum cepet sembuh sebelum hae diambil ma kyu!

    Seperti biasa aku mau peluk hae #bighug hae

    Eonni jngn lama” yah update yaaah..

  8. Annyeong oenni~ aku reader baru di sini. Aku lagi menjelajah dunia KiHae. Eh nemu surga kihae di sini. Hehe sukaa deeh ama ff kamuu oenn! Aku baru baca beberapa sih, tapi aku suka semuanya.seruuuuuu…
    Nah, aku masih nunggu kelanjutan ini oen, penasaran. Kasiah hae nya *peluk2hae*
    Dah deh oenn, salam kenal aja^^
    Fighting oenni ngebuatnyaaa!!!!\(^°^)/

  9. Kaak maaf baru ninggalin jejak karna baru nemu blog ini dan baca memoriesnya borongan langsung ke chap ini

    Aku sukaaaaaa penasaran sama endingnya tapi di protect:(

    caranya biar dapet pw gimana kak?
    makasih ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s