Posted in KiHae Couple

Donghae: I’m a God


Kamichama_Karin_v01c01_cover_front02

Tittle: Donghae: I am God

Cast: Donghae/Kibum/Aiden dan terus bertambah(?)

Genre: Comedy, Fantasy, Romance

Warning: GS, Hae!Girl, Aiden!Girl

Cerita FF ini adalah cerita dari sebuah Manga berjudul ‘Kamichama Karin’ karya Koge Donbo tahun 2002. Tapi sebenarnya saya lebih dulu menonton Animenya daripada membaca Manganya, dan baru-baru ini. Entah kenapa setiap menonton Animenya selalu yang terbayang adalah KiHae, terlebih Kazune mirip dengan Kibum –menurutku. Dan juga sifat Karin mirip dengan Donghae –menurutku lagi. Kalau seandainya salah tolong dimaklumi karena saya tidak mengenal sosok Kibum dan Donghae sepenuhnya. Jadi, kalau seandainya ada yang sudah menonton Animenya dan membaca Manganya pasti sudah bisa tebak ceritanya. Dan juga kalau ingin mengatakan ini plagiatan boleh, tapi mungkin lebih baik menyebutnya remake agar sedikit halus *mencoba melindungi diri sendiri*.

Eum, jadi sebenarnya saya membuat ini bisa dikatakan sebagai konsumsi pribadi, hanya ingin tahu bagaimana ceritanya bila KazuneKarin diubah menjadi KiHae. Tapi mengapa saya publish? Ingin saja, tidak ada alasan lain selain itu. Dan bila ada yang mengenal sang komikus*Koge Donbo* sampaikan maaf saya karena tidak meminta izin padanya secara langsung untuk meremake Manganya. Terima kasih. ^^

– ##### –

‘Slash…’

Angin sore berhembus menemani matahari senja yang sebentar lagi akan tenggelam untuk membiarkan bulan menggantikan tugasnya malam nanti. Warna orange langit sore terlihat indah bagi yang sedang menikmatinya sekarang. Tapi tidak dengan seorang anak perempuan yang tengah berdiri diam memandangi sebuah gundukkan tanah dengan sebuah rangkaian bunga yang dipeluknya.

Anak peremuan, yang memiliki rambut berwarna coklat gelap dikepang dua, mengenakan sebuah jaket berwarna biru gelap yang hampir bisa dikatakan hitam itu sedari tadi hanya bisa terdiam memandangi gundukkan tanah tersebut, di mana terdapat sebuah batu nisan sebagai tandanya, ya… sebuah kuburan.

‘Bada…’

Nama itu terlontar dari dalam hatinya saat dia memandangi gundukkan tanah tersebut.

‘Selamat tinggal… Bada…’

Gumamnya lagi dalam hati, diikuti lambaian syal merah yang dia kenakan diakibatkan hembusan angin yang menerpanya, memberikan sensasi dingin meski sepertinya dia sama sekali tak mempedulikan itu. Karena lihatlah rok putih yang dia kenakan yang hanya sebatas lututnya, bahkan sedikit di atas, namun itu memang terlihat serasi dengan sepatu boot setengah betis yang dia kenakan.

‘Tuhan… begitu kejam…’

– ##### –

“Donghae, ada apa dengan nilai ujian ini?” suara wanita paruh baya menggelegar dari dalam sebuah rumah yang berukuran tidak terlalu besar, rumah sederhana di mana di dalamnya hanya dihuni oleh dua orang saja, salah satunya adalah Donghae, yang namanya baru saja disebutkan.

’35.’

Sebuah angka yang tertera di sebuah kertas putih yang adalah kertas ujian milik Donghae yang membuat wanita paruh bayah itu berteriak kesal.

“Mengapa kamu tidak pernah bisa melakukan apapun dengan benar?” kembali suara wanita paruh baya itu terdengar di gendang telinga Donghae, di mana dia hanya bisa terdiam mendengarkan dengan kepala yang tertunduk.

“Aku bersusah payah membesarkanmu karena kamu putri dari saudariku yang telah meninggal, dengan nilai seperti ini bagaimana mungkin kamu bisa membanggakanku.”

“Maafkan aku Imo,” Donghaepun akhirnya mengeluarkan suaranya meskipun hanya tiga kata itu yang terlontar, dan kemudian segera memasuki kamarnya dengan langkah gontai.

“Huh…” desahan itu terdengar saat dia berhasil lepas dari kemarahan sang imo.

“Guk…”

“Huwa~” Donghae berteriak kaget meski dengan sebuah rasa senang saat mendengar suara seekor anjing yang kini melompat ke dalam pelukannya.

“Guk… Guk…”

“Bada…” ucap Donghae tersenyum seraya memeluk anjing peliharaannya dengan penuh kasih sayang. Diusapnya dengan lembut anjing berbulu putih itu membuat sang anjing tak berhenti menggonggong senang.

“Terima kasih,” Donghae kembali berucap, “Orang tuaku telah meninggal, tapi Bada, kau selalu berada di sini bersamaku, karena itulah, aku tidak pernah merasa sendirian.”

– ##### –

‘Slash…’

Hembusan angin sore kembali terasa menyentuh kulit seorang anak perempuan –Donghae, yang masih berdiri terdiam di depan sebuah kuburan yang membuatnya kembali dari bayangan masa lalunya. Rangkaian bunga yang tadi berada dalam pelukkannya sudah berada di atas gundukkan tanah itu.

‘Aku… sendirian…’ gumamnya dalam hati.

“Tuhan…”

“Apa yang kau lakukan?” suara seseorang menghentikan sebuah kalimat yang akan dilontarkan oleh Donghae.

Donghae menoleh guna mengetahui siapa yang sedang berada di belakangnya sekarang, dan seketika dia terdiam setelah melihat siapa yang berada di sana, matanya membulat menatap sosok tersebut, sosok seorang anak laki-laki yang membuatnya terpesona.

Anak laki-laki yang memiliki rambut berwarna hitam kelam, dengan mata tajam meski terdapat sebuah kehangatan saat kita menatapnya. Dia berdiri di depan Donghae sekarang, di mana kedua tangannya dia sembunyikan di balik kantong jaket coklat tebal yang dia kenakan. Belum lagi sebuah syal bercorak garis hitam putih yang melingkar di lehernya dan juga celana jean’s hitam yang dia kenakan, sungguh menambah sempurnanya sosok tersebut di mata Donghae.

“Kau… mengapa kau menangis?” anak laki-laki itu melontarkan sebuah pertanyaan, tak mempedulikan reaksi Donghae yang sedang menatapnya.

‘Huwa~ anak laki-laki yang keren,’ Donghae yang masih terpesona menatap anak laki-laki itu sama sekali tidak menyadari bahwa anak laki-laki tersebut sedang bertanya padanya, dia tetap sibuk dengan kekagumannya.

‘Tidak kusangka di sini ada anak laki-laki yang keren seperti dia,’ kekaguman Donghae semakin menjadi. ‘Mirip seorang pangeran yang ada di dalam buku,’ dan semakin menjadi-jadi.

“HEI!”

“Y… ya?” Donghae terkejut saat tiba-tiba anak laki-laki itu berteriak padanya membuat dia tersadar dari lamunannya tentang kekagumannya pada anak laki-laki tersebut.

“Kau dengar kan?” ucap anak laki-laki itu sedikit kesal, “Apa yang kau lakukan di sini? Di tempat seperti ini?”

“Umm…” Donghae menunduk, dengan telapak tangan kanannya yang sedikit menyentuh bibirnya. “Bada… binatang peliharaanku,” ucapnya terbata, “Itu kuburannya,” lanjutnya seraya menunjuk gundukkan tanah di mana terdapat rangkaian bunga di atasnya.

“Heh?” anak laki-laki itu terkejut bahkan heran dengan jawaban yang dia dengar, “Apa kau bodoh?”

‘Hiyaaa~ Brak.’

Sebuah pukulan mendarat tepat di wajah anak laki-laki itu setelah dia mengucapkan tiga kata yang membuat Donghae geram mendengarnya hingga mendaratkan pukulan tersebut padanya dan sukses membuatnya tersungkur.

“Ada apa denganmu? Seenaknya saja mengatakan aku bodoh, tarik kembali kata-katamu itu!” Donghae terdengar sangat marah, dia sama sekali tidak terima dengan kata ‘bodoh’ yang anak laki-laki itu katakan padanya.

“Kamu tidak mengerti apa-apa,” lanjut Donghae meski kini nada bicaranya mulai merendah. “Bada adalah… Bada adalah…” ucapnya terisak hingga membuat dia sedikit kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya. “Bada adalah milikku yang paling berharga! Milikku yang berharga.”

“Ya ya…” anak laki-laki itu berucap santai seraya membersihkan pakaiannya yang kotor akibat tersungkur karena pukulan Donghae tadi. “Ini salahku karena telah mengganggumu,” lanjutnya tetap dengan cara bicara yang sangat santai seolah-olah dia tidak melakukan kesalahan apapun meskipun dia mengatakan ‘ini salahku’.

“Heh?” Donghae hanya bisa terdiam mendengar dan melihat cara bicara anak laki-laki itu yang menurutnya sangat tidak sopan.

“Astaga… kau sangat berisik dengan tangisan dan teriakan itu,” anak laki-laki itu kembali melanjutkan ucapannya, “Anak perempuan… mereka memang makhluk yang berisik,” dia mengakhiri ucapannya dan dengan santai berjalan menjauhi tempat tersebut dan meninggalkan Donghae sendirian dengan sebuah rasa kesal yang teramat sangat.

“Kau anak nakal!” Donghae berteriak melihat anak laki-laki itu berjalan meninggalkannya, “Tunggu! Aku belum selesai!” dia terus berteriak meski anak laki-laki tersebut sama sekali tidak menghentikan langkahnya. “Bada adalah milikku…” ucapannyapun terhenti setelah anak laki-laki itu benar-benar telah menghilang dari pandangannya.

‘Tentu saja aku akan menangis, karena… karena aku…’

‘Tesh…’

Air mata itupun mengalir.

– ##### –

“Kau bilang binatang peliharaanmu mati?”

“Iya.”

“Bergembiralah.”

“Kau masih bisa membeli binatang peliharaan baru jika kau mau.”

“Jadi, apa yang kau mau sekarang?”

Donghae, dengan gaya rambut dikepang dua pagi ini tersenyum canggung saat dua orang teman sekelasnya mengajaknya bicara tentang binatang peliharaannya yang kemarin mati di koridor kelas mereka. Ditatapnya dua temannya itu bergantian dengan tawa tertahannya. Hingga akhirnya kalimat “Kurasa kucing bagus juga,” itu keluar dari mulutnya.

“Membosankan.”

“Hem.”

Donghae terdiam saat tiba-tiba dua temannya itu pergi dari hadapannya, jadi apa maksud mereka tadi mengajaknya bicara bila saat dia mengatakan keinginannya mereka pergi begitu saja?

‘Aku… sendirian sekarang…’ batinnya.

Tapi beberapa detik setelah itu, seperti dirasuki sesuatu Donghae mengepalkan kedua tangannya di depan wajahnya dan berujar ‘Baiklah!’ dalam hati.

“Sekarang, Bada bersama Tuhan mengawasiku dari surga!” ucapnya mulai menyemangati dirinya sendiri, tak masalah meskipun dia sendiri bukan? “Mulai sekarang, aku akan berusaha sebaik mungkin dalam segala hal!” semangat itu mulai membara.

‘Aku akan baik-baik saja walau tanpa Bada.’

– ##### –

“Saya akan membagikan hasil ujian kalian sekarang!” ucap seorang guru yang berdiri di depan kelas dengan setumpuk kertas hasil ujian di tangannya dan kemudian mulai memanggil satu-satu muridnya dan memberikan hasil ujian tersebut pada mereka.

’20.’

“Du… dua puluh?” Donghae yang tadi baru saja menyemangati dirinya sendiri dan mengatakan bahwa dia akan melakukan yang terbaik dalam segala hal langsung terdiam melihat hasil ujian yang baru saja dia terima, ‘INI BURUK!’ batinnya.

.

“Hosh… hosh…” Donghae terus berlari guna menyusul teman-temannya yang sudah sampai garis finish seluruhnya saat pelajaran olahraga berlangsung dan itu karena dia… ada di urutan terakhir.

.

“Mana PRmu?”

“Tinggal seonsaengnim.”

“Bersihkan toilet!”

Hingga di sinilah Donghae berada, berkutat dengan semua alat pembersih toilet sebagai hukuman baginya karena meninggalkan buku PRnya hari ini. Apakah ini tandanya dia sudah melakukan segala hal dengan baik?

– ##### –

“Huh…”

Sebuah tarikan nafas terdengar keluar dari mulut seorang anak perempuan yang sedang merasa sangat tidak baik sekarang.

‘Aku… merasa buruk,’ batinnya seraya menapaki anak tangga di sebuah taman kota yang terletak tidak jauh dari sekolahnya, ya… dia adalah Donghae.

’20.’

Dia memperhatikan kembali kertas hasil ujiannya yang merupakan jawaban mengapa dirinya merasa sangat tidak baik, “Kalau aku tunjukkan hasil tes ini pada imo, dia pasti akan marah lagi.”

‘Fiuh.’

Donghae mendongakkan kepalanya menatap langit cerah meski tak secerah hatinya.

‘Kalau itu terjadi, Bada tidak akan ada untuk menghiburku lagi.’

Donghae terus memandangi langit dengan perasaan gundah di hatinya dan itu terpancar dari tatapan matanya yang kini mulai mengabur akibat air mata yang telah menggenang.

‘Ayah… Ibu…’ dia memegangi dadanya, entah kenapa rasa rindu itu tiba-tiba muncul, ‘Bada…’

“Heh? Apa kau bodoh?”

“Huwa~” Donghae tiba-tiba berteriak saat sebuah kalimat terlintas di pikirannya, “Aku tiba-tiba ingat anak nakal itu,” oh… itu ternyata penyebabnya. “Dia bahkan tidak peduli dengan perasaan orang lain! Lain kali jika aku bertemu dengannya, aku akan…” dia terus mengoceh tak jelas tentang anak laki-laki yang kemarin sore dia temui dan kemudian membalik tubuhnya, hingga…

‘Brak.’

“Huwa~”

“Huwa~”

“Ah.”

‘Huwa~ anak perempuan yang cantik,’ Donghae terdiam saat menyadari bahwa dia menabrak seseorang dan kini yang tampak di depan matanya adalah seorang anak perempuan cantik yang sepertinya seumuran dengannya tengah terduduk akibat terjatuh akibat tabrakan tadi.

“Maaf,” anak perempuan yang terjatuh itu meminta maaf seraya berdiri.

“Ah, akulah yang seharusnya minta maaf, maafkan aku, kau baik-baik saja?” Donghae merasa tidak enak karena telah menyebabkan anak perempuan itu terjatuh.

“Ah, tasku.”

“Ini semua salahku, aku akan mengambilnya untukmu,” Donghae langsung memungut semua barang anak perempuan yang berhamburan itu dan memasukkannya satu per satu ke dalam tasnya.

‘Dia memiliki aksesoris yang lucu, kosmetik juga,’ batinnya saat memasukkan barang-barang milik anak perempuan itu. ‘Huwa~ ini sangat indah!’ dan dia mulai berlebihan.

“Kau… menangis?”

“Aku… umm…” Donghae hanya tersenyum canggung mendengar pertanyaan anak perempuan itu, ini memalukan karena anak perempuan itu mengetahui dia sedang menangis. “I… ini barang-barangmu,” dia mengalihkan pembicaraan dengan menyerahkan semua barang-barang anak perempuan itu yang sudah dia masukkan semua ke dalam tas.

“Terima kasih,” anak perempuan itupun menerimanya dengan senyuman yang ceria.

‘Dia sangat manis, aku iri,’ kembali Donghae berbicara pada hatinya sendiri.

Bagaimana mungkin Donghae tidak ‘terpesona’ melihat kecantikan anak perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Lihatlah, anak perempuan dengan rambut hitam sebahu yang dihiasi beberapa aksesoris kecil di rambutnya dan memiliki wajah putih berseri itu, bukankah dia memang terlihat sangat cantik? Belum lagi gaya berpakaiannya yang fashionable untuk anak seusia mereka, dengan jaket selutut yang terkancing rapat hingga ke leher dan sepatu boot hitam yang menutupi betis indahnya.

“Kau punya banyak barang di sana,” Donghae mulai mengajak anak perempuan itu bicara, “Aksesoris yang lucu, juga kosmetik, di sekolahku tidak ada anak perempuan yang memiliki hal seperti itu, itu terlihat sangat indah, di mana kau membelinya?” dan kalimatnya sangat panjang hingga membuat si anak perempuan tersebut tersenyum.

‘Heh? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?’

“Kau ingin mencobanya?”

“Eh?” Donghae terkejut saat anak perempuan itu menawarinya untuk menggunakan aksesoris dan kosmetik yang dia punya. “Ti… tidak, bukan itu maksudku, maaf.”

Dan anak perempuan itupun tertawa melihat Donghae mengibas-ngibaskan tangannya saat mengatakan permintaan maafnya dengan nada yang begitu canggung. “Menangis itu tidak baik, apalagi kau sangat manis.”

“Eh?” kembali Donghae terkejut, “Aku tidak seperti itu, kau menyanjungku, aku tidak seperti itu.”

“Ayo,” anak perempuan itupun menarik Donghae dan mulai melakukan sesuatu padanya tanpa mempedulikan penolakan yang Donghae lakukan, “Jangan khawatir kau tetap akan terlihat manis.”

“E-hehe,” dan Donghae hanya bisa tertawa kikuk.

‘Cring.’

Hingga inilah penampilan baru Donghae, dengan rambut yang kini dikuncir dengan pita yang bertengger di dua kuncirnya tersebut, dan juga dengan wajah yang terlihat lebih cerah berkat kosmetik tipis yang menempel di wajahnya.

“Huwa~ kau terlihat sangat cantik!”

“Ini sangat memalukan,” dan alhasil Donghae yang baru saja disulap menjadi cantik itu menunduk malu.

“Jangan seperti itu,” anak perempuan yang sudah mendandaninya berkata bingung melihatnya yang hanya menunduk, “Umm…” gumamnya ragu, “Namaku Kim Aiden,” akhirnya anak perempuan itu memperkenalkan dirinya.

“Aku Donghae, senang bertemu denganmu.”

“Sama-sama.”

“Aku boleh memanggilmu Aiden?”

“Hem.”

Dan terjadilah obrolan yang menyenangkan antara mereka berdua.

“Sebenarnya,” Donghae memulai untuk berbicara meski sedikit ragu, “Ini pertama kalinya bagiku,” ucapnya seraya memperhatikan penampilan barunya sendiri. “Itu karena, aku tidak mempunyai ayah dan ibu.”

“Eh? Begitukah?” ucap Aiden terkejut.

“Hem, dan kemarin binatang peliharaanku juga mati,” jawab Donghae dengan suara yang sedikit sedih.

“Ini…” Donghaepun memperhatikan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya dan memperlihatkannya pada Aiden.

“Itu cincin yang indah, jenis batu apa itu?” ucap dan tanya Aiden seraya memperhatikan cincin Donghae.

“Eh?” Donghae bingung, “Sebenarnya, aku tidak tahu tentang itu,” ucapnya, padahal dia sudah memakai cincin itu sangat lama.

“Sejak Bada mati,” Donghae kembali mulai bercerita, “Satu-satunya hal yang aku miliki, adalah cincin yang ibuku berikan untukku ini.”

“Begitukah?”

“Hem.”

“Aku juga tidak punya orang tua,” Aidenpun ikut menceritakan kisah hidupnya pada Donghae yang membuat Donghae sangat terkejut.

“Karena itulah aku tinggal di rumah sepupuku, aku orang yang buruk, kan?”

Donghae hanya terdiam mendengarkan cerita Aiden, dia sama sekali tidak menyangka tentang hal itu. ‘Aiden, sama sepertiku,’ batinnya, ‘Meskipun begitu, dia sangat manis, dan sangat baik, tidak sepertiku. Aku selalu membuat diriku terlihat sangat malang.’

“Ada apa?” tanya Aiden melihat Donghae yang hanya terdiam di sampingnya.

“Eh?” Donghaepun terkejut dan langsung menampakkan senyum tipis pada Aiden seraya berujar “Tidak ada apa-apa.”

“Ah! Kibum!” Aiden menyebutkan nama seseorang, yang membuat Donghae terdiam bingung dan kemudian langsung menoleh ke arah di mana tatapan Aiden tertuju.

“Hem.”

‘Huwa~’ apa yang baru saja terjadi sukses membuat Donghae berteriak dalam hati, apa yang dia lihat sekarang sangat tidak dia sangka, anak laki-laki itu.

“Donghae, dialah orang yang tinggal bersamaku, yang aku katakan tadi padamu, sepupuku,” Aiden memperkenalkan anak laki-laki yang baru saja datang tersebut pada Donghae setelah dia berdiri di samping anak laki-laki itu. “Kim Kibum,” lanjutnya menyebutkan nama anak laki-laki tersebut.

“Kibum, ini adalah teman baruku, Donghae,” kali ini Aiden berbalik memperkenalkan Donghae pada Kibum.

“Jadi, kau Kibum ya?” ucap Donghae dengan senyuman yang mungkin lebih tepat disebut seringaian.

‘Hiyaaa~ Brak.’

Sebuah pukulan Donghae daratkan di wajah Kibum yang berhasil membuat Kibum terjungkal.

“Sekarang kita bertemu di sini! Kau akan menyesal seratus juta kali lebih dari sebelumnya untuk datang lagi!” teriak Donghae menunjuk-nunjuk Kibum yang sedang terkapar, sementara Aiden hanya bisa tercengang dengan apa yang terjadi di hadapannya sekarang.

“Kau itu yang kemarin,” Kibum, yang kini sudah duduk dan mengusap pipinya di mana tadi Donghae memukulnya mulai bersuara, “Apa yang kau inginkan?” ucapnya dingin. “Sangat buruk bagi seorang anak perempuan untuk melakukan kekerasan seperti ini, dan aku tidak berpikir aku pantas diperlakukan seperti ini,” lanjut Kibum yang berhasil membuat Donghae semakin geram dan ingin kembali menyerangnya.

“Kau masih mengeluh tentang apa yang aku katakan kemarin?” Kibum kembali berucap, “Anak perempuan sungguh menjengkelkan.”

“Kau terus mengatakan anak perempuan begini, anak perempuan begitu, kau harus minta maaf atas apa yang kau katakan tentang Bada, bodoh!” Donghaepun kembali berteriak. “Kau anak nakal!” teriaknya lagi seraya mengepalkan tangan dan berucap “Atau aku akan membuatmu melakukannya dengan tinju ini?”

“Jadi, kalian saling kenal?” Aidenpun yang tidak mengerti dengan keributan yang terjadi mencoba menenangkan pertengkaran antara sepupu dan teman barunya itu. “Bisa, Kibum bisa melakukan itu,” lanjutnya agar Donghae tak kembali memukul Kibum.

“Aku minta maaf padanya?” ucap Kibum tetap dengan dinginnya, “Apa kau bodoh?”

“Tapi… tapi dia kuat, dia juga manis,” Aiden tetap berusaha untuk mendamaikan mereka, apalagi dia tidak ingin Kibum kembali mendapatkan pukulan.

“Untuk apa mengurusinya? Kita harus mencari sesuatu yang penting, dewa, D.E.W.A.”

“Apa yang kalian bicarakan?” Donghae terlihat bingung dengan kalimat terakhir yang Kibum ucapkan. “Dewa? Ada apa dengan dewa?” tanyanya sambil menggaruk kepalanya sendiri. “Dewa ya?” lanjutnya dengan pose seolah-olah berpikir, “Aku selalu memikirkan itu saat Bada mati, dia pasti akan bertemu dengan dewa…”

“DIAM!” Kibumpun berteriak. “Ini tidak ada hubungannya dengamu, jangan ikut campur dalam pembicaraan orang lain! Anak perempuan benar-benar menyebalkan!”

Kaki Donghae bergetar mendengar semua apa yang Kibum katakan, “Ini salahku, maaf,” diapun berucap pelan. “Memang benar aku melaukan itu, tapi, tidak ada salahnya aku mengungkapkan pikiranku, kau anak nakal!”

‘Hiyaaa~’

Donghae kembali melayangkan tinju kepada Kibum karena kesal akan sikap Kibum padanya. Tapi sepertinya Kibum sudah bisa membaca pergerakkan Donghae karena ini sudah ketiga kalinya, bukan? Jadi dia sudah bisa mengendalikannya. Hingga Kibum langsung menghindar dan menggenggam tangan Donghae yang hendak memukulnya, tapi hal itu malah membuatnya terbelalak.

“Cincin ini?”

“Lepaskan aku!” Donghae langsung menarik tangannya dari genggaman Kibum dan menyembunyikan cincin yang ada di jari manisnya dengan cara menutupnya menggunakan telapak tangannya sendiri. “Ini… ini adalah peninggalan berharga dari ibuku, aku tidak akan membiarkan orang sepertimu untuk menyentuhnya!”

“Ini hanya sebentar.”

“Tidak, hentikan!” teriak Donghae saat Kibum kembali mencoba menarik tangannya. “Tidak!”

‘Splash.’

Sebuah sinar yang menyilaukan tiba-tiba keluar dari cincin yang Donghae kenakan sesaat setelah dia berteriak, membuatnya, Kibum dan juga Aiden terdiam terkejut.

“Apa yang kau lakukan? Bodoh!” Donghae kembali berteriak dan kemudian langsung melemparkan tasnya tepat mengenai wajah Kibum lalu berlari menjauh tanpa mempedulikan Kibum yang berteriak akibat lemparannya.

“Donghae!” Aiden berteriak memanggil Donghae, tapi itu tidak membuat Donghae menghentikan larinya. “Donghae!”

“Ini buruk,” Kibum bergumam, “Kurasa, aku sudah melakukan hal buruk padanya.”

.

‘Tap, tap, tap.’

Donghae terus berlari menjauh, menjauh dan semakin menjauh.

‘Orang itu, apa yang dia inginkan dengan cincinku? Dia pasti berpikir bukan masalah besar jika dia memecahkannya.’

‘Slash.’

‘Ini?’ Donghae merasakan sesuatu, ‘Ada apa ini? Aku bisa berlari secepat ini?’ herannya, karena pada kenyataannya di lomba lari dia pasti selalu berada di urutan terakhir. ‘Bukan hanya itu, entah kenapa aku merasa sangat bersemangat, ini terasa begitu aneh, apa yang terjadi?’

– ##### –

“Selamat pagi.”

“Pagi.”

“Selamat pagi.”

Donghae tersenyum menyambut ucapan selamat pagi dari teman-teman sekelasnya, tapi hal itu membuat teman sekelasnya terdiam terkejut.

“Ap… apa yang terjadi padamu Donghae?”

“Entah kenapa, kau terlihat begitu berbeda dari biasanya.”

“Gaya rambut barumu sangat manis,” sebuah komentar terlontar dari salah satu temannya mengenai gaya rambutnya yang dikuncir, padahal selama ini Donghae selalu mengepangnya.

“Tapi bukan hanya itu.”

“Benarkah?” ucap Donghae malu-malu menanggapi ucapan teman-temannya. “Sebenarnya, aku tidak melakukan apapun,” lanjutnya dan segera berjalan meninggalkan teman-temannya itu. ‘Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?’ batinnya bangga mencoba mengikuti cara teman-temannya berbicara. ‘Aku bisa merasakan sesuatu yang meluap dalam tubuhku.’

.

‘100.’

“Ehhh~” Donghae berteriak tidak percaya saat angka 100 tertera di kertas ujiannya kali ini. ‘Ini menakjubkan, sungguh menakjubkan,’ batinnya.

.

‘Ting, ting, ting.’

‘Aku bahkan bisa bermain piano.’

.

‘Perhitungan rumit terlihat sangat mudah sekarang.’

.

‘Kekuatan, keyakinan, kebijakan.’

‘Aku memiliki semuanya.’

.

‘Bada, ternyata Tuhan tidak meninggalkanku.’

‘Tidak, bukan itu!’

‘Lebih seperti aku memiliki Tuhan dalam diriku.’

Donghae terus berucap dalam hati, ini dan itu, semuanya, tentang semua yang terjadi padanya hari ini.

‘Tapi, mengapa semuanya terjadi begitu sempurna? Ini sangat aneh,’ ucapnya setelah menyadari sesuatu, sesuatu yang aneh yang tak pernah ia alami selama ini. ‘Mungkinkah berhubungan dengan cincin ini saat kemarin tiba-tiba bersinar?’ lanjutnya seraya memperhatikan cincin yang berada di jari manisnya. ‘Entah kenapa, ini agak menakutkan.’

‘Umm, kelas selanjutnya olahraga,’ Donghae mencoba menghilangkan rasa takutnya dengan menatap langit dari kaca depan kelasnya. ‘Kurasa kelas olahraga hari ini akan marathon lagi, aku sungguh tidak suka, apalagi cuaca sangat terik,’ rutuknya.

‘Memangnya kenapa bila kelas olahraga tidak diadakan? Apakah akan ada badai besar yang datang?’ rutuknya lagi, ‘Bercanda,’ diapun tertawa sendiri dengan khayalan tak masuk akal yang melintas di otaknya, ‘Sebesar apapun kemungkinannya, itu tidak mungkin terjadi, lebih baik aku ganti baju,’ putusnya.

“Hei lihat!” suara salah satu teman sekelasnya sedikit mengejutkan Donghae.

‘Duar! Jedar.’

“HUWAAA~” Donghae berteriak tak jelas saat tiba-tiba suara petir dan kilat menyambar.

“Badai yang mengerikan.”

“Semoga cuaca kembali baik.”

“Mungkinkah seseorang melakukan hal ini?”

“Itu konyol, orang itu harus menjadi dewa untuk bisa memanggil badai seperti ini.”

“Semuanya, guru kita belum mengatakan apapun, tapi kelas sore mungkin akan dibatalkan karena hujan deras.”

“Eh? Benarkah? Untunglah!”

Reaksi teman satu kelasnya membuat Donghae terdiam, tak ada apapun yang bisa dia ucapkan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk berlari keluar dari kelasnya bahkan kini sudah keluar dari gedung dan halaman sekolah. Dia tak peduli hujan deras yang membuatnya basah kuyup sekarang, sama sekali tak peduli.

‘Tidak mungkin! Ini pasti kebetulan! Tidak mungikin! Ini bukan aku yang melakukannya! Apapun hal baik yang terjadi padaku hari ini, tapi untuk bisa melakukan hal seperti ini sangat mustahil! Tapi, mengapa jantungku berdetak sangat cepat? Dan, di mana aku?’ Donghae mulai menyadari bahwa dia telah terlalu jauh berlari, hingga akhirnya dia menyadari di mana dia berada sekarang, di sini, di tempat binatang peliharaannya dikuburkan. ‘Bada.’

‘Mengapa? Mengapa aku merasakan perbedaan dalam hatiku? Mengapa?’ tanyanya pada hatinya dengan nafas yang tersengal akibat berlari dengan jarak yang sangat jauh. ‘Apakah karena kejadian kemarin?’ tanyanya lagi mengingat kejadian di mana cincinnya tiba-tiba bersinar.

“Apa yang kau lakukan?” tiba-tiba suara seseorang menghentikan semua pemikiran Donghae.

“Apakah itu anak nakal itu lagi?”

Donghae menatap seorang anak laki-laki yang telah berdiri di hadapannya sekarang, dengan pakaian serba hitamnya dan mengenakan kaca mata tengah menatapnya dengan sebuah seringaian yang penuh dengan kelicikan di dalamnya.

“Aku mencarimu, Dewa.”

T.B.C

Menemukan perbedaan di dalamnya?

Memang ada beberapa perbedaan, seperti Bada yang adalah anjing di sini, di mana di manganya adalah Shii-chan si kucing. Dan rambut Kibum berwarna hitam kelam di sini, sementara di manganya Kazune berambut kuning cerah. Tapi, untuk cerita tidak ada perbedaan sama sekali.

Bagaimana? Masih ingin diteruskan? Atau tidak usah, karena kalian mungkin sudah sangat tahu ceritanya, dan pula ini hanya sebuah remake yang mungkin akan kalian sebut sebagai plagiatan.

Advertisements

10 thoughts on “Donghae: I’m a God

  1. lanjut ah … emang diawal ga ngerti sama nih cerita tapi mungkin chp 2 3 4 5 6 ,,,dst(?) bisa ngikutin alur nya,, dan lagi manga + anime yg eonn sebut diatas aku belum baca apa lagi nonton -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s