Posted in KiHae Couple

Donghae: I’m a God – 2


Kamichama_Karin_v01c02_pg001

Tittle: Donghae: I am God

Cast: Donghae/Kibum/Aiden dan terus bertambah(?)

Genre: Comedy, Fantasy, Romance

Warning: GS, Hae!Girl, Aiden!Girl

Cerita FF ini adalah cerita dari sebuah Manga berjudul ‘Kamichama Karin’ karya Koge Donbo tahun 2002. Tapi sebenarnya saya lebih dulu menonton Animenya daripada membaca Manganya, dan baru-baru ini. Entah kenapa setiap menonton Animenya selalu yang terbayang adalah KiHae, terlebih Kazune mirip dengan Kibum –menurutku. Dan juga sifat Karin mirip dengan Donghae –menurutku lagi. Kalau seandainya salah tolong dimaklumi karena saya tidak mengenal sosok Kibum dan Donghae sepenuhnya. Jadi, kalau seandainya ada yang sudah menonton Animenya dan membaca Manganya pasti sudah bisa tebak ceritanya. Dan juga kalau ingin mengatakan ini plagiatan boleh, tapi mungkin lebih baik menyebutnya remake agar sedikit halus *mencoba melindungi diri sendiri*.

Eum, jadi sebenarnya saya membuat ini bisa dikatakan sebagai konsumsi pribadi, hanya ingin tahu bagaimana ceritanya bila KazuneKarin diubah menjadi KiHae. Tapi mengapa saya publish? Ingin saja, tidak ada alasan lain selain itu. Dan bila ada yang mengenal sang komikus*Koge Donbo* sampaikan maaf saya karena tidak meminta izin padanya secara langsung untuk meremake Manganya. Terima kasih. ^^

– ##### –

Seorang anak laki-laki dengan mengenakan pakaian serba hitamnya, dan juga kacamata yang bertengger di hidung mancungnya tengah berdiri dalam guyuran air hujan dan juga sambaran-sambaran petir dengan tenangnya, bahkan kini sebuah seringaian dia tunjukkan saat menatap seorang anak perempuan di depannya.

“Aku mencarimu, Dewa,” ucapnya datar seraya terus menatap anak perempuan itu dingin.

Anak perempuan itu, yang adalah Donghae terdiam dengan telapak tangan kanannya yang menyentuh dadanya, hingga membuat sesuatu yang melingkar di jari manisnya dapat terlihat jelas oleh anak laki-laki itu.

“Cincin itu…” anak laki-laki itupun kembali berucap, “Jadi itu benar,” lanjutnya dengan nada bicara yang sangat dingin.

Donghae sama sekali tak mengerti dengan apa yang anak laki-laki itu bicarakan, dan itu terlihat jelas dari wajahnya yang menampakkan keterkejutannya, “Heh…” gumamnya, dan kemudian teringat dengan kalimat pertama yang dia dengar tadi. “Apa yang kau bicarakan?” tanyanya penasaran karena tak mengerti dengan maksud dari ucapan anak laki-laki itu. “De…de… dewa? Dewa… maksudmu dewa?” ucapnya dengan nada kebingungan.

“Heh…” anak laki-laki itupun menampakkan seringaiannya, “Itu lelucon yang lucu, kkk~” ucapnya dengan tawa yang seakan mengejek.

Diapun berjalan mendekati Donghae, hingga kini mereka sudah benar-benar dekat. Disentuhnya dagu Donghae dengan jari telunjuk dan jempolnya, kemudian sedikit mengangkat wajah itu dikarenakan Donghae yang lebih pendek darinya. Diapun menunduk menatap wajah Donghae, sementara Donghae sendiri hanya bisa diam membalas tatapan anak laki-laki itu.

“Kau belum tahu?” ucap anak laki-laki itu dan melepaskan wajah Donghae. “Kau sendirian kan,” dia melanjutkan ucapannya membuat Donghae bingung.

“Eh.”

“Aku melakukan penyelidikan tentangmu,” kembali anak laki-laki itu berucap, “Kau tidak memiliki orang tua, kau hanya membuka hatimu untuk teman anjingmu yang berharga, dan…” lanjutnya menggantung kalimat terakhirnya seraya menolehkan pandangannya pada gundukkan tanah di dekatnya hingga akhirnya dia berujar “Ini adalah kuburan teman berhargamu, kkk~”

“Kau belum bisa menjadi dewa, kau sangat buruk,” anak laki-laki itu terus berucap, tak memperhatikan Donghae yang kini tengah terdiam dengan kepala tertunduk dan juga tangannya yang terus dia letakkan di dadanya.

“Sendirian,” Donghae bergumam mengingat kata ‘sendirian’ yang anak laki-laki itu katakan.

‘Jrash.’

Anak laki-laki itu tiba-tiba terdiam, saat dia merasakan ada sesuatu yang mendekati mereka, “Hm?” gumamnya dengan memicingkan mata, mencoba menajamkan tentang perasaan yang dia rasakan, “Sepertinya kita kedatangan tamu tak diundang,” ucapnya setelah mengetahui apa yang mendekati mereka, “Cih!” diapun mendesis dan langsung menghilang dari pandangan Donghae.

“Eh,” Donghae terdiam, kembali terdiam, ‘Apa,’ batinnya menyadari bahwa anak laki-laki itu sudah menghilang. Diapun terlihat geram dengan apa yang baru saja terjadi hingga membuatnya mengepalkan kedua tangannya.

“Ada apa dengan anak laki-laki itu?” dia berteriak kesal, “Sejak kemarin, semua orang berlaku kasar padaku,” dan terus dia berteriak, “Sendirian katanya,” sepertinya kata-kata anak laki-laki itu sangat melekat di otaknya hingga membuat dia kembali mengulang kata-kata itu, “Benar, Bada sudah mati, tapi sekarang, ada seseorang yang ingin berteman denganku, karena kemarin…” nada bicara Donghaepun memelan, “Aiden sudah menjadi temanku, karena itulah, aku, tidak sendirian.”

“Ah! Di situ kau rupanya.”

Suara seseorang yang ada di belakang Donghae terdengar, tapi sepertinya Donghae tak menyadari itu, hingga akhirnya membuat orang tersebut yang adalah Kibum harus berteriak padanya.

“HEI! Kau di sana!”

“Ah,” Donghae akhirnya menyadari keberadaan Kibum di belakangnya hingga membuatnya langsung membalik badannya. Dan terlihatlah di matanya Kibum dengan jaket putih selututnya dan syal bermotif garis hitam putih telah basah akibat hujan yang sedari tadi tak kunjung reda.

“Aku mencarimu,” dua kata itu terlontar dari mulut Kibum.

Donghae tak peduli, dia benci anak laki-laki, dan itu juga berlaku untuk Kibum, hingga kini dia membalik kembali tubuhnya membelakangi Kibum, “Ap…apa yang kau inginkan?” tanyanya ketus, “Cepat katakan apa maumu!” teriaknya, “Karena cuaca ini, hanya hal aneh yang terjadi padaku hari ini,” sepertinya Donghae sedang tidak merasa baik saat ini, “Aku mulai lelah dengan semua ini,” bukankah sepertinya memang seperti itu, dia benar-benar sedang tidak baik sekarang.

Kibum terbelalak, sebuah perasaan aneh langsung menerpanya. Diapun segera mendekati Donghae dan langsung membalik tubuh Donghae menghadapnya dengan cara memegang kedua pundak Donghae. “Hal aneh?” ucapnya pada Donghae sambil menatap wajah Donghae yang menunduk. “Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya yang sama sekali tak membuat Donghae berucap sedikitpun. “Jadi, ap…apa kau menemukan sesuatu yang aneh? Atau kau bertemu seseorang?” tanya Kibum dengan nada penuh kekhawatiran.

Mengapa? Mengapa Kibum khawatir? Entahlah. Dan itu membuat Donghae menatap Kibum tak suka, hingga didorongnya tubuh Kibum menjauhinya.

“Aku tidak percaya dia akan datang ke sini,” Kibum bergumam sendiri, bergelut dengan perasaannya, sama sekali tak merasa tersinggung dengan perlakuan kasar Donghae padanya.

“Kau sangat buruk, sendirian.”

Sementara Kibum terus bergelut dengan pikirannya, kalimat anak laki-laki tadi melintas kembali di pikiran Donghae.

“Jika ada sesuatu, tolong beritahu aku,” akhirnya Kibum kembali berucap pada Donghae, setelah bergelut beberapa lama dengan pikirannya. “Dan jika kau merasa kesepian…”

“Bukan apa-apa!” potong Donghae membuat Kibum menghentikan kalimat yang akan dia utarakan. “Tidak ada yang terjadi, tinggalkan aku sendiri, pergi!” teriak Donghae dan kembali memunggungi Kibum, dia benar-benar tak ingin melihat Kibum atau siapapun sekarang.

“Kau selalu mengatakan ‘kau’ ‘kau’! Namaku Donghae, kau tahu!” teriaknya semakin kesal, “Berhenti memperlakukan seseorang seperti barang.”

Tiba-tiba Donghae berhenti berucap, matanya terbuka. Sebuah rasa hangat dia rasakan, bahkan tetes air hujan mulai tak menyentuh tubuhnya, meskipun pada beberapa bagian masih.

“Kau… bodoh!” ucap Kibum setelah dia melepaskan jaket putih tebal yang dia kenakan dan memakaikannya pada Donghae tepat di kepalanya, dan itulah yang menyebabkan Donghae tak merasakan lagi air hujan yang membasahinya. “Kau akan kedinginan,” lanjutnya tanpa mempedulikan bahwa tubuhnya sendiri sudah benar-benar basah kuyup sekarang.

“Maafkan aku, kau bisa melupakanku.”

“Eh,” Donghae membalik tubuhnya saat Kibum mengucapkan kalimat itu, dan kini yang terlihat di mata Donghae adalah Kibum yang tengah menundukkan kepalanya.

“Aku tidak bermaksud untuk mengacaukan kehidupan Donghae,” sebuah kalimat kembali terlontar dari mulut Kibum dengan menyebutkan nama ‘Donghae’ di dalamnya. “Aku tidak pernah berpikir akan sejauh ini, aku benar-benar menyesal, Donghae,” lanjutnya pelan. “Walaupun ini hanya sebentar, aku sangat senang karena aku bertemu denganmu,” Kibum berucap dengan sangat lembut dan syarat akan ketulusan di dalamnya, belum lagi sebuah senyuman yang sangat manis dia tujukan pada Donghae, membuat Donghae terdiam.

“Cincin itu, kau katakan sebelumnya, itu adalah milikmu yang berharga, kan?”

“E-em,” Donghae menjawab pelan pertanyaan Kibum, meski hanya dengan sebuah gumaman dan terdengar sedikit nada canggung di dalamnya, dan entah karena apa.

“Jagalah itu dengan baik,” ucap Kibum seraya membalikkan tubuhnya dan kemudian berujar “Selamat tinggal,” dengan langkah yang perlahan mulai meninggalkan Donghae.

“Ah,” Donghae yang seakan baru mulai tersadar dengan apa yang terjadi langsung berteriak, “Tunggu, Kibum!”

‘Swing.’

Hening, hanya hembusan angin dan tetes air hujan yang kini Donghae rasakan, Kibum sudah pergi.

“Ki…bum…”

– ##### –

Donghae, yang kini tengah mengenakan piyama putih polosnya tengah terbaring di ranjangnya yang juga dilapisi sprai berwarna putih bersih. Raut wajahnya terlihat tak begitu bersemangat. ‘Banyak yang telah terjadi dan itu membuatku lelah,’ batinnya. ‘Hmm…’ diapun mendesah dalam hati.

“Aku mencarimu, Dewa.”

“Selamat tinggal.”

“Kau sendirian.”

Tiga kalimat itu kembali melintas di pikiran Donghae, kalimat anak laki-laki itu dan juga kalimat yang Kibum lontarkan.

Donghae diam, dan kemudian mengangkat tangannya menampakkan cincin yang tengah dia kenakan. ‘Sendirian,’ gumamnya dalam hati. “Kibum…”

“Kau bisa melupakanku.”

“Dia tidak akan lagi menemuiku,” Donghae berucap sedih saat mengingat kalimat yang Kibum katakan padanya tadi di depan kuburan Bada.

‘Huft.’

Donghae segera merubah posisinya menjadi duduk dengan kedua kaki yang dia tekuk hingga mengenai dadanya, “Tapi, itu bukan berarti aku kesepian,” ucapnya seraya mereganggkan otot tangannya dengan cara menarik kedua tangannya ke atas, seperti menggeliat. “Aku tidak akan sendirian hanya karena Kibum tak akan menemuiku lagi,” ucapnya dengan wajah yang mulai terlihat cerita.

“Benar!” teriaknya senang, “Aku masih bisa bertemu Aiden.”

‘Tok tok.’

“Hmm?” Donghae kembali bergumam saat mendapati jendela kamarnya yang diketuk dari luar.

“Donghae,” sosok itu membuat Donghae terkejut. Saat dia membuka jendela kamarnya sosok itu ternyata sudah berada di sana, dan sosok itulah yang ternyata mengetuk jendela kamarnya tersebut. “Untunglah.”

“Aiden,” ucap Donghae tak percaya dan langsung berlari keluar dari kamarnya guna membukakan pintu untuk Aiden dan mempersilahkannya masuk.

“Kau lupa tasmu kemarin,” Aiden segera menyerahkan tas Donghae yang tertinggal kemarin akibat Donghae yang melemparkan tas itu ke Kibum setelah dia memasuki kamar Donghae. “Aku melihat alamatmu di gantungan kunci,” diapun menjelaskan kepada Donghae bagaimana caranya dia bisa mengetahui alamat Donghae. Dan memang di gantungan kunci Donghae tertulis jelas alamatnya.

“Maaf, aku tidak sengaja,” ucap Donghae menyesal dan segera menerima tas itu dari tangan Aiden.

“Tidak apa-apa, lagipula kita berteman,” Aidenpun tersenyum.

“Emm, terima kasih.”

Mereka berdua tersenyum, hingga akhirnya Donghae kembali membuka pembicaraan.

“Oh ya, bagaimana kalau kita main lagi besok? Aku akan menunjukkan aksesorisku pada Aiden,” ucap Donghae semangat, meskipun aksesoris yang akan dia tunjukkan pada teman barunya itu tidaklah banyak. “Kita main lagi besok, ya!”

“Ah,” Aiden terdiam mendengar ajakan Donghae meski akhirnya dia berucap “Maaf,” pada Donghae. “Aku…” Aiden terlihat tak enak saat ingin menyampaikan sesuatu pada Donghae. “Aku akan pulang besok,” meski akhirnya kalimat itu tetap dia ucapkan, “Kibum dan aku datang ke sini dalam tugas, dan sepertinya itu sudah selesai.”

Donghae terdiam sejenak dan kemudian berujar “Aku mengerti,” dengan nada yang sangat lemah, seakan tengah berbisik pada dirinya sendiri.

‘Bada, itu benar, jadi aku benar-benar…’

– ##### –

“Aku benar-benar sendirian, Bada,” Donghae berucap dengan genangan air mata di mana bila dia berkedip maka air mata itu akan mengalir.

Dia terduduk di depan gundukan tanah yang merupakan kuburan Bada, anjing peliharaannya, di mana di atasnya terdapat sebuah rangkaian bunga yang sengaja Donghae bawa saat dia memutuskan untuk menemui kembali sahabat terbaiknya itu.

“Seperti yang kupikirkan, kau sendirian, kan?”

“Kau?” Donghae langsung bangkit dan segera membalik tubuhnya saat suara itu terdengar, suara dari anak laki-laki yang kemarin dia temui di tempat ini. Anak laki-laki dengan pakaian serba hitamnya dan kacamata yang setia melekat di hidung mancungnya itu.

“Kau terlihat seperti anggota keluarga Kim, tapi sepertinya mereka tak menjelaskan tentang itu,” anak laki-laki itu mulai berucap tak jelas menurut Donghae, “Hm… tapi kupikir itu membantu.”

“Apa yang kau katakan?” ucap Donghae tak mengerti dengan apa yang anak laki-laki itu bicarakan, “Kau berasal dari bulan?” tanyanya lagi tak jelas, yang mungkin akan membuat semua orang yang mendengar pertanyaan itu tertawa, tapi dia tengah serius sekarang. “Kau sepertinya tahu banyak tentangku, tapi…”

“Tujuanku, kkk~” kekehan anak laki-laki itu menghentikan semua kalimat Donghae, “Aku ingin menghancurkan cincin itu.”

“Heh?”

“Tentu saja kau akan mendapatkan sesuatu sebagai balasannya,” anak laki-laki itu terus berujar, “Tentu saja,” ucapnya yakin dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya, “Kau ingin binatang peliharaan kesayanganmu hidup lagi, kan?” ucapnya sambil memperhatikan cincin yang Donghae kenakan, “Cincin itu, cukup kita saja yang tahu,” lanjutnya, sementara Donghae hanya diam mencoba mencerna semua kata-katanya. “Baiklah, tentu saja kau tidak tahu tentang itu.”

“Umm,” Donghaepun bergumam setelah sepertinya mengerti dengan apa yang anak laki-laki itu maksud. “Kau bilang akan membuat Bada hidup lagi, kau benar-benar bisa melakukan itu?”

“Ya, itu akan mudah jika kita bisa menggunakan cincin itu,” jawab anak laki-laki tersebut dengan seringaiannya, “Aku yakin itu,” lanjutnya, “Karena itu… adalah cincin dewa.”

Anak laki-laki itupun mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan menghadap ke atas. Dan perlahan, tiba-tiba sebuah sinar berwarna merah terang memancar dari telapak tangannya, membuat Donghae terdiam, antara terkejut, kagum, dan takut.

“Letakkan cincinnya di sini!” perintahnya pada Donghae dengan nada sangat yakin bahwa Donghae akan menyerahkan cincin itu padanya. “Saat cincin itu hancur, kekuatan yang dipancarkannya akan membuat teman baikmu hidup lagi.”

Donghae terdiam, mungkinkah? Apa kalimat yang dikatakan anak laki-laki itu benar? Akankah Badanya bisa hidup lagi? Menemaninya agar dia tak lagi merasa kesepian seperti sekarang?

“Ayo!” anak laki-laki itupun kembali mengeluarkan suaranya dengan sedikit berteriak.

Perlahan, meski sedikit ragu, Donghae melepaskan cincin yang sudah sejak dulu dia kenakan dari jari manisnya, ‘Cincin ini, ini adalah cincin ibuku,’ ditatapnya cincin yang baru saja dia lepaskan itu dengan pandangan sendunya. ‘Aku tidak tahu banyak tentang dewa atau apapun, tapi…’ dia menekan dadanya, sesak, sedih.

‘Tapi jika itu akan mengembalikan Bada,’ tiba-tiba wajah Aiden melintas di pikirannya saat kalimat itu terlontar dalam hatinya, wajah Aiden saat dia mengatakan akan segera pergi. Rasa sedih itu tiba-tiba merajai Donghae. ‘Aku tidak suka sendirian, aku tidak ingin sendirian lagi, sendirian itu…’ dia terus bergumam dalam hati, dan seiring dengan ucapannya itu, diapun memasukkan cincinnya pada cahaya merah yang keluar dari telapak tangan anak laki-laki tersebut.

“KAU BODOH!”

“Huwa~” Donghae berteriak dengan tubuhnya yang langsung mundur saat tiba-tiba seseorang berlari ke arahnya dan langsung merebut cincin tersebut dari tangan anak laki-laki yang bisa mengeluarkan cahaya merah dari telapak tangannya itu.

“Urgh,” orang tersebut yang adalah Kibum terlihat menahan sakit saat cincin tersebut sudah berada di tangannya.

“Ki…Kibum,” ucap Donghae tak percaya melihat Kibum di sini sekarang. “Kibum, tanganmu,” lanjutnya saat menyadari tangan Kibum yang terluka seolah terbakar saat dia merebut cincin tersebut dari tangan sosok yang belum Donghae ketahui namanya itu.

“Aku ke sini karena aku mengkhawatirkanmu,” ucap Kibum seakan tak menghiraukan rasa sakit yang dia rasakan.

“Itu… mustahil…” Kibumpun kembali berucap dengan tangan yang semakin terkepal kuat agar rasa sakitnya itu berkurang. “Untuk menghidupkan kembali sesuatu yang sudah mati,” lanjutnya untuk melengkapi kalimatnya yang sempat terputus.

“Kau tidak boleh berdiam diri terlalu lama di masa lalu, bukankah kau mengatakan bahwa cincin itu adalah hal yang penting bagimu? APAKAH ITU BOHONG?”

Donghae terdiam mendengar Kibum yang meneriakinya seperti itu, tapi dia tidak bisa mengelak, apa yang Kibum katakan adalah benar. Cincin itu adalah hal berharga baginya, karena itu adalah peninggalan ibunya. Dan dia baru saja akan menghancurkan cincin itu, jadi, apakah itu berarti dia berbohong tentang hal berharga itu?

“Sial, aku hampir saja menipunya, Kim,” anak laki-laki yang tadi menginginkan cincin itu mengumpat, tak menghiraukan apa yang tengah terjadi di antara Kibum dan Donghae, lagipula dia memang tak peduli itu, dia hanya menginginkan cincin Donghae, bukan? “Kau benar-benar ingin membuatnya menjadi dewa?”

“Bodoh! Aku melindunginya karena itu adalah cincinnya yang berharga, itu tidak ada hubungannya dengan membuatnya menjadi dewa,” ucap Kibum emosi pada sosok anak laki-laki tersebut.

“Kkk~ benarkah?” anak laki-laki itu meremehkan, “Baiklah, ayo kita selesaikan masalah ini dengan pertempuran,” sebuah cahaya menyilaukan keluar saat anak laki-laki itu mengakhiri ucapannya dan tiba-tiba saja sebuah pedang muncul dan sudah berada dalam genggamannya.

“Majulah!” Kibumpun tak mau kalah, dan dengan seketika sebuah busur lengkap dengan anak panahnya sudah berada di tangannya.

“Huwa~ senjata itu, dari mana mereka mendapatkannya?” Donghae yang terkejut dengan apa yang dilihatnya berteriak histeris. Dan itu wajar, bukan? Bagaimana mungkin senjata berbahaya itu tiba-tiba saja muncul di tangan mereka berdua begitu saja.

“Donghae, berbahaya di sini, anak perempuan harus menjauh,” Kibum menoleh pada Donghae dan melemparkan cincin padanya seraya memintanya untuk segera menjauh dari tempat mereka sekarang berada, karena pertempuran itu akan segera dimulai.

“Tapi tanganmu terluka,” ucap Donghae pelan, “Berhentilah bersikap diskriminasi terhadap anak perempuan sebentar.”

“Kali ini, biarkan aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang lelaki,” Kibum meyakinkan Donghae untuk segera menjauh dari sana dengan sebuah senyum hangat yang dia berikan. “CEPAT!”

Donghaepun terdiam sejenak, dan perlahan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari sana, sesuai dengan apa yang Kibum perintahkan padanya.

‘Aku sama sekali tidak mengerti, apa yang terjadi di sini? Apa maksudnya menjadi dewa? Aku hanya anak perempuan biasa,’ beberapa pertanyaan dan pernyataan terlintas di benak Donghae dengan langkah yang semakin menjauh. ‘Aku mencemaskan Kibum, bagaimanapun aku harus membantunya, tapi apa yang harus kulakukan?’

“Ah, Donghae, untunglah.”

Semua pemikiran Donghae berhenti saat tiba-tiba suara seseorang yang menyebut namanya menyentuh gendang telinganya. “Aiden,” Donghaepun langsung berlari mendekati Aiden yang juga tengah berlari mendekatinya saat menyadari siapa yang tadi memanggilnya.

“Kibum menampakan mimik wajah yang menakutkan dan tiba-tiba dia pergi,” ucap Aiden setelah dia dan Donghae berdekatan. “Aku mengkhawatirkanmu.”

“Aku?” ucap Donghae tak percaya, bukankah seharusnya yang dikhawatirkan sekarang adalah Kibum? “Kau tahu sesuatu tentangku, Aiden?” Donghae, yang sejak kemarin mengalami hal-hal yang aneh langsung bertanya, meminta penjelasan yang mungkin bisa dia peroleh dari Aiden.

“Eh… baiklah…” ucap Aiden terbata. “Emm… tapi kita bicarakan nanti saja, sekarang kita harus cepat,” lanjutnya dan segera berlari ke suatu arah.

“Ahhh, jangan,” ucap Donghae mencoba mencegah Aiden yang sudah terlanjur berlari meninggalkannya. “Jalan itu, menuju kembali ke tempatku tadi.”

“Huwa~”

“Seperti yang kupikirkan,” ucap Donghae saat melihat dan mendengar Aiden berteriak ketika melihat sebuah pertarungan di depan mereka.

“Bodoh! Mengapa kalian ke sini?” Kibum, yang tengah serius dalam pertarungannya dengan anak laki-laki aneh itu terlihat sangat kesal melihat Donghae dan Aiden yang tiba-tiba ada di dekatnya.

“Aua~ maaf~” jawab Aiden tetap dengan teriakan histerisnya.

“Aiden,” dan Donghae yang melihat itu hanya bisa bergumam lesu.

“Kalian hanya mengganggu di sini!” kembali suara teriakan Kibum terdengar.

“Satu melawan begitu banyak bukanlan pertempuran yang adil, kau begitu rendah, Kim,” anak laki-laki yang menjadi lawan Kibumpun tak ingin diam melihat dua orang yang kini sudah bersama dengan mereka.

“Dalam hal ini, aku hanya akan berkonsentrasi pada tujuanku,” anak laki-laki itupun tak ingin lagi menunggu lama dan segera mengangkat pedangnya dan kemudian menatap tajam ke arah Donghae dan menembakan kekuatan yang dikeluarkan oleh pedangnya, “Pembawa cincin,” lanjutnya yang sontak membuat Donghae terkejut dan tak tahu harus melakukan apa.

“Donghae, awas!” Aiden yang melihat itu langsung berlari ke arah Donghae, membuatnya harus menerima rasa sakit akibat kekuatan anak laki-laki yang mengenai tubuhnya itu, menggantikan Donghae. “Huwa~”

“Aiden, Aiden,” Donghae tersentak dengan apa yang terjadi.

“Uu,” Aiden melenguh.

“Aiden bodoh! Kau baik-baik saja? Aku datang,” Kibum segera berlari mendekati Donghae dan Aiden, tapi tubuhnya langsung terpental saat sebuah cahaya yang merupakan kekuatan yang dikeluarkan oleh anak laki-laki itu mengenainya. “Urgh, sial,” umpatnya.

“Huwa~” dan yang bisa Donghae lakukan hanyalah berteriak seraya memeluk tubuh Aiden yang sudah terluka. “Maafkan aku Aiden,” sesalnya, “Kau seperti ini karena aku.”

Donghae menangis melihat Aiden yang kesakitan karena mencoba melindunginya. ‘Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?’ Donghaepun kebingungan, sementara Kibum terus mencoba melawan anak laki-laki itu yang terus berusaha mendekatinya.

‘Aku tidak bisa melakukan apapun, sejak Bada pergi, aku hanya orang lemah yang tidak bisa melakukan apapun,’ batin Donghae terus berbicara, ‘Aku tidak mau ada orang yang meninggal lagi.’

‘Jrash.’

Tanpa Donghae sadari sebuah cahaya dikeluarkan oleh cincin yang dia kenakan.

‘Walaupun Bada sudah mati, walaupun dia…’

‘Jrash.’

Cincinnya kembali bersinar.

‘Aku… aku… ingin menjadi kuat. Kuat.’

‘Jrash.’

“Eh,” akhirnya Donghae merasakan sesuatu, dia menyadari bahwa cincinnya bersinar.

‘Jrash!’

Cahaya itu semakin nyata di mata Donghae dan tampak mengelilingi tubuhnya, sangat menyilaukan, dan dalam hitungan beberapa detik, tiba-tiba dia telah berubah menjadi sosok yang tak pernah dia duga. Mengenakan sebuah gaun berwarna merah muda yang mengembang di bawahnya, di mana bagian belakangnya bahkan bisa menyentuh tanah. Tatanan rambutnyapun berubah, semua yang dipakainya berubah. Juga dengan sebuah mahkota yang sudah ada di kepalanya, dan tongkat panjang yang sudah berada dalam genggamannya.

“Donghae,” Kibum tak mampu berucap lebih saat melihat perubahan Donghae, sementara Aiden yang sedang terluka hanya bisa menatap Donghae dalam diam.

“Dewa telah bangkit,” dan anak laki-laki itupun jauh lebih terkejut melihat perubahan yang dialami oleh Donghae.

“Aku adalah Dewa!” Donghae yang entah mendapatkan kalimat itu dari mana berteriak lantang menyebabkan sebuah cahaya keluar menyebar tak tentu arah. Cahaya yang merupakan halilintar itu berputar ke segala penjuru, menghancurkan apapun yang dijamahnya.

“Urgh,” anak laki-laki itupun menjerit saat kekuatan itu mengenai tubuhnya.

“Wah~” Aiden terdengar berdecak kagum meski dengan suara yang sangat pelan menyaksikan kehebatan kekuatan yang Donghae keluarkan.

‘Menakjubkan, ini adalah kekuatanku,’ Donghaepun tak kalah takjub dengan apa yang baru saja terjadi, dia memperhatikan cahaya-cahaya yang berputar-putar di sekelilingnya. ‘Tapi…’ dia seolah menyadari sesuatu sekarang. ‘Semua yang di sini menjadi kacau, apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa mengendalikan diri,’ batinnya setelah menyadari bahwa efek dari kekuatannya adalah membuat hancur semua yang ada di sana.

“Aku tidak mau ini, hentikan!” teriaknya dengan rasa takut yang menjalarinya, “Berhenti!”

“Tenanglah,” Kibum yang melihat dan menyadari ketakutan Donghae langsung berlari dan berdiri di belakang Donghae dan membisikkan kata di mana dia meminta Donghae untuk tenang. Diapun segera menyiapkan busurnya dengan anak panah yang telah dia pasang, dan kemudian segera menarik busurnya tersebut ke depan Donghae. Ingat, posisi Kibum tetap di belakang Donghae.

“Aku akan membantumu mengarahkannya,” ucapnya seraya meminta Donghae untuk ikut memegang busurnya yang langsung Donghae turuti. “Kau hanya perlu menyalurkan kekuatanmu ke dalamnya,” lanjutnya saat kedua telapak tangan mereka bersentuhan. “Ini akan baik-baik saja, aku bersamamu, kau tidak sendirian.”

‘Aku tidak, aku tidak sendirian,’ batin Donghae bicara saat Kibum melontarkan kata-kata itu, dan tiba-tiba sinar terang, yang tadinya berpencar langsung menyatu pada ujung panah Kibum, dan kemudian…

‘Blash.’

“Urgh,” anak laki-laki yang merupakan lawan bertarung Kibum itu berteriak saat kekuatan yang dikeluarkan Donghae mengenainya, “Sial,” umpatnya dan langsung menghilang.

“Kita berhasil!” ucap Donghae takjub dengan apa yang baru saja terjadi, “Ah…” tapi tiba-tiba dia merasa tubuhnya lemas.

“DONGHAE!” Kibum yang masih berada di belakang Donghae langsung menahan tubuh Donghae yang tiba-tiba terjatuh.

“Ki…bum…”

“Kau melakukannya dengan sangat baik, Donghae,” ucap Kibum dengan sebuah senyuman yang dia kembangkan.

“Donghae,” Kibumpun langsung memeluk tubuh Donghae yang telah tak sadarkan diri sekarang. Ditatapnya wajah Donghae yang terlihat kelelahan setelah apa yang baru saja terjadi, “Maaf,” gumamnya, “Aku tahu… aku tahu… kau akan terkejut dengan semua ini.”

– ##### –

“Jaga dirimu, Aiden,” Donghae mengucapkan kalimat itu saat dia berada di sebuah stasiun kereta api bersama Aiden dan Kibum dikarenakan mereka akan pulang hari ini.

“Emm, lain kali, kami akan main bersama Donghae lagi, ya,” ucap Aiden dengan ceria, “Aku akan mampir ke tempatmu lain kali.”

“Emm,” jawab Donghae singkat.

“Ah iya,” Aiden bergumam seolah mengingat sesuatu, “Donghae, ehehehe…” ucapnya dengan tawanya seraya menggelayuti tangan Kibum.

“Apa ini?” ucap Kibum keheranan dengan tingkah Aiden.

“Ingat saat dia membuat Donghae marah tentang Bada?”

“Ah iya,” ucap Donghae setelah mengingat hal yang belum terselesaikan antara dia dan Kibum, “Mengapa kau tidak meminta maaf?” lanjutnya dengan mengerucutkan mulutnya imut pada Kibum.

“Kau tahu… aku sudah bertanya pada Kibum mengapa dia mengatakan hal seperti itu.”

“Cukup!” Kibum yang merasa hal aneh akan terjadi meminta Aiden untuk tidak meneruskan kalimatnya, tapi jangan panggil Aiden kalau dia mengikuti apa yang Kibum inginkan.

“Dan dia bilang,” Aiden kembali melanjutkan ucapannya, “‘Kau bodoh! Ini sudah mulai gelap, kau bisa lanjutkan besok,’ itulah yang ingin dia katakan.”

“Eh?” Donghae terkejut, jadi itu yang ingin Kibum katakan sebenarnya.

“Bodoh! Memotong ucapan orang lain, karena itulah aku tidak mengerti anak perempuan,” sungut Kibum setelah Aiden menyelesaikan ucapannya, meskipun sebenarnya dia tidak senang Aiden mengatakan apa yang sesungguhnya ingin dia katakan pada Donghae hari itu.

Sementara Donghae hanya tersenyum kikuk karena sekarang dia sudah tahu apa yang sesungguhnya ingin Kibum katakan padanya waktu itu dan dia merasa bersalah karena sudah memukul Kibum begitu saja.

“Umm, tapi…” Donghae berucap pelan, “Terima kasih, Kibum.”

“Eh,” Kibum terdiam, dan mungkin bisa dikatakan terkejut saat mendengar ucapan ‘terima kasih’ dari Donghae.

“Aku, tidak sendirian lagi,” Donghae kembali berucap untuk memperjelas apa yang dia katakan, “Aku sudah memikirkannya sejak saat itu, sebenarnya masih banyak orang yang memperhatikanku,” lanjutnya dan membayangkan wajah imonya, teman-teman sekelasnya dan juga gurunya. “Aku tidak menyadari itu dulu, karena itulah, karena itulah,” Donghaepun menutup matanya dengan kedua tangannya yang dia letakkan di atas dada, sedikit menyentuh dagunya. “Aku terus mengandalkan Bada.”

Donghaepun kembali membuka matanya dan menatap Kibum, “Terima kasih, karena membuatku menyadari itu. Dan, aku akan baik-baik saja sekarang, karena aku memiliki Tuhan dalam diriku,” ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya dengan jari telunjuk yang dia angkat seolah jari telunjuknya itu akan mengeluarkan cahaya yang berkilauan.

“Hahaha…” Kibumpun dibuat tertawa melihatnya, “Kau anak perempuan yang lucu juga ternyata.”

‘Huwa~ ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa, uuu~ dia sangat tampan,’ dan Donghaepun dibuat terdiam karena hal itu, membuatnya hanya bisa berujar dalam hati.

“Sampai nanti.”

“Emm,” jawab Donghae sedikit terkejut dan menghentikan aksi berkagum-kagumnya saat Kibum mengucapkan salam perpisahan itu.

“Bertemu lagi nanti, ya!” teriaknya saat Kibum dan Aiden telah memasuki kereta yang akan membawa mereka pulang.

‘Aku, aku masih tidak tahu, mengapa Tuhan mengatur pertemuan ini,’ ucap Donghae dalam hati saat melihat kereta itu sudah berjalan meninggalkannya, ‘Kupikir aku tidak akan pernah mengetahui alasan mengapa ini terjadi.’

T.B.C

Advertisements

6 thoughts on “Donghae: I’m a God – 2

  1. masih bingung isfa….??
    siapa Kibum…??siapa aiden…??dan siapa laki2 yang nyerang mereka..??
    siapa..??siapa..?? *demo massal

    lanjut….!!!! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s