Posted in KiHae Couple

Donghae: I’m a God – 3


Kamichama_Karin_v01c03_pg001

Tittle: Donghae: I am God

Cast: Donghae/Kibum/Aiden/Siwon dan terus bertambah(?)

Genre: Comedy, Fantasy, Romance

Warning: GS, Hae!Girl, Aiden!Girl

Cerita FF ini adalah cerita dari sebuah Manga berjudul ‘Kamichama Karin’ karya Koge Donbo tahun 2002. Tapi sebenarnya saya lebih dulu menonton Animenya daripada membaca Manganya, dan baru-baru ini. Entah kenapa setiap menonton Animenya selalu yang terbayang adalah KiHae, terlebih Kazune mirip dengan Kibum –menurutku. Dan juga sifat Karin mirip dengan Donghae –menurutku lagi. Kalau seandainya salah tolong dimaklumi karena saya tidak mengenal sosok Kibum dan Donghae sepenuhnya. Jadi, kalau seandainya ada yang sudah menonton Animenya dan membaca Manganya pasti sudah bisa tebak ceritanya. Dan juga kalau ingin mengatakan ini plagiatan boleh, tapi mungkin lebih baik menyebutnya remake agar sedikit halus *mencoba melindungi diri sendiri*.

Eum, jadi sebenarnya saya membuat ini bisa dikatakan sebagai konsumsi pribadi, hanya ingin tahu bagaimana ceritanya bila KazuneKarin diubah menjadi KiHae. Tapi mengapa saya publish? Ingin saja, tidak ada alasan lain selain itu. Dan bila ada yang mengenal sang komikus*Koge Donbo* sampaikan maaf saya karena tidak meminta izin padanya secara langsung untuk meremake Manganya. Terima kasih. ^^

– ##### –

‘Aku Lee Donghae. Entah dalam pelajaran atau olahraga, aku hanya anak perempuan biasa. Tapi… tiba-tiba aku bisa menjadi dewa. Dan ada Kibum yang kupikir adalah anak kasar awalnya, tapi kemudian berubah menjadi orang yang menyenangkan. Terus terang, itu sangat menakjubkan. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi mulai saat ini.’

.

’45.’

Angka itu tertera dengan jelas di kertas ujian yang tengah berada dalam genggaman Donghae sekarang.

‘Aa~ nilaiku sedikit meningkat,’ batinnya, dan sepertinya dia memang patut berbangga dengan ‘prestasinya’ kali ini.

Disimpannya kertas ujian tersebut ke dalam tas sekolahnya saat seorang teman di kelasnya mendekatinya.

“Aku membeli permainan baru, kita bermain bersama nanti, ya,” ajak temannya tersebut seraya menunjukkan game baru yang dia miliki pada Donghae, membuat Donghae tak bisa mengucapkan apapun selain mengangakan mulutnya dan menampakkan wajah yang benar-benar tak bersemangat dengan hal itu.

‘Bayar 100 won, kan,’ batinnya dan langsung memilih menjauh dari temannya tersebut daripada dia harus mengeluarkan uang untuk bermain game, meskipun dia ingin.

– ##### –

Waktu pulang sekolahpun tiba. Donghae yang kini tengah mengenakan dress selutut bermotif garis-garis dengan dalaman baju kaos berlengan panjang dikarenakan sekolahnya tak mengenakan seragam khusus itu segera beranjak dari duduknya setelah menyandang tasnya.

Hingga di sinilah dia berada, di sebuah taman yang selalu dia lewati setiap kali dia berangkat dan pulang dari sekolahnya.

“Aa~ plum bermekaran,” soraknya memperhatikan bunga-bunga plum yang terlihat sangat indah menghiasi dahan-dahan tempatnya tumbuh.

‘Sepertinya musim semi akan datang, aku akan menjadi siswi SMP, kan,’ Donghae kini berucap dalam hati dengan terus memperhatikan plum-plum yang bermekaran seraya membayangkan apa yang akan terjadi nanti saat musim semi telah tiba.

Tapi kini Donghae terdiam, memandang sekelilingnya.

‘Entah bagaimana, semuanya menjadi normal kembali,’ hatinya kembali berbicara setelah matanya selesai menyisir semua sudut yang tertangkap dalam pandangannya. ‘Itu berarti tidak ada yang terjadi sejak saat itu, saat aku menjadi dewa. Sejak saat itu, Aiden, Kibum, tidak ada yang terjadi sejak saat itu, tidak ada.’ Donghae terus bergumam dalam hati membayangkan wajah ceria Aiden dan wajah Kibum yang tak menampakkan senyum sedikitpun.

“Huh…” sebuah tarikan nafas panjangpun Donghae lakukan setelah menyadari akan apa yang sebenarnya terjadi padanya beberapa hari kemarin.

“Apa sih?” tiba-tiba dia tertawa sendiri sambil menepuk-nepuk kepalanya, “Mungkin itu semua hanya mimpi.”

– ##### –

“Bada, selamat siang, apa kabar?” Donghae berucap ceria saat dia tiba di kuburan Bada, anjing peliharaannya, karena inilah kegiatannya setiap hari. Meskipun Bada sudah mati, tapi dia tak berhenti untuk menemuinya dan menceritakan apapun yang dia alami seperti biasanya saat Bada masih hidup.

Donghae mengatupkan kedua telapak tangannya dan meletakkannya di dadanya, “Hari ini, nilai ujianku sedikit meningkat,” ucapnya mulai bercerita dengan sebuah senyum yang membuat wajah manisnya terlihat lebih manis. “Dan…” tiba-tiba Donghae menghentikan ucapannya saat menyadari ada sesuatu di atas kuburan Bada. Dilihatnya sebuah karangan bunga yang terlihat masih sangat segar di sana padahal dia tadi sama sekali tak membawa apa-apa saat datang ke sini.

‘Ada yang kemari?’

“Hai Donghae.”

Seorang anak laki-laki yang tengah mengenakan kaos berkerah tinggi hingga menutupi lehernya tiba-tiba menyapa Donghae. Dengan santai anak laki-laki yang adalah Kibum itu berdiri di sana dengan kedua telapak tangan yang dia masukkan ke dalam kantung celana jeans hitamnya yang senada dengan jaket parasut yang tengah dia kenakan.

Sementara Donghae? Jangan ditanya! Yang bisa dia lakukan hanya diam karena sangat terkejut pada sosok yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya itu, bahkan membuat dia terjatuh akibat rasa kaget yang dia rasakan.

“Huwa~” tapi tiba-tiba Donghae berteriak setelah nyawa yang tadi sempat keluar dari raganya kembali masuk, dan bahkan kini dia sudah kembali berdiri dengan kedua tangan yang dia letakkan di kedua sisi pipinya. “Kedamaian hidupku akan kacau lagi.”

“Bodoh!” sungut Kibum mendapati ucapan Donghae tentang kedatangannya ke sini.

“Umm,” Donghae tertawa kaku atau mungkin bisa dikategorikan sebuah cengiran seraya menggaruk kepalanya sendiri, “Mungkin aku harus bertanya terlebih dahulu, kau siapa?” ucapnya membuat Kibum langsung mencubit pipinya kesal.

“Kau kenapa?”

“Aduh, aduh, aduh, aku hanya bercanda,” Donghae mengaduh membuat Kibum langsung melepaskan cubitan pada pipinya.

Donghaepun langsung mengusap pipi kanannya yang tadi mendapatkan cubitan dari Kibum seraya tertawa senang, “Aku tidak bermimpi, Kibum,” dan dia benar-benar terlihat bahagia sekarang.

Dan Kibumpun dibuat tersenyum olehnya seraya berujar “Astaga, kau sungguh lucu Donghae,” yang membuat Donghae langsung terdiam dengan sebuah rona merah yang tergambar di wajahnya.

‘Ini Kibum, Kibum,’ batin Donghae masih sedikit kurang percaya melihat Kibum ada di hadapannya sekarang. ‘Aku punya begitu banyak hal yang ingin dibicarakan, aku punya begitu banyak hal yang ingin ditanyakan.’

– ##### –

‘Swing~’

Hingga di sinilah mereka berdua berada, terdiam, terduduk di salah satu bangku taman tanpa berbicara sedikitpun, hanya dua buah minuman kaleng yang berada di antara tubuh mereka yang menjadi pendengar setia untuk setiap suara angin yang berhembus.

‘Uu~, akhirnya, aku tidak tahu harus mengatakan apa,’ batin Donghae dengan wajah bingung yang sangat tampak. Namun sudut matanya tak henti menatap Kibum yang tengah terdiam sama sepertinya, meski Kibum terlihat lebih santai daripadanya. ‘Kibum, dia tetap saja terlihat keren.’

Dan Donghaepun kini menundukkan kepalanya setelah sedikit puas menikmati wajah tampan Kibum dari sudut matanya. Diapun terus bergumam dalam hati, ‘Aku harus mengatakan sesuatu,’ karena sesungguhnya dia adalah orang yang sangat suka bicara, berisik. ‘Kurasa tidak perlu membicarakan  peningkatan nilai ujianku,’ batinnya terus berucap, dan tentu saja itu benar.

“Kau tahu…”

Suara Kibum langsung membuat Donghae menghentikan setiap ocehan di hatinya dan beralih menatap Kibum dengan wajah yang sedikit bingung dan kata-kata yang seakan tak ingin terucap dari mulutnya, “Itu bermekaran,” meski akhirnya dua kata itu terucap juga.

“Huh?” wajah Donghae sangat tak enak dilihat sekarang dikarenakan kebingungan yang merajainya. “Ah~” tapi akhirnya dia mengerti dengan maksud ucapan Kibum yang baru saja didengarnya. “Maksudmu pohon plum.”

“Ya.”

Donghae tersenyum seraya memperhatikan plum yang bermekaran di setiap cabang ranting tempatnya berada. “Kau tahu, aku sangat senang, karena nanti saat musim semi datang, aku akan menjadi siswi SMP.”

Kibum terdiam, sama sekali tak menanggapi setiap ucapan Donghae, bahkan kini dia tengah melipat kedua tangannya di depan dada meski sebenarnya dia mendengar semua apa yang keluar dari mulut anak perempuan di sebelahnya sekarang.

“Aku…” tubuh Kibum bergetar “…tidak suka musim semi.”

“Benarkah?” Donghae seakan tak percaya mendengar penuturan Kibum tersebut. ‘Dia tidak suka musim semi,’ batinnya seraya memperhatikan tubuh Kibum yang terus gemetaran. ‘Dia sepertinya demam.’

“Kau kenapa Kibum?” tanya Donghae sedikit khawatir, “Kau kedinginan? Atau…” Donghae mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Kibum saat ini, “…toilet?”

“Bodoh! Bukan itu, aku…”

“Donghae~”

Sebuah suara membuat mulut Kibum bungkam, suara itupun menggema di gendang telinga Donghae yang langsung membuat Donghae memalingkan wajahnya untuk mengetahui siapa pemilik suara tersebut, dan yang akhirnya dapat Donghae tangkap adalah seorang anak perempuan yang cantik tengah mengenakan dress biru selutut tengah berlari mendekati tempatnya dan Kibum kini berada.

“Aiden, kau juga datang ke sini.”

Donghae terlihat sangat senang saat mengetahui ternyata Aiden juga ada di sini bersama mereka, karena tadi dia mengira hanya Kibum yang mengunjunginya. Begitupun dengan Aiden, karena kini dia terus berlari guna menemui Donghae dan juga Kibum dengan kedua tangannya yang terdapat dua tangkai bunga plum.

“Di sini ada… huft~” kalimat itu perputus, dengan Donghae dan Kibum yang segera bangkit dari duduknya saat tiba-tiba tubuh Aiden terjerembab karena tak memperhatikan langkahnya diakibatkan terlalu senang untuk memperlihatkan sesuatu kepada Donghae.

“Kau baik-baik saja?” ucap Donghae setelah berada dekat dengan Aiden dan segera membantu Aiden berdiri.

“Ehehehe…” di luar dugaan, Aiden malah mengeluarkan kekehannya setelah dia kembali berdiri dan tetap memegang dua tangkai plum di masing-masing tangannya. “Pohon plum bermekaran, dan kami ingin melihatnya bersama Donghae.”

“Kami di sini!” rutuk Kibum, karena sesungguhnya kini Aiden tengah berbicara dengan tubuh membelakanginya dan juga Donghae.

Aidenpun membalik tubuhnya menghadap Kibum dan Donghae tetap dengan cengirannya. “Ini sedikit rusak,” diapun merengek setelahnya, meski itu tak lama, karena dalam hitungan detik senyum itu kembali menghiasi wajahnya, “Tapi yang ‘istimewa’ ini baik-baik saja.”

“Kau benar,” jawab Donghae setelah memperhatikan plum yang berada dalam genggaman Aiden.

“Aku suka musim semi dan pohon plum yang bermekaran, karena itulah aku ingin kemari menemui Donghae, karena aku ingin kita menikmatinya bersama.”

Wajah ceria Donghae langsung nampak jelas saat kalimat membahagiakan itu terlontar dari mulut Aiden. Dia sangat senang, dan itu pasti.

“Aiden suka musim semi, sangat berbeda dengan Kibum,” Donghae kembali berujar seraya memperhatikan Aiden dan Kibum bergantian.

“Kibum, dia…”

“Apa?” Kibum terlihat tak suka saat Aiden akan mengatakan sesuatu, dan itu pasti sesuatu yang tak baik, Kibum sangat yakin tentang itu.

Donghaepun terdiam melihat kedua temannya ini saling melontarkan tatapan seakan-akan akan(?) terjadi hal yang buruk jika saja Aiden melanjutkan kata-katanya, hingga dia berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan, “Jadi, mengapa plum itu istimewa?” tanyanya mengingat kata ‘istimewa’ yang tadi sempat Aiden lontarkan tentang plum yang ada di salah satu tangannya.

“Emm~ kau lihat, di sini, lihat di ujung rantingnya,” Aiden menjawab dengan memperlihatkan plum yang ada di tangan kanannya dan Donghae memperhatikan itu dengan seksama, tapi sepertinya dia belum mengetahui apa istimewanya dari plum yang Aiden bawa itu. “Ini ulat bulu.”

“Heh?” Donghae serasa tak percaya dengan apa yang dia dengar dan akhirnya dia lihat. Ulat bulu? Itukah yang membuat plum itu istimewa bagi Aiden.

Lalu? Bagaimana dengan Kibum?

“Huwa~”

Itulah yang terjadi. Kibum dengan seketika berteriak dan menjauh dari hadapan Donghae, terlebih Aiden.

“Kau baik-baik saja Kibum?” Donghaepun segera mendekati Kibum yang kini terlihat sangat tak baik di matanya.

“Aku tidak perlu dikhawatirkan oleh anak perempuan.” Kibum merutuk tak jelas membuat Donghae merengut tentu saja.

Aiden tak perduli apa yang tengah terjadi di hadapannya sekarang, karena sekarang dia kembali mengucapkan kata-kata atau lebih tepatnya menceritakan perasaannya. “Saat musim semi akan ada banyak serangga. Karena itulah aku suka musim semi,” ucapnya seraya mengibas-ngibaskan plum yang ada di tangannya dengan ceria.

“Jangan mengibaskannya di depanku!” sudah bisa ditebak bagaimana reaksi Kibum.

‘Jadi itu alasan mengapa dia menyukai musim semi,’ batin Donghae tak begitu yakin, adakah alasan yang seperti itu? Tapi itulah kenyataannya. ‘Dan yang satu ini,’ batinnya lagi dengan memperhatikan ketakutan Kibum akan apa yang ada dalam genggaman Aiden. ‘Karena dia membenci serangga.’

Aneh.

Hingga beberapa detik kemudian.

“Ah~ aku ingat!”

“Apa?” Kibum bertanya saat Donghae tiba-tiba berteriak setelah dia mengingat sesuatu.

“Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, Kibum. Salah satunya tentang dewa,” hal inilah yang sebenarnya dari awal ingin Donghae tanyakan pada Kibum saat mereka bertemu, meski sempat terhiasi oleh insiden serangga yang sangat tak masuk akal jika dipikirkan.

‘Jrash.’

Suara kepakan sayap beberapa burung gagak yang kini terbang tak terlalu tinggi seakan menyiratkan perasaan terkejut yang Kibum rasakan mendengar penuturan Donghae yang mempertanyakan hal yang sesungguhnya tak yakin untuk dia ceritakan. Dan itu membuat Donghae terdiam, apa dia salah bicara?

“Kau benar,” tapi Kibum membenarkan apa yang Donghae katakan, karena memang dia harus tahu dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi, bukan? “Tapi kita tidak bisa membicarakan hal itu, di sini.”

– ##### –

“Heee~”

Sebuah keterkejutan dan rasa tidak percaya Donghae rasakan kini. Bagaimana tidak? Lihatlah! Sekarang dia tengah berada di sebuah hotel mewah, dengan semua interiornya yang juga sangat mewah, tak bisa dibayangkan.

“Di sinilah kami tinggal,” Aiden dengan sangat ceria mencoba mengajak Donghae melihat-lihat kamar hotel tempat mereka menginap selama mereka berada di kota ini, kota tempat tinggal Donghae, sebuah kota bernama Mokpo.

“Menakjubkan, sangat luas.”

“Donghae, kau mau melihat aksesorisku yang lain?” tanya Aiden di tengah kekaguman Donghae akan tempat yang baru saja dia pijak sekarang. “Aku masih punya banyak hal yang ingin aku tunjukkan padamu,” lanjutnya seraya membuka sebuah koper yang adalah miliknya dan memperhatikan semua barang yang ada di sana, hingga matanya menangkap satu benda yang sepertinya memang harus dia perlihatkan pada Donghae.

“Donghae, sebentar lagi kita SMP,” Aiden kembali berucap seraya mengeluarkan benda yang ingin dia tunjukkan pada Donghae. “Ini adalah seragam sekolahku,” diapun berujar ceria dengan memperlihatkan seragam sekolahnya.

‘Itu menakjubkan,’ Donghae kembali berujar dalam hati saat memperhatikan seragam yang baru saja Aiden perlihatkan padanya, seragam sekolah yang terlihat sangat mewah, berwarna abu-abu dengan renda putih di bagian bawah dan kerahnya, indah. ‘Itu terlihat seperti seragam sekolah bangsawan.’

“Ingin mencobanya?”

“Bodoh! Letakkan itu!” Kibum sama sekali tak tertarik dengan apa yang tengah dibicarakan oleh dua anak perempuan di hadapannya saat ini, itu sangat tidak penting baginya.

‘Mereka hebat, tinggal di hotel mewah ini dan sekolah di sekolah yang elit,’ Donghae kembali membatin tak berniat menjawab pertanyaan Aiden tadi yang menawarinya untuk mengenakan seragam sekolah tersebut. ‘Aku hanya di sekolah yang biasa saja. Sepertinya kami berada di dunia yang sangat berbeda.’

“Mau pakai? Mau?” Aiden kembali menawarkan.

“Tidak, tidak.”

“Kau pasti akan terlihat manis, karena Donghae adalah dewa.”

“Ehem,” Donghae berdehem setelah Aiden mengucapkan kalimat tersebut, bahkan kepalanya terlihat membesar sekarang. “Benarkah? Kau pikir begitu? Karena aku dewa…”

“Ya~” jawab Aiden ceria.

“Hei Donghae!” sepertinya tak ada yang bisa dilakukan Kibum selain berteriak agar pembicaraan tak penting itu berakhir, “Kau tahu sesuatu tentang dewa?”

Donghae menggaruk belakang kepalanya yang bahkan tak terasa gatal sama sekali, pertanyaan sulit itu terlontar dari mulut Kibum dan dia tak tahu harus menjawab apa, hingga akhirnya sebuah cengiran dia persembahkan dengan sebuah kalimat “Orang yang sangat baik?” sebagai jawaban, atau sesungguhnya dia balik bertanya tentang apa yang baru saja dia ucapkan.

“5 poin.”

‘Apanya yang 5 poin?’ Donghae bingung dengan 5 poin yang Kibum maksud, apa dia tengah menghadapi ujian?

“Setiap agama mempunyai pendapat yang berbeda,” Kibum mulai mencoba menjelaskan sesuatu kepada Donghae, “Ada yang mengatakan mereka makhluk yang kuat, penyayang, makhluk absolut, penguasa dan pelindung.”

“Pelindung?” kata terakhir yang dia dengar itu membuat Donghae penasaran.

“Ya, legenda yang berbeda menceritakan hal yang berbeda,” jawab Kibum dengan kedua tangan yang menyilang di dadanyanya dan juga dengan mata yang terpejam, seolah dia tengah memikirkan sesuatu. “Donghae, saat itu, karena cincin itu kau bisa menggunakan kekuatan dewa.”

“Menggunakan kekuatan dewa? Untuk apa?”

“Mungkin untuk melindungi kami dalam situasi tertentu.”

“Untuk melindungi?”

Percakapan serius itu mulai terjadi antara Kibum dan Donghae, sementara Aiden sepertinya tak terlalu tertarik untuk ikut masuk ke dalamnya, karena kini dia tengah memperhatikan seekor burung gagak yang terbang di luar kamar hotel mereka.

“Sebelumnya, anak laki-laki itu hampir menghancurkan cincinmu, kau ingat itu?” Kibum kembali memulai pembicaraan serius yang tengah dia dan Donghae lakukan.

“Ah~ anak berkacamata itu,” jawab Donghae mengingat anak laki-laki yang menjadi lawan bertarung Kibum beberapa waktu yang lalu.

Kibum membisu, apa Donghae mempunyai panggilan khusus untuk anak laki-laki tersebut, anak berkacamata? Tapi itu tak penting, dia harus kembali mencoba memberitahu Donghae tentang semuanya. “Dia musuh kita, karena dia mencoba menghancurkan sumber kekuatan itu.”

“Musuh?” ucap Donghae tak percaya. “Dia tidak tahu apapun tentang kita, tapi dia adalah musuh kita? Itu menyebalkan. Apa dia tidak mau aku memiliki kekuatan dewa?”

“Huh?” Kibum seakan tak bernyawa sekarang, Donghae benar-benar membuatnya bingung. Apa perlu Donghae mengeluarkan ekspresi wajah seperti itu? Mulut merengut dan berpikir seakan-akan dia benar-benar adalah seorang dewa?

“Kibum lihat! Burung ini membawa sesuatu.”

“Ah~ Aiden, kita bisa membicarakannya nanti,” ucap Kibum saat Aiden mencoba menunjukkan padanya seekor gagak yang tengah mendekatinya dengan sebuah gulungan kertas kecil di mulut sang gagak tersebut. “Sekarang pergilah bermain di tempat lain!”

Aiden merengut tentu saja, dia tak suka saat Kibum membentaknya seperti itu dan dengan langkah gontai diapun mulai menjauh dari tempat tersebut dan berjalan keluar dari kamar hotel mereka. Sementara Kibum dan Donghae kembali melanjutkan pembicaraan mereka.

‘Blam.’

Aiden menutup pintu dengan lemas, “Padahal aku ingin bermain dengan Donghae,” ucapnya lesu, karena itulah alasan dia ikut ke kota ini bersama Kibum, karena dia ingin bermain bersama sahabat barunya itu.

Seekor burung gagak mendekatinya dan membuatnya mengangkat wajahnya yang tadi sempat menunduk, “Gagak, apa yang kau bawa?”

“Surat?” ucapnya saat kertas kecil yang tadi ada di mulut gagak tersebut beralih ke telapak tangannya. Diapun membukanya perlahan, memperhatikan apa yang tertulis di sana dengan seksama, “Ini?”

– ##### –

‘Tik tok tik tok tik tok.’

Suara jarum jam yang terus berputar itu menyentuh gendang telinga Donghae, membuat matanya menatap jam tersebut yang ternyata sudah menunjukkan jam lima sore, dan itu berarti pembicaraannya dengan Kibum sudah berlangsung cukup lama.

“Bodoh! Dengarkan baik-baik, jangan melihat ke arah lain, konsentrasi!” dan Kibum tentu saja dibuat kesal karenanya, karena dia tengah mencoba menjelaskan semuanya pada Donghae, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Donghae sepertinya tak terlalu tertarik akan hal itu.

“Y-ya,” Donghaepun menjawab dengan sedikit tergagap.

“Jadi…”

“Himeka belum kembali.”

“Kau tidak mendengarkanku?” entahlah, apa Kibum terlalu suka berteriak? Tapi sepertinya wajar, karena Donghae kembali tak memperhatikan apa yang akan dia ucapkan, karena Donghae sibuk berceloteh sendiri.

“Saat itu, burung gagak itu mengikuti kita ke sini.”

‘Deg.’

Tiba-tiba perasaan tak enak menyelimuti Kibum. “Burung gagak,” gumamnya mencoba mengingat apa yang terjadi beberapa jam ke belakang, hingga akhirnya dia langsung bangkit dan berteriak “Ini buruk!” dan kemudian segera berlari keluar dari kamar hotel tersebut dengan Donghae yang belum mengetahui apa yang buruk?

“Ap-apa? Gas bocor?” pertanyaan yang aneh.

“Anak laki-laki itu yang memiliki burung gagak.”

“Anak laki-laki itu? Maksudmu anak berkacamata itu?”

– ##### –

“Aiden!”

“Di mana kau?”

“Aiden!”

Kibum dan Donghae terus berteriak memanggil Aiden di taman yang tadi mereka kunjungi. Mereka memutuskan untuk kembali ke sini karena Kibum sangat yakin bahwa Aiden ada di sini.

“Sial, dia pasti mengikuti gagak tersebut ke suatu tempat,” decak Kibum seraya berpikir dengan jari telunjuk yang dia letakkan di dagunya. “Astaga…”

“Anak perempuan, mereka sangat menjengkelkan,” potong Donghae seakan tahu akan apa yang akan Kibum lontarkan membuat Kibum terdiam karena tepat, Donghae dapat menebak apa yang dia pikirkan.

“Diam!” hingga kata inilah yang Kibum lontarkan.

Donghae tak perduli dengan Kibum yang seakan tak menyukainya karena dapat menebak apa isi pemikirannya, lagipula itu memang mudah ditebak. Dia jauh lebih mengkhawatirkan Aiden sekarang, “Apa anak laki-laki itu akan melakukan sesuatu yang buruk pada Aiden?” sungguh, Donghae benar-benar khawatir. “Cepat temukan dia.”

“Kkk~”

Sebuah suara tawa terdengar, membuat Donghae yang mulai berniat mencari kembali Aiden menghentikan langkahnya, begitupun Kibum yang akan melakukan hal yang sama dengannya. Mereka berdua terdiam, mencoba mencari sumber suara tersebut, dan inilah yang mereka dapat. Seorang anak laki-laki yang sangat setia dengan pakaian serba hitamnya dan juga kacamata yang menempel di hidung mancungnya tengah memperhatikan mereka dari atas sebuah pohon.

“Ah~ itu anak berkacamata,” ucap Donghae, “Mengapa dia di atas sana?”

Anak laki-laki tersebut sangat terlihat tak bersahabat pada mereka berdua, “Seharusnya Aidenlah orang yang datang ke sini, tapi mengapa…” ucapannyapun terhenti, dia mengingat sesuatu, sebuah kalimat yang tadi terlontar dari mulut Donghae, “Namaku bukan anak berkacamata, namaku Choi Siwon!”

“Aku tidak perduli, di mana Aiden, anak berkacamata?”

“Hei hei,” Kibum hanya bica berdecak tak yakin dengan apa yang tengah Donghae lakukan. Lihatlah! Sekarang Donghae terlihat seolah-olah tengah menantang anak laki-laki bernama Choi Siwon tersebut.

“Beritahu kami atau dewa Donghae ini akan menghukummu,” dengan lantangnya Donghae berteriak memperlihatkan cicin di jari manisnya dengan tangan yang terangkat ke atas. “Aku adalah dewa.”

“Buwahahaha~” Siwon tertawa, terbahak. Bagaimana tidak, lihatlah apa yang tengah Donghae lakukan sekarang? Berpose seakan dia akan menjelma menjadi dewa dengan sebuah teriakan, yang hasilnya, nihil.

Sementara Kibum hanya tertunduk dengan tingkah Donghae yang kekanakan menurutnya, meskipun mereka memang masih bisa disebut anak-anak. “Hei, hentikan itu, itu memalukan.”

“Kenapa tidak bisa? Bagaimana caranya aku berubah menjadi dewa?”

“Apakah kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan sebelumnya?” oh lihatlah, Kibum kembali berteriak, sepertinya Donghae benar-benar membuatnya kesal.

“Kau harus tahu, otak bodohku tidak bisa memahami dongeng seperti itu!” Donghaepun akhirnya ikut kesal karena mendengar Kibum yang terus meneriakinya.

“Karena itulah anak perempuan itu… Awas!”

“Huwa~”

Donghae berteriak saat sebuah cahanya merah hampir saja mengenainya jika Kibum tak langsung melindunginya. “Serangan itu bisa menyerap kekuatanmu.”

Donghae mengangguk mengerti dengan apa yang Kibum ucapkan padanya, “Asal aku bisa berubah menjadi dewa semua akan baik-baik saja kan?”

“Baiklah,” Kibum memegang pundak Donghae dengan kedua tangannya, “Untuk saat ini, cukup pikirkan cara melindungi seseorang. Dengan begitu kau bisa menggunakan kekuatan dewa lagi.”

“Apa maksudmu dengan melindungi seseorang? Apa yang harus aku lindungi?”

“Hei!” teriakan itu kembali terdengar, “Aku memintamu, arght~” Kibum kesal. “Kau anak perempuan yang berisik! Cobalah berpikir sedikit.”

“Itu maksudnya… aku tidak…”

“Hah, aku saja!” Kibum menyerah untuk membuat Donghae berpikir bagaimana caranya agar dia dapat menggunakan kekuatan dewa miliknya, hingga kini dia tengah bersiap untuk mengeluarkan sesuatu yang dapat melawan kekuatan yang dikeluarkan oleh Siwon. Tapi…

“Kibum~ lihat kupu-kupu ini~” tiba-tiba suara Aiden menginterupsinya.

“Huwa~ serangga~”

“Lihat! Mereka sangat cantik,” ucap Aiden dengan polosnya dan memperlihatkan kupu-kupu tersebut pada Kibum, dan itu sangat dekat. Dan seperti yang telah diketahui Kibum entah karena apa memiliki ketakutan pada serangga hingga membuat tubuhnya tiba-tiba lemas.

“Ki-kibum,” Donghaepun langsung menahan tubuh Kibum yang mulai ‘terkulai’.

“Berkat kertas yang gagak itu berikan padaku, akhirnya aku menemukan tempat ini,” Aiden terus berucap tak memperdulikan Kibum yang telah lemas karena ulahnya.

Donghaepun segera mengambil kertas yang berada di tangan Aiden dan menemukan bahwa isi dari kertas tersebut adalah sebuah peta yang menunjukkan tempat di mana Aiden bisa menemukan kupu-kupu yang indah. Sepertinya Siwon benar-benar berniat menjebaknya sampai-sampai dia tahu bila Aiden sangat menyukai serangga, termasuk kupu-kupu.

“Ternyata Aiden juga datang,” Siwon, yang sedari tadi memperhatikan percakapan tak penting di hadapannya itu menyeringai, “Kurasa kekuatan dewa pemula sepertimu tak akan cukup, jadi lebih baik ku ambil saja kekuatan dari kalian bertiga,” ucapnya dengan sebuah pedang yang telah berada di tangannya dan siap untuk sebuah pertarungan.

“Ini buruk,” ucap Donghae menyadari bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. “Aiden, tidak aman di sini,” teriaknya meminta Aiden untuk segera menjauh. ‘Aku, aku harus melakukan sesuatu, aku ingin melindungi Kibum, Aiden. Semuanya.’ Dengan mata terpejam dan dengan kepalan tangan yang kuat, Donghae bergumam dalam hati, hingga akhirnya dia merasakan sebuah cahanya mengelilinginya, sesuatu akan terjadi. “Aku adalah Dewa.”

‘Aku melakukannya!’ Donghae bergumam tak percaya dengan perubahan yang dilakukannya, dia berubah, dia berhasil. ‘Tapi apa yang harus kulakukan sekarang?’

“Ternyata kau sudah bisa berubah menjadi dewa, tapi kau tidak bisa melakukan apapun,” Siwon kembali menyeringai. “Kekuatan Aiden, aku akan mendapatkannya.”

‘Aiden?’

‘Blash.’

Tanpa Donghae sadari Siwon telah mengeluarkan kekuatannya dan menembakkannya tepat ke arahnya.

“Arght~”

Suara itu, itu bukan Donghae, Donghae tak berteriak.

“Kibum!” Donghae seakan tak percaya melihat Kibum yang kini telah berdiri di depannya, bukankah tadi Kibum terlihat lemah?

“Bodoh! Jangan pernah menyentuh Aiden sedikitpun!” teriakan Kibum menggema seiring dengan sebuah busur panah yang telah dia persiapkan, dan itu tak membuat Donghae terkejut lagi karena dia telah melihat itu sebelumnya, meski Donghae masih tak tahu dari mana Kibum mendapatkannya. Kekuatan dewa? Sepertinya. “Donghae!”

“Y-ya.”

“Cahaya! Bayangkan cahaya! Lalu, seperti sebelumnya, kirimkan kekuatanmu ke panahku, kau dengar?”

“Cahaya, cahaya,” Donghae bergumam tak jelas setelah Kibum mencoba memintanya memikirkan sebuah cahaya, karena dengan cara seperti itulah Donghae bisa menggunakan kekuatannya, paling tidak untuk saat ini.

“Cepat lakukan! Aku tidak bisa menahan busurku lebih lama lagi!”

“Y-y-ya…” jawab Donghae terbata. “Cahaya, cahaya.” Donghae terus bergumam, hingga akhirnya itu berhasil, dia dapat membayangkan cahanya, dia bisa. “Kekuatan Dewa!”

“Nama apa itu?” Kibum tak percaya dengan apa yang Donghae teriakkan, kekuatan dewa? Tapi sudahlah, dia tak perduli, itu tak penting. Yang jelas dia mencoba menerima kekuatan yang Donghae kirimkan pada panahnya dan segera mengarahkannya pada Siwon yang masih berada di atas pohon di hadapan mereka, dan setelah semuanya menyatu, Kibumpun segera melepaskan anak panah tersebut dan tepat mengenai Siwon, meski akhirnya ternyata Siwon berhasil menghindarinya.

– ##### –

“Sepertinya telah selesai.”

“Ya.”

“Sekarang kita memang telah berhasil, tapi lain kali kau harus belajar untuk menggunakan kekuatanmu dengan benar.”

Setelah pertarungan itu usai, Kibum kembali mencoba meminta Donghae untuk melatih kekuatannya, tapi Donghae terlihat tengah memikirkan sesuatu sekarang hingga membuat Kibum bertanya “Ada apa?” padanya.

“Rasanya sangat menyenangkan saat melindungi seseorang, ternyata kekuatan dewa sangat berguna,” jawab Donghae dengan sebuah senyum yang merekah di bibirnya. “Tadi, aku merasa aku mempunyai sayap.”

“Kau ini,” ucap Kibum saat melihat reaksi Donghae yang mulai berlebihan. “Tapi, mungkin itu benar Donghae, aku sedikit mengerti arti sesungguhnya dari kekuatan itu.”

– ##### –

“Jadi, tidak apa-apa kita kembali sekarang?” Aiden bertanya pada Kibum saat mereka telah kembali ke hotel tempat mereka menginap.

“Eh?”

“Ada apa dengan ‘eh?’?” tanya Kibum saat Donghae bergumam tak jelas.

Tapi Donghae tak terlalu memperdulikan pertanyaan Kibum, karena kini dia tengah memperhatikan Aiden. “Aiden, kau akan memakai seragam sekolah itu? Itu sangat bagus,” ucap Donghae dengan sebuah cengiran.

“Apa yang kau bicarakan?” Aidenpun segera mengambil seragam yang tadi dia masukkan kembali ke dalam koper miliknya, “Tidak, aku tidak akan mengenakan seragam ini,” ucapnya dan segera memberikan seragam itu pada Donghae, “Karena ini seragam Donghae.”

“Eh?” Donghae tak percaya dengan apa yang dia dengar meski dengan ragu diapun menerima seragam yang Aiden berikan padanya.

“Kami sudah memberitahu imomu tentang hal ini, Donghae akan ikut bersama kami.”

“Be-benarkah?”

“Donghae, kau tidak tahu tentang hal ini? Kau tidak tahu?”

Aiden menceritakan apa yang telah dia katakan pada imo Donghae, tentang Donghae yang akan ikut mereka ke sebuah kota besar dan tinggal bersama mereka. Sementara di tempat lain, yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berada, seekor anjing berbulu putih tengah berdiri memperhatikan gedung hotel mewah yang merupakan tempat di mana Donghae, Kibum dan Aiden kini berada.

‘Jadi anak perempuan itu benar-benar telah bangkit.’

T.B.C

Baiklah, saya baru menstranslate sampai di sini, dan sekarang rasa malas timbul, #plak

Jadi, untuk chap selanjutnya mungkin akan lama, karena saya juga harus melanjutkan FF yang lain, ternyata saya masih punya banyak utaaannnnngggggggggg~

Mengapa banyaaakkkkk~? -_-“

Advertisements

8 thoughts on “Donghae: I’m a God – 3

  1. Huwaaaaaaa~ jerit bareng kibum.. Aku tau bnget tampangnya kibum gimana..
    #phobia ulet bulu
    Aku jga pasti lngsung gemeter klo ngeliet ulet bulu hiiii~

    Hae bener” pabo ya hahaha
    Baca chap ini berasa pengen mukulin pala hae pake kamus tebel haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s