Posted in Uncategorized

I Will Always Love You


Seorang pria manis terduduk diam di depan sebuah meja berwarna coklat dengan sebuah name tag yang terletak di atasnya, berbahan kaca mengkilap yang membuat bola matanya tergerak, membaca setiap detail huruf yang tertulis di sana. Wajah pucatnya sama sekali tak menghilangkan kadar manis padanya.

Dia tak bergeming saat seorang pria berpakaian putih khas seragam seorang dokter duduk bersebrangan dengannya di meja tersebut, yang memang adalah meja kerja seorang dokter yang namanya tertera pada name tag yang tengah pria manis tersebut lihat sedari tadi.

“Hem,” dokter muda itu berdehem agar pria manis di hadapannya tak terlalu larut dalam diam, “Saya perlu berbicara dengan keluarga Anda,” ucapnya kemudian setelah pria manis tersebut mengangkat wajah dan menatapnya dengan mata sayunya. “Kapan Anda dapat membawa mereka kemari? Besok? Lusa?”

“Tak perlu,” itulah jawaban yang terlontar dari bibir pria manis tersebut.

“Ini hal penting.”

“Aku tahu,” ucapan itu membuat dokter muda itu terdiam, ditatapnya wajah pucat pria manis yang merupakan pasien yang baru saja ia periksa beberapa saat yang lalu. “Leukemia? Kanker darah? Saya tahu, Anda tak perlu menjelaskannya lagi.”

“Keluarga Anda tahu?”

“Tidak.”

“Sahabat? Orang terdekat Anda?”

“Tak ada yang tahu,” jawab pria manis tersebut pelan.

Dokter muda itu menarik nafas panjang dan sedikit merapikan dasi hitamnya. “Sejak kapan Anda tahu.”

“Tahun lalu.”

“Dari mana Anda tahu tentang penyakit Anda?”

“Dokter yang memeriksaku sebelum Anda.”

“Bagaimana mungkin dia memberitahu hal sepenting ini, tanpa melibatkan siapapun dari orang terdekat Anda?”

Continue reading “I Will Always Love You”