Posted in KiHae Couple, Super Junior

Our Little Angel [Little Kihae] – 23


303470_418399684856451_100000592696628_1536760_1573749975_n

Tittle : Our Little Angel

Pairing : KiHae

Chap 23 update ^^

Happy reading ^^

– isfa_id –

1 tahun kemudian

Donghae melepaskan pelukannya pada seorang wanita paruh baya yang wajahnya terlihat pucat. Mata sendu itupun Donghae tatap dengan pilu meski ia bubuhi dengan sebuah senyum kecil yang tergambar di wajahnya.

“Terima kasih,” ucap wanita paruh baya itu, nyonya Park.

Donghaepun kembali memberikan senyumannya pada nyonya Park dengan ditemani Kibum yang terus mengusap pundaknya lembut sejak ia melepaskan pelukkannya pada wanita paruh baya tersebut.

“Sayang sekali aku tak dapat bertemu Kihae, padahal aku ingin sekali bertemu dengannya.”

“Dia sedang menemani adiknya,” jawab Donghae saat nyonya Park mengemukakan keinginannya untuk bertemu malaikat kecilnya saat ini.

“Ya,” ucap nyonya Park mengerti, “Aku harap kelak aku dapat bertemu dengannya,” lanjutnya yang membuahkan senyuman dan ucapan ‘tentu saja’ dari mulut Donghae. “Dia pasti anak yang baik, hingga membuat suamiku sangat menyukainya.”

Nyonya Park terus berucap, tentang keinginannya bertemu dengan seorang Kim Kihae, karena ia ingin tahu mengapa sang suami sangat menyukainya dan tak henti menceritakan tentang bocah tersebut, di mana ia mendapatkan cerita itu dari Kibum setiap harinya, mengingat ia yang memang mengidap Alzheimer, yang membuatnya tak mungkin mengingat setiap hal yang ia lalui di hari-hari sebelumnya.

Tapi tentu saja bukan hanya karena cerita-cerita tersebut yang membuat tuan Park begitu menyukai Kihae, namun juga karena ia yang pernah bertatap muka dengan bocah manis tersebut yang ia tuangkan dalam buku catatan hariannya.

Dua pasang kaki itupun akhirnya beranjak, melangkah beriringan meninggalkan rumah duka tempat mereka berada sebelumnya. Mereka, Kibum dan juga Donghae berjalan menuju mobil mereka dengan Kibum yang masih setia mengusap punggung ‘istri’ tercintanya itu karena wajah manis Donghae yang masih terselimuti duka.

“Sudahlah,” ucap Kibum dan membukakan pintu mobilnya setelah mereka berada di tempat parkir.

Kepala Donghaepun terangkat, menatap Kibum setelah ia terduduk di bangku penumpang dengan kedua kaki yang masih menapak pada aspal di bawah kakinya.

“Beliau orang yang baik Kibummie,” ujarnya mengingat bagaimana Kibum yang selalu menceritakan tentang tuan Park padanya setiap kali sang suami menyelesaikan syuting dramanya di mana drama tersebut tercipta dari sebuah naskah yang tuan Park tulis.

“Semua orang akan menemui ajalnya,” ucap Kibum meraih kedua tangan Donghae, “Begitupun dengan tuan Park, juga kita kelak.”

“Eum~” Donghae merengut dengan ia yang langsung memeluk pinggang Kibum dengan erat dan menyandarkan kepalanya pada perut sang suami dengan aliran air mata yang dapat Kibum rasakan membasahi bagian tubuhnya tersebut.

Sementara di tempat lain, di sebuah apartemen yang terbilang mewah, seorang bocah terduduk malas dengan wajahnya yang merengut, meski itu membuat wajah manisnya terlihat semakin menggemaskan. Pipinya menggembung dengan mulut mungilnya yang terlihat sedikit maju, punggung telunjuknyapun bergerak memperbaiki posisi kacamata yang tengah ia kenakan.

“Kau jangan menangis lagi,” ucap bocah tersebut pada seorang bayi mungil yang kini tengah tertawa senang dengan sebuah boneka ikan kecil yang ia genggam siripnya. “Kau seperti eomma, manja,” lanjutnya saat sang adik menatapnya dengan suara tawa yang semakin terdengar kencang mendengar ia bicara meski bayi mungil tersebut tak mengerti apa yang ia ucapkan.

Dan kini, bocah itupun beranjak dari posisinya, melangkah keluar dari kamar tidur orang tuanya di mana sang adik tengah berada dalam box bayinya. “Jangan menangis lagi,” sungutnya sebelum ia benar-benar keluar dari ruang tersebut dan melangkah menuju ruang tengah guna melanjutkan acara kartun yang tengah ia tonton. “Mengapa eomma dan appa tidak meminta halmeoni ke sini?” dan akhirnya diapun merutuk.

“Kami pulang.”

Sebuah teriakan dari pintu depan membuat bocah tersebut memalingkan pandangannya dari layar lebar televisi di depannya. Iapun segera berdiri dan segera berlari menuju pintu depan di mana ia dapat menemukan kedua orang tuanya yang kini tengah melepas sepatu mereka dan menggantinya dengan sandal rumah.

“Appa~” bocah itupun berteriak dan segera melompat ke dalam gendongan sang ayah yang memberikan sebuah kecupan di pipi chubbynya.

“Apa Haebum nakal?” tanya sang ayah, yang adalah Kibum.

“Hem? Dia selalu saja menangis, Kihae kesal Appa,” jawab Kihae yang melingkarkan kedua tangannya dengan erat di leher Kibum.

Kibum tersenyum mendengarnya dengan ia yang mulai mengacak surai hitam malaikat kecilnya itu.

Dan Donghae, ikut mendekati kedua laki-laki yang ia cintai setelah selesai mengganti sepatunya. Iapun mengusap lembut kepala Kihae dan mencoba mengecup pipi chubby malaikat kecilnya itu meski ternyata ia tak berhasil melakukannya saat Kihae memalingkan wajahnya dan menyembunyikannya di bahu Kibum.

“Hei~” Kibum menegur Kihae yang malah menggelengkan kepalanya.

Kihaepun melepaskan pelukkannya pada leher Kibum dan segera menurunkan tubuhnya dari gendongan sang appa. Iapun lalu berlari dari hadapan kedua orang tuanya dan segera mengurung dirinya di dalam kamarnya yang membuat Donghae, sang eomma menunduk diam, meski akhirnya ia menggambarkan sebuah senyum di wajahnya saat Kibum mengusap pipinya.

“Aku mau melihat Haebum,” ucapnya dan langsung berlari meninggalkan Kibum yang kini tengah menatap pintu kamar putra pertamanya.

– isfa_id –

Donghae tersenyum melihat bayi mungilnya tengah bermain dengan boneka ikannya di dalam box bayi yang berada di sebelah tempat tidurnya. Iapun mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya membuat buah hatinya itu tertawa riang dan menggoyang-goyangkan tangannya ke muka sang eomma.

“Haebum nakal eoh? Kihae hyungnya jadi marah.”

Haebum terus tertawa dengan tangan mungilnya yang terus menepuk-nepuk pelan wajah manis Donghae, tentu saja ia belum mengerti dengan apa yang eommanya katakan, dan itu membuat Donghae kembali tersenyum padanya dan memberikan sebuah kecupan hangat di sudut mata sang buah hati.

Dan Kibum?

Kini ia tengah terduduk di sisi ranjang, di mana Kihae tengah terbaring di sampingnya.

“Kenapa?” tanya Kibum lembut dan mengusap kepala Kihae dan berusaha menatap wajah Kihae yang kini tengah bersembunyi di balik bantalnya.

Kibum diam kemudian, ia tahu malaikat kecilnya itu sedang tak ingin diganggu saat ini, ia hanya sedikit menarik wajah Kihae dan melepaskan kacamata yang tengah dipakainya. Iapun kemudian ikut berbaring setelah menyimpan kacamata itu ke atas meja nakas dan menyandarkan kepalanya pada bahu kecil buah hatinya. “Kihae ingin yeodongsaeng?” tanya Kibum sedikit berbisik disertai sebuah senyuman karena ia mengingat kejadiaan beberapa waktu yang lalu saat bayi mungilnya terlahir ke dunia.

Flash Back On

Kihae berdiri diam di balik sebuah kaca besar yang membuatnya dapat melihat beberapa bayi yang tengah tertidur di dalam boxnya masing-masing. Ia menempelkan kedua tangannya pada dinding kaca tersebut dengan matanya yang berkedip menatap pergerakkan-pergerakkan kecil yang dilakukan bayi-bayi mungil di sana.

“Ayo,” Kibumpun yang sejak tadi berdiri di sebelahnya segera menggenggam tangan Kihae dan mengajaknya untuk memasuki ruangan tersebut meski Kihae menarik kembali tangannya dan menahan langkahnya untuk tetap berdiri di sana.

Kibum menatap Kihae dengan dahinya yang sedikit berkerut meski ia turut memperhatikan bayinya dari sana, seperti apa yang Kihae lakukan.

“Appa bohong,” hingga akhirnya Kihae mengeluarkan suaranya, “Appa bilang akan memberikanku yeodongsaeng,” lanjutnya dengan mata yang terus menatap lurus ke arah sebuah papan nama yang bertuliskan Kim Haebum di depannya. “Eomma bilang akan memberikanku adik kembar,” ungkapnya dengan wajah yang terangkat, menatap Kibum yang menunduk diam memandangnya.

Flash Back Off

Pipi Kihae mengembung dengan pergerakkan mulutnya yang terlihat sedikit maju saat gigi-giginya mengunyah makanan yang berada di mulutnya. Kibum, dengan bujukannya memang berhasil membawa Kihae keluar dari kamarnya, meskipun bocah itu tak mengeluarkan sepatah katapun sedari tadi. Kihaepun dengan segera kembali menyuapkan makan malamnya sebelum suapan sebelumnya ia telan.

“Makannya pelan-pelan sayang,” ucap Donghae memperhatikan Kihae dengan ia yang terus memegang dot Haebum, karena bayi mungilnya itu juga turut menyantap makan malamnya.

Kibum, yang sejak tadi hanya diam menikmati makanannya kini segera beranjak setelah ia menenggak setengah gelas air putihnya. Iapun berjalan menuju Donghae yang duduk bersebrangan dengannya dan segera mengambil alih Haebum dari gendongan ‘istri’ tercintanya tersebut.

“Eh?” Donghae menatap Kibum dengan kedua tangannya yang belum melepaskan Haebum, tapi akhirnya iapun membiarkan Kibum mengambil alih sang buah hati saat Kibum melirik Kihae yang tengah merengut dengan semua makanan yang menggumpal di dalam mulutnya.

Kibum menjauh, meninggalkan mereka ke ruang tengah meski dari sana ia tetap bisa melihat dan mendengar apa yang mungkin saja akan diucapkan oleh dua orang terkasihnya.

“Kihae selesai,” namun belum sempat Donghae beranjak dari duduknya, Kihae langsung turun dari kursinya dan berlari menuju kamarnya, meski akhirnya Donghae menghentikannya dengan kedua tangan yang menggenggam pundak kecilnya.

Mulut Kihae masih terlihat menggembung dengan ia yang berusaha menelan habis makanannya meski belum terkunyah sempurna.

“Ada apa? Apa eomma melakukan kesalahan eoh?”

“Aniya,” jawab Kihae singkat dan mencoba melepaskan diri dari sang eomma, meski Donghae tetap menahan tubuhnya. “Kihae kenyang.”

Donghae menarik nafas mendengar jawaban asal Kihae padanya. Entah kenapa Kihae selalu menghindar darinya beberapa hari ini, bahkan mungkin bisa lebih dari hitungan hari. Minggu? Bulan? Yang jelas Donghae tersiksa dengan diamnya Kihae padanya.

“Ada apa?”

“…”

“Jawab pertanyaan eomma!”

“…”

“Kim Kihae!”

Pipi Kihae semakin mengembung mendengar Donghae yang berteriak menyebutkan nama lengkapnya, bahkan matanyapun berair kini. Iapun segera melepaskan genggaman tangan Donghae dari pundaknya dan segera berlari menuju kamarnya, membuat Kibum yang sejak tadi memperhatikan mereka dari ruang tengah menatap Donghae dan perlahan mendekati sang ‘istri’. Tapi belum sempat ia mengatakan apapun pada Donghae, Donghae sudah berjalan meninggalkannya menuju kamar malaikat kecil mereka yang ternyata terkunci.

“Kihae, buka pintunya.”

“Hei,” Kibum yang mengikuti langkah Donghae, menyentuh pundak Donghae dengan sebuah gelengan yang ia lakukan pertanda ia meminta Donghae untuk tidak mengganggu Kihae saat ini.

“Dia harus memberikan alasan kenapa dia marah padaku Kibum,” ucap Donghae dengan nafas yang sedikit memburu karena ada sebuah rasa kesal yang terselip dari setiap kata yang terlontar. Namun Donghaepun akhirnya menunduk saat Kibum menatapnya seakan menggambarkan apa yang tengah ia lakukan saat ini salah. Dan kini, Donghaepun mengetuk pelan pintu kamar Kihae seraya berujar, “Kihae, buka pintunya, eomma minta maaf.”

‘Pluk.’

Pandangan Donghae teralihkan saat sebuah suara benda jatuh menyentuh gendang telinganya, ia melihat botol susu Haebum berada di depan kakinya karena tangan mungil Haebum belum dapat menggenggamnya. Iapun menatap Haebum yang berada dalam gendongan Kibum di mana bayi mungilnya tersebut menggerak-gerakkan bibir mungilnya menandakan bahwa ia masih menginginkan makanannya.

Donghae merunduk, mengambil botol susu Haebum dan kemudian menatap bayi mungilnya dengan sebuah senyum dan ucapan “Anak eomma masih lapar?” seraya memperhatikan susu yang sudah hampir habis di botol susu di tangannya. Iapun beranjak menuju dapur untuk membuatkan susu untuk Haebum sebelum buah hatinya itu menangis. Sementara Kibum tetap berada di sana dan perlahan mulai mengetuk pintu kamar Kihae.

“Kihae, ini appa.”

‘Klek.’

Pintu kamar itupun terbuka membuat Donghae yang melihatnya membisu dengan ia yang melepaskan botol susu Haebum dan meletakkannya malas di meja makan.

– isfa_id –

Selang beberapa saat kemudian.

‘Kriet.’

Donghae membuka pintu kamar Kihae perlahan, dan ia tersenyum saat tiga orang yang ia sayangi terlihat tengah tertidur bersama. Di mana Haebum, bayi mungilnya diapit oleh hyung dan appanya.

Donghaepun berjalan perlahan tak ingin mengganggu tidur lelap mereka dengan ia yang kini meletakkan botol susu pada meja nakas dan kemudian terduduk di sisi ranjang, di sebelah Kihae. Ia menatap ibu jari Kihae yang digenggam oleh jemari mungil Haebum dan juga tangan Kibum yang berada di pundak kecil bayi mungilnya.

.

.

“Oek.”

Kibum terbangun dari tidurnya saat sebuah suara tangis kecil dari bayi mungilnya menyentuh gendang telinganya. Ia buka matanya seraya menepuk pelan bokong Haebum yang mulai kembali tenang dalam tidurnya. Dan Kibumpun tiba-tiba tersenyum saat melihat seseorang yang ikut tertidur bersama mereka, Donghae yang kini tengah memeluk Kihae yang juga tengah memeluk tangan sang eomma.

“Oek.”

Tapi tangis Haebum kembali terdengar hingga akhirnya Kibum segera beranjak dan mengangkat tubuh bayi mungil itu dalam gendongannya, “Hush, kita keluar, jangan ganggu eomma dan Kihae hyung,” bisiknya dan segera membawa Haebum keluar dari kamar Kihae.

‘Klek.’

Pintu kamar itupun Kibum tutup dengan perlahan dengan ia yang terus menimang bayi mungilnya yang mulai kembali terlelap dengan ibu jari yang ia hisap membuat Kibum tersenyum melihatnya.

– isfa_id –

‘Pluk.’

Kihae turun dari kursinya, di mana ia baru saja menyelesaikan sarapannya yang mana sesungguhnya belum selesai, hanya saja ia tengah terburu sekarang, “Appa cepat, Kihae telat,” rengeknya seraya mengambil tas sekolahnya yang menggantung di belakang kursinya.

“Kihae, bekalnya,” Donghaepun yang berada bersamanya di meja makan tersebut bersuara dengan ia yang memberikan sebuah kotak berisi bekal makan siang pada malaikat kecilnya yang disambut dengan sebuah muka cemberut meski Kihae menerima bekal tersebut dan memasukkannya pada tasnya.

‘Tap tap.’

Kihae mulai berjalan meski akhirnya suara Donghae menginterupsinya.

“Kau tidak mencium eomma?”

Kihaepun berbalik, melangkahkan kakinya mendekati Donghae yang kini tengah berjongkok dengan wajah yang mendekat padanya hingga akhirnya ia memberikan sebuah kecupan di pipi kiri sang eomma. “Kihae berangkat,” ucap Kihae lemah meski ia tak memandang Donghae melainkan membenarkan posisi kacamatanya dengan wajah tertunduk.

“Haebum?”

Pipi Kihae mengembung saat Donghae menyebutkan nama Haebum, meski akhirnya iapun memberikan sebuah kecupan pada sang adik yang memang tengah Donghae gendong, sejak tadi bahkan.

– isfa_id –

Kihae terlihat bergelut dengan semua peralatan tulisnya, di mana ia tengah mengerjakan soal yang diberikan oleh nyonya Ma, gurunya. Sesekali terlihat ia yang memperbaiki posisi kacamatanya, dengan matanya yang melirik gadis kecil yang duduk di sebelahnya. “Eunwon,” panggilnya, membuat Eunwon yang juga tengah mengerjakan soal sepertinya memalingkan pandangan padanya.

“Kau suka Wonhyuk?”

“Tentu saja, Wonhyuk sangat manis,” Eunwon menjawab pertanyaan Kihae mengenai perasaannya terhadap Wonhyuk, adik laki-lakinya dengan rona wajah yang ceria.

Mulut Kihae terlihat maju mendengar jawaban sahabatnya tersebut dengan ia yang tidak berhenti menggerakkan tangannya guna menulis semua jawaban pada buku latihannya.

“Haebum juga manis,” ucap Eunwon saat menyadari wajah Kihae yang merengut, karena ia pikir mungkin Kihae ingin ia memuji adik kecil Kihae, namun itu ternyata membuat wajah Kihae semakin merengut.

.

.

‘Klik.’

Kihae menutup kotak bekalnya setelah ia menghabiskan bekal yang dibuatkan Donghae. Ia melirik pada teman-temannya yang kini masih sibuk menghabiskan makan siang mereka. Dan seperti biasa, Eunwon selalu berada di sebelahnya.

“Kihae, besok Eunwon mau jalan-jalan, dengan eomma,” ucap Eunwon setelah ia meneguk minumnya.

“Ke mana?”

“Taman bermain, Kihae mau ikut?”

Kihae menggeleng lemah, dengan ia yang kemudian menenggak sisa air minum pada botol minum berwarna kuning miliknya.

.

.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Donghae tengah berbaring dengan tangannya yang menepuk lembut bokong mungil bayinya yang baru saja terlelap setelah rengekannya yang membuat Donghae pusing. Namun ia tersenyum, menatap wajah damai buah hatinya yang tengah tertidur itu. Pipi lembut itupun ia kecup sebelum akhirnya ia beranjak meninggalkan bayi mungilnya guna melanjutkan tugasnya yang tertunda.

Donghae melangkahkan kakinya ke ruang sebelah kamarnya, di mana ruang tersebut adalah kamar malaikat kecilnya. Ia tersenyum saat melihat tempat tidur Kihae yang berantakkan, karena ia sangat ingat mengapa itu bisa terjadi.

Flash Back On

Donghae terbangun dari tidurnya saat ia merasakan sebuah gerakkan kecil yang menyentuh lengannya. Ia membuka matanya yang membuat ia akhirnya tersenyum karena apa yang tengah tampak di matanya sekarang. Kihae tengah tertidur dengan tangannya yang tengah malaikat kecilnya itu peluk. Ia tampak bahagia tentu saja, karena ini pertama kalinya ia dan Kihae bisa sedekat ini semenjak sebuah hal yang bahkan tak dapat Donghae mengerti hingga sekarang. Ia belum menemukan alasan mengapa Kihae selalu mendiamkannya selama ini.

Jemarinyapun membelai suram hitam Kihae yang serupa dengan milik Kibum. Ia hirup aroma tubuh Kihae yang sedikit ‘terbumbui’ oleh keringatnya, namun Donghae sangat menyukai aroma itu, aroma malaikat kecil yang selama ini telah memberikan kebahagiaan padanya dan Kibum. Namun pergerakkan tangan Donghae terhenti saat ia melihat Kihae yang kembali bergerak dan perlahan mulai membuka matanya.

Donghaepun memejamkan matanya, berpura-pura ia masih tengah tertidur pulas di sana, sementara Kihae tengah memandangi wajahnya yang mencoba menahan senyum.

Kihae tak segera beranjak dari tidurnya, ia masih ingin menikmati hangat dari tubuh sang eomma yang kini tengah sedikit mengintip saat Kihae menyandarkan kepala pada tubuhnya, dan itu berlangsung lama, yang akhirnya membuat Donghae sadar bahwa Kihae telah kembali terlelap dalam tidurnya, hingga suara Kibum membangunkan mereka.

“Kalian berdua tak ingin bangun?”

Flash Back Off

Kaki Donghae kini telah benar-benar berpijak pada lantai kamar Kihae, di mana ia kini tengah terduduk di atas tempat tidur yang kini sedang ia benahi keadaannya. Ia lipat selimut berwarna biru senada dengan sprai yang kini  telah membalut kasur di bawahnya dengan rapi. Ia letakkan selimut tebal tersebut di atas bantal tidur Kihae yang menandakan tugasnya kali ini berakhir sudah.

Iapun melangkahkan kakinya menuju meja belajar Kihae, di mana di sana terdapat buku-buku pelajaran Kihae yang berserakan karena tadi pagi Kihae terburu-buru memasukkannya ke dalam tas sekolahnya dikarenakan ia yang bangun terlambat.

Satu per satu buku di atas meja belajar itu Donghae rapikan, dengan ia yang juga merapikan beberapa lembar kertas dan juga pensil yang juga ikut berserakan.

‘Trek.’

Donghae meletakkan semua alat tulis pada kaleng yang merupakan tempat penyimpanannya, benda terakhir yang menjadi jamahannya saat ini. Dan akhirnya, matanya tertuju pada laci yang sedikit terbuka di sebelah kanannya. Ia berniat menutupnya meski akhirnya ia membuka lebar laci tersebut saat matanya tergoda pada sebuah kotak kecil yang berada di dalamnya.

Jemari itupun tergerak untuk membukanya dan membuat ia mengetahui apa yang KIhae simpan di dalamnya. Donghae memperhatikan tiap lembar kertas yang ada di dalamnya, membuat ia terdiam dengan senyum yang semenjak tadi terlukis di wajahnya menghilang. Ia bungkam meski dengan sebuah tarikan nafas dalam yang terdengar. Hingga akhirnya iapun merogoh ponselnya yang sedari tadi bersembunyi di kantong celananya dan menekan sebuah tombol panggil setelah ia menemukan nomor yang ingin ditujunya.

“Kibummie~”

– isfa_id –

Kibum membuka tutup kotak kecil yang ia terima dari Donghae sejak ia pulang beberapa menit yang lalu. Ia perhatikan isi dari kotak tersebut, tiap lembarnya ia lihat tanpa terlewat satupun. Ia tahu, akan semua lembaran kecil yang Kihae simpan dalam kotak tersebut. Tiket dari setiap hal yang ingin malaikat kecilnya itu datangi, bersama Donghae, sang eomma. Taman bermain, bioskop, museum, kebun binatang, dan tak terhitung lagi seberapa banyak yang Kihae simpan di sana.

Kibum tentu saja ingat wajah bahagia Kihae tiap kali ia memberikan tiket-tiket tersebut pada malaikat kecilnya yang sengaja ia pesan melalui manajernya.

“Kihae membenciku,” hingga akhirnya suara Donghae yang sejak tadi berada di sebelahnya membuat Kibum menyimpan tiap lembar tiket tersebut dan menutup kotak kecil yang sedari tadi berada di pangkuannya.

Iapun menangkup wajah sendu Donghae dengan kedua tangannya, karena ia tahu saat ini Donghae tengah bersedih akibat rasa bersalahnya yang telah membatalkan setiap janjinya pada Kihae, dan Haebumlah yang menjadi alasannya. Kerewelan bayi mungilnya, yang membuat ia harus memberikan sebuah rasa kecewa pada malaikat kecilnya.

Kibum tersenyum, dengan jemarinya yang membelai lembut wajah sayu Donghae, “Kihae tidak membencimu, dia hanya merindukanmu.”

.

.

11.35 PM

Donghae membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya, ia tak dapat terlelap sedari tadi meski ia sesungguhnya merasa lelah hari ini menjaga bayi mungilnya yang tak berhenti meminta ditemani untuk bermain. Iapun melirik pada Kibum yang kini tengah terlelap di sebelahnya juga bayi mungilnya yang sama terlelapnya dalam box bayi di dekatnya.

Iapun bangkit, beranjak dari kamarnya, dengan langkah yang perlahan.

Donghae menatap lekat pintu coklat di depannya, dengan sebuah papan berwarna hitam dengan lima huruf warna-warni yang tertera di sana ‘Kihae’. Dibukanya perlahan pintu yang tertutup itu, menampakan malaikat kecilnya yang tengah tertidur dengan dibungkus oleh selimut tebal birunya. Iapun melangkah mendekat, hingga kini tubuh itu terbaring di sebelah tubuh mungil itu dengan sebuah kecupan yang ia labuhkan pada pelipis kanan Kihae.

“Eomma juga merindukanmu,” bisiknya dengan jemari yang mulai mengusap surai hitam buah hatinya. “Eomma minta maaf.”

Donghaepun mulai menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut yang sama dengan Kihae dan merapatkan tubuhnya yang membuat Kihae sadar ataupun tidak langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Donghae yang tak sepenuhnya dapat ia peluk.

Senyumpun tergambar pada wajah Donghae saat merasakan sentuhan pada tubuhnya tersebut dan iapun ikut memeluk tubuh malaikat kecilnya itu, memejamkan matanya untuk selanjutnya turut terlelap bersama desahan nafas Kihae yang menyentuh kulit dadanya dari luar piyama yang ia kenakan.

Seyum itupun turut tergambar pada seseorang yang kini tengah memperhatikan mereka dari balik pintu kamar Kihae yang sedikit terbuka. Kibum, ia terkekeh pelan melihat dua laki-laki yang ia cintai itu saling memberikan kehangatan dalam tidur mereka.

T.B.C *Again*

*Tepok Jidat Sambil Nyengir*

Tadaaa~ Kihae datang setelah sekian lama. Masih adakah yang setia menunggu? xD

Akhirnya, setelah setahun –lebih– dan baru ini yang terpikirkan untuk melanjutkan cerita Kihae –bersama adik kecilnya– Haebum.

Eum? Terlalu bertele-tele mungkin, dan alur cerita yang terlampau lambat. Entahlah, lol.

20100111????? ???/??=????? anypic@fnn.co.kr

Advertisements

18 thoughts on “Our Little Angel [Little Kihae] – 23

  1. Pengen koment lagi 😀
    Kihae kasihan omma 😥
    jgn malah malah lg nanti aaku gigit lo .

    Oeni jgn lama up datenya 😀 di tunggu haaahaa

  2. waahhh…..
    uri kihae balik lagi, gemes ngeliat Kihae yang cemburu ngelat adiknya 😀
    lanjutin lagi fa,hehehe….
    mau pass The Fan Fiction dong..?? :d

  3. gatau mau komen gimana eon -_- terlalu syok pas tau ini ff tiba2 didepan mata 😉
    yang pasti next chap semoga ga lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s