Posted in Uncategorized

Rain


11186903_830913450313909_633328544_n

Lampu ruangan itu tetap menyala terang meski salah satu penghuninya tengah memejamkan matanya di balik selimut tebal merah jambunya. Ia bergeming dengan matanya yang mencoba untuk beradaptasi dengan cahaya yang ada meski itu membuatnya sulit untuk terlelap.

 

“Sungyeollie~”

 

Pemuda itu bangkit, mengeluarkan tubuhnya dari balik selimutnya, menatap pemuda lain dengan piyama hitam di hadapannya yang juga tengah terduduk di atas ranjangnya yang terbalut spray berwarna putih yang kontras dengan piyama yang tengah ia kenakan. “Kau mencoba berlaku tak sopan padaku?”

 

“Apa? Aku tak boleh memanggilmu begitu… Hyung?” jawab pemuda tersebut dengan penekanan dari sapaan hyung yang ia pergunakan.

 

“Diamlah!”

 

Sungyeol, pemuda itu kembali membaringkan tubuhnya dan kembali menguburnya dalam selimut merah jambunya.

 

“Mengapa? Mengapa kau berlaku seperti ini kepadaku?”

 

“Diamlah! Kau sangat berisik.”

 

“Apa semua itu hanya sandiwara?”

 

Sungyeol menghempaskan selimutnya dengan tubuhnya yang bangkit keras juga dengan matanya yang menatap tajam pada pemuda di hadapannya. “Hentikan bicaramu!” tukasnya dengan ketusnya.

 

“Tidak! Aku tak mau!”

 

Hening sesaat setelah itu dengan dua pasang mata yang saling menatap tajam, ditemani oleh dentingan jam dinding merah yang menunjukkan bahwa saat ini sudah melewati tengah malam. Salah seorang dari mereka menghembuskan udara dari bibirnya membuat rambut yang menutupi dahinya tertiup dan berpindah posisi beberapa senti.

 

“Jadi mengapa? Mengapa kau lakukan ini padaku?”

 

“Memangnya apa yang telah aku lakukan?”

 

“Kau hanya baik terhadapku bila itu disaksikan semua orang, kau hanya lembut padaku bila itu terjadi di depan kamera. Bahkan kau berlaku begitu mesra padaku bila itu di media sosial.”

 

“Lalu apa? Apa yang seharusnya aku lakukan padamu, hah?”

 

“Hentikan perlakuanmu yang seperti itu padaku! Jangan pernah menjadikanku alat untuk topeng busukmu!

 

“Ya! Kim Myungsoo!”

 

Sungyeol bangkit dari duduknya dan segera menghampiri sosok yang ia sebut namanya dengan suara tingginya tersebut.

 

“Berhenti merengek di hadapanku! Aku lelah mendengarnya!”

 

Myungsoo hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Sungyeol dan ikut bangkit dari duduknya. Ia tatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu dengan wajah yang mau tak mau sedikit mendongak. “Aku merengek katamu? Kau lelah?” ucapnya dengan sinisnya. “Kalau begitu berhenti perlakukan aku seperti ini!” ia berkata dengan nada marah dan segera beranjak keluar dengan menghempas kasar pintu kamar mereka.

 

Dengan langkah cepat Myungsoo berjalan meninggalkan ruangannya. Kepalanya sedikit menoleh menatap pintu coklat yang terpaksa tertutup rapat karena perlakuannya. Iapun mendengus kesal dan melanjutkan langkahnya menyusuri anak tangga yang akhirnya membawanya pada bangku putih yang berada di taman tempat tinggalnya.

 

Ia hempaskan tubuhnya pada bangku tersebut dengan tangan kanannya yang mengacak kasar rambut hitamnya. Perlahan ia rogoh kantong piyamanya, menatap layar hitam dari benda persegi yang ia keluarkan. Cahaya itu tampak saat ia menekan salah satu tombol pada benda tersebut, menampakan pilihan menu yang dapat ia pergunakan.

 

Media sosial itu menjadi pilihannya, di mana gambar burung berwarna biru itu tertangkap oleh retinanya.

 

“Sungyeollie~ kau melakukannya dengan sangat baik hari ini, istirahatlah, aku menyukaimu, sangat sangat menyukaimu :*”

 

Ia menuliskan sebuah kalimat dengan diakhiri oleh sebuah emot manis sebagai sesuatu yang akan ia post. Iapun menyandarkan tubuhnya pada bangku putih itu setelahnya dengan kepala yang mendongak menatap langit hitam kelamnya. Dan untuk beberapa menit kemudian ia kembali sibuk dengan gadgetnya, kembali membuka media sosialnya.

 

“Kaupun melakukannya dengan baik L-ah, aku juga sangat menyukaimu… :* dan hei, apa yang tengah kau lakukan di jam segini? Tidurlah!”

 

Myungsoo mendengus setelah membaca jawaban dari apa yang ia kirimkan sebelumnya. “Dia masih bisa melakukannya setelah apa yang terjadi.”

 

Sementara itu di tempat yang berbeda Sungyeol menyimpan handphonenya di meja nakas sebelah tempat tidurnya dan segera menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebalnya. Ia meringkuk dengan mata terpejam setelah bibirnya berucap “Ini melelahkan.”

 

– isfa_id –

 

“Waaa~”

 

Teriakan histeris itu terdengar oleh tujuh pasang telinga yang tengah tersenyum lebar di atas panggung megah mereka. Tangan-tangan mereka melambai indah menyapa semua penggemar yang berada di hadapan mereka kini, yang telah mereka hadiahi tiga buah lagu pembuka pada konser mereka kali ini, yang telah mereka suguhi dengan tawa riang yang mereka pertontonkan.

 

Light Stick berwarna emas metal itu menyala memenuhi ruang konser tersebut, dengan semua penggemar yang menerikan nama bias mereka. Dan tampak di atas panggung tersebut sang leader Sunggyu tengah menyapa semua penggemar mereka. Sementara itu di sisi lain, Myungsoo berada di ujung kiri semua member tengah melambaikan tangannya kepada penggemar mereka yang tengah mengambil gambarnya. Dan perlahan sosok lain yang berada di tengah secara perlahan melangkahkan kakinya mendekati sosok Myungsoo yang masih berkutat dengan sikap ramahnya.

 

Sungyeol dengan tangan kanannya merangkul pundak Myungsoo dan ikut melambaikan tangannya pada penggemar mereka dengan senyum lebar yang ia persembahkan. Yang akhirnya membuat Myungsoopun ikut melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Sungyeol menampakkan jajaran gigi putihnya dengan tangan lain yang tak berhenti melambai indah tersebut. Iapun secara spontan memberikan sebuah kecupan pada pipi Sungyeol yang berhasil membuat teriakan dari penggemar mereka semakin menggema kencang.

 

.

.

 

‘Prak~’

 

Sungyeol melempar blazer abunya kasar pada kursi coklat ruang make up mereka. “Apa yang kau lakukan?” ia membentak seseorang yang sebelumnya berada di belakangnya sebelum ia membalik tubuhnya menghadap sosok tersebut.

 

“Bukan apa-apa, hanya untuk membuat mereka senang.” Jawab sosok tersebut santai dengan jarinya yang membuka dua kancing atas kemeja putihnya guna menghilangkan sedikit rasa gerah.

 

‘Srak~’

 

Dan itu berhasil membuat seorang Sungyeol menarik kerah kemejanya.

 

“Lepaskan!”

 

“Kau pikir kau bisa melakukan apapun sesukamu? Hah?”

 

“Ku bilang lepaskan Lee Sungyeol!”

 

Sungyeol bergeming, ia malah semakin menarik kerah kemeja itu dengan kasar. “Kau pikir kau hebat dengan melakukan hal itu, hah? Kim Myungsoo!”

 

“Cukup!”

 

Sosok lain yang juga berada di antara mereka berdua ikut berteriak mendengarkan kalimat-kalimat yang mereka tuturkan. “Hentikan!” ia menarik kasar tangan Sungyeol hingga terlepas dari kerah kemeja Myungsoo dan mendorong tubuh Myungsoo pada kursi coklat di sampingnya. “Kita hentikan saja!” lanjutnya dan bergegas melangkah pergi setelah menghadiahi tatapan tajam pada dua pemuda yang tengah berdebat tersebut. “Kalian lanjutkan sendiri konsernya!”

 

“Ya! Hyung.”

 

“Sunggyu Hyung.”

 

Empat sosok lainnya mencoba mencegah Sunggyu keluar dari ruangan tersebut dengan salah seorang yang menarik tangannya.

 

“Eiii~ jangan bersikap kekanak-kanakan Hyung!”

 

Sunggyu langsung membalik tubuhnya saat kalimat tersebut menyentuh gendang telinganya. Ia tatap sosok yang melontarkan kalimat tersebut di mana itu adalah dua orang yang tengah berdebat sebelumnya.

 

“Apa? Aku… kekanak-kanakan?” ucapnya seraya mendekati dua sosok tersebut yang tengah berdiri berdampingan. “Lalu kalian apa?” tanyanya ketus yang tak mendapatkan jawaban apapun dari dua pemuda tersebut. Ia memandangi Sungyeol dan Myungsoo secara bergantian di mana mereka menundukkan pandangan darinya. “Berhenti bersikap seperti bayi yang hanya bisa merengek pada ibunya setiap kali kalian menginginkan sesuatu! Itu membuatku lelah! Jadi kita hentikan saja! Sudahi saja!”

 

Sunggyupun kembali membalik tubuhnya dan meninggalkan ruangan tersebut yang disusul oleh empat pemuda lain dan menyisakan dua sosok yang hanya bisa melepas nafas kasar dari bibir masing-masing.

 

– isfa_id –

 

Sungyeol melempar handuk kecil putih yang ia gunakan untuk mengusap rambut basahnya pada ranjang berbalut spray merah jambu di belakangnya, dengan langkahnya yang bergegas meninggalkan ruangan tersebut bertepatan dengan seseorang yang memasukinya.

 

Langkah kakinya terhenti saat pemuda tersebut menarik sebelah tangannya. Ia bergeming, tak mengucapkan sepatah katapun hanya segera menarik kasar tangannya dan bergegas kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.

 

Matanya melirik seseorang yang berada di depan telivisi saat ia menuju kulkas di dapurnya. Iapun segera mendekati sosok tersebut setelah mengambil sebotol air mineral yang telah ia minum beberapa tegukan. “Apa yang tengah kau makan Hyung? Boleh aku minta?” tanyanya setelah menyamankan tubuhnya di sebelah sosok tersebut.

 

Namun apa yang Sungyeol dapat? Ia malah mendengus kesal saat sosok tersebut segera beranjak meninggalkannya dengan tak menyisakan apapun yang tengah ia santap. “Cih.” Sungutnya.

 

Sementara itu, sedetik kemudian ia mendengar suara pintu yang tertutup menandakan seseorang baru saja meninggalkan tempat tersebut. “Mau ke mana ia di jam segini?” ucapnya lirih pada diri sendiri namun segera beranjak mengejar sosok yang sebelumnya meninggalkannya, “Hyung, bagi aku, sedikit saja.” Rengeknya manja.

 

.

.

 

Tubuh itu tengah terbaring di balik selimut tebalnya dengan matanya yang tak berkedip menatap ranjang kosong di hadapannya. Ia melirik jam dinding dari sudut matanya, “Ini sudah jam dua,” desahnya.

 

Tubuh itu bangkit saat mendengar sebuah suara yang mengetuk jendela kamarnya. Perlahan langkah kakinya mendekati jendela kaca tersebut membuat titik-titik air yang jatuh menyentuh jendela tersebut memenuhi pandangannya. Perlahan ia geser jendela kaca tersebut ke kiri, mengulurkan sebelah tangannya keluar membuat tetesan air tersebut menyentuh telapak tangannya. Ia mendongak, menatap langit tengah malam yang kelam.

 

Kembali ia tutup jendela kaca tersebut dengan tubuhnya yang kembali ia baringkan di atas ranjangnya. Tubuh itu kembali menyusup ke dalam selimut tebalnya setelah ia mengeringkan tangan basahnya dengan tisu yang ia lempar entah ke mana. Dan untuk detik berikutnya ia memejamkan matanya guna memberikan istirahat pada tubuhnya.

 

Namun mata itu kembali terbuka, saat tetesan air di luar sana terdengar semakin jelas. Hujan itu semakin deras. Sementara ranjang di hadapannya belum ada yang menempati.

 

Tubuh itu bangkit, dengan tangannya yang bergegas menarik jaket hitam yang tersampir di sebelah pintu coklat ruangan tersebut. Dengan bergegas ia keluar membuatnya tak sengaja membanting pintu kamarnya membuat seseorang yang baru saja memasuki ruangan di sampingnya menoleh meski hanya bisa mengangkat pundaknya bingung saat menatap sosok itu keluar dengan tergesa-gesa.

 

.

.

 

Hujan itu turun dengan derasnya.

 

Dan di sinilah Sungyeol berada, berdiri di depan apartementnya, mendongakkan kepalanya, menatap hujan yang turun dengan kedua tangannya yang merapatkan jaket hitam yang tengah ia kenakan. Ia menolehkan kepalanya, menatap ke kiri dan ke kanan jalan yang berada di depannya, berharap sosok tersebut nampak di sana. Namun nyatanya tidak, sosok itu tak menampakkan diri. Hingga akhirnya membuat ia menghembuskan nafas dari mulutnya dan untuk detik berikutnya segerla berlari menerjang hujan yang seketika membasahi sekujur tubuhnya.

 

.

.

 

Sosok itu terus berlari, tak mempedulikan tubuhnya yang telah basah kuyup dan juga tak mempedulikan jari-jarinya yang telah mengerut. Bibirnya bergetar menandakan betapa dingin udara malam yang ia rasakan. Giginya berderit dengan nafas yang berhembus dari mulutnya berharap dapat memberikan kehangatan baginya.

 

Kepalanya berputar, dengan kedua matanya yang menjelajahi jalan malam yang kosong, yang digenangi air yang tak berhenti turun dari awan yang berada jauh di atas kepalanya. “L-ah~” ia mendesah pelan dengan tubuh yang semakin gemetar.

 

.

.

 

Sungyeol menyerah, tampak dari kepalanya yang tertunduk. Dengan langkah gontai ia kembali ke apartemennya ditemani oleh rintik hujan yang sesekali menyentuh tubuhnya. Hujan itu telah reda.

 

Ia terus berjalan dengan langkah kaki yang sedikit terseok, memasuki lift kosong yang akan membawa ia pulang, untuk kembali ke balik selimut tebal merah jambunya yang akan memberi ia kehangatan, mungkin.

 

Pintu lift itu terbuka, dengan Sungyeol yang hanya menatap nanar pada lorong kosong di hadapannya. Ia memutar tubuhnya ke kanan guna menuju ruangannya, namun matanya terbelalak, saat retina matanya menangkap sosok berbaju kaos putih memasuki ruangan yang sama yang akan ia tuju. Matanya memerah menahan cairan yang ingin keluar. Dengan bergegas ia berlari mendekati sosok tersebut.

 

Pintu coklat itu tertutup bertepatan dengan tubuh Sungyeol yang memasukinya. Nafasnya terdengar memburu meski itu menandakan kelegaan yang ia rasakan, terlebih saat kedua tangannya berhasil memeluk tubuh tersebut dengan kepala yang ia sandarkan pada pundak sang pemilik tubuh itu.

 

Sosok itu menggambarkan senyum kecil di wajahnya, dengan tangannya yang menyentuh kedua tangan Sungyeol yang tengah mendekapnya, “Sungyeollie~” panggilnya pada sosok di belakangnya yang tak memberikan jawaban apapun. “Kau bisa basah,” lanjutnya karena tak ingin sosok yang tengah mendekap tubuh basahnya itu ikut merasa dingin sepertinya. Iapun berbalik setelah melepaskan dekapan tangan Sungyeol yang berhasil membuat ia terbelalak karena keadaan Sungyeol sama sepertinya.

 

– isfa_id –

 

Sungyeol menundukkan kepalanya membiarkan panas dari hair dryer tersebut mengeringkan rambutnya. Sesekali ia mengangkat kepalanya menatap seseorang yang tengah melakukan hal tersebut untuknya. “Rambutmu…” ujarnya terputus saat sosok tersebut balas menatap matanya. Ia kembali menunduk “…basah.” dengan ia yang melanjutkan kalimatnya.

 

“Setelah kau selesai aku akan mengeringkannya.”

 

Kembali Sungyeol mengangkat kepalanya, menatap wajah seorang Myungsoo di hadapannya yang tengah membantunya mengeringkan rambut basahnya. Tangannyapun bergerak mengambil handuk kecil yang berada di atas kakinya dan segera mengusap kepala Myungsoo dengan kedua tangannya. “Kita lakukan bersama.” Ujarnya dengan senyum sedikit malunya.

 

Myungsoo terkikik kecil mendengar ucapan Sungyeol yang terkesan lucu baginya, meski ia membiarkan Sungyeol mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil putih tersebut.

 

“Tidurlah,” Myungsoo berujar setelah merasakan rambut Sungyeol yang sudah cukup kering dan menyimpan hair dryer yang telah ia gunakan di atas meja nakas sebelah ranjang Sungyeol. Iapun bangkit dengan tangan kirinya yang mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil yang telah terlepas dari tangan seseorang yang tadi membantunya untuk mengeringkannya.

 

“Cih.” Sungyeol mendengus setelah Myungsoo keluar dari kamar mereka. “Ia bahkan tak bertanya apa yang terjadi.” Ujarnya kesal dan segera mengangkat selimutnya dan bergegas mengubur tubuhnya dalam kehangatan. Meski dalam hitungan detik berikutnya ia terkikik geli saat mendengar seseorang berujar tepat di telinganya.

 

“Aku berharap hujan turun setiap malam.”

 

F.I.N

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s