Posted in KiHae Couple

Sand of Snow


sand-of-snow-1

Title : Sand of Snow
Pairing : Ki x Hae

Kembali setelah sekian lama, xD
Oneshoot yang cukup panjang yang pernah saya buat.

Happy reading. ^^

– isfa_id –

Laki-laki itu tengah terduduk di kursi kantin universitasnya, dengan sebuah buku yang ia letakkan di atas meja di sebelah gelas kopinya. Rambut coklat kehitamannya tertiup angin musim dingin hingga membuat separuh dahinya nampak. Iris hitam dari kedua matanya tampak berkilau akibat dari hamparan salju yang disinari oleh cahaya matahari dari balik awan yang menyembunyikan wujudnya.

Kedua kelopak matanya berkedip dengan hembusan nafas pelan yang ia keluarkan juga dengan pergerakan kedua tangannya yang merapatkan jaket tebalnya guna menahan udara dingin tersebut menyentuh tubuhnya. Sebuah senyum kecil terlukis di wajahnya saat seraut wajah tertangkap oleh retinanya, sosok wanita dengan rambut hitam panjang yang tergerai indah, yang tengah bersenda gurau dengan beberapa temannya di meja yang berada di seberangnya. Tawa yang keluar dari bibir wanita tersebut seakan mengalunkan lagu indah dalam hatinya.

“Benarkah?” Suara wanita tersebut tertangkap oleh indra pendengarannya, yang menandakan bila mereka tengah menggosipkan sesuatu, membuat ia menggelengkan kepalanya pelan dengan sebuah senyum lebar yang menampakkan jajaran gigi putihnya. Sesekali ia sesap kopi hitamnya dengan mata yang tak luput dari pemandangan indah di depannya itu.

“Hei Lee Donghae!!!”

“Uhuk.”

Laki-laki itu tersedak saat seseorang mengagetkannya dengan sebuah tepukan tepat di pundaknya.

“Apa yang kau lakukan?”

Ia, Lee Donghae, hanya menggeleng kecil saat seseorang itu bertanya padanya.

Laki-laki dengan postur tubuh tinggi tegap itu hanya mengangkat pundaknya pertanda bahwa pertanyaan yang ia berikan tidaklah mendapatkan respon yang terlalu baik dari lawan bicaranya tersebut. Iapun menjatuhkan tubuhnya di sebelah laki-laki yang ia sapa Lee Donghae tersebut setelah sebelumnya gelas kopi itu berpindah ke tangannya yang untuk selanjutnya segera ia seruput yang berhasil membuat wajahnya sedikit kesal dikarenakan gelas putih itu telah tak berisi apapun.

Iapun mengacak rambut coklat kehitaman milik seorang Lee Donghae ketika matanya menangkap sosok yang tengah menarik perhatian lawan bicaranya tersebut, setelah sebelumnya ia mencoba mengikuti arah pandangan mata hitam itu. “Kau masih belum mengatakannya?”

“Ya?” Donghae memalingkan pandangannya dan menatap laki-laki di sebelahnya saat pertanyaan itu menyentuh gendang telinganya.

Laki-laki itu hanya menyunggingkan sebuah senyum padanya dan tiba-tiba berdiri, “Im Yoon-ah ssi, sedari tadi ia memperhatikanmu.”

“Hei!” Donghae langsung menarik tubuh tinggi itu hingga kembali terduduk di tempatnya semula.

“Kau tahu, ia tertarik padamu.”

“Hei Choi Siwon!” Donghae semakin menarik laki-laki itu hingga benar-benar terduduk di kursinya, “Hentikan itu!”

Donghae terdiam dengan kedua kelopak matanya yang berkedip cepat saat melihat wanita bernama Im Yoon-ah tersebut beranjak dari kursinya dan berjalan ke arahnya. “Benarkah?”

“Oh.” Donghae tergagap seketika saat pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang Im Yoon-ah, sementara Siwon memberikan sebuah anggukkan yang membuat Donghae harus menginjak keras kakinya.

“Benarkah itu Oppa?”

Donghae semakin terdiam dengan bola matanya yang berputar menandakan ia tengah dirundung kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari wanita di depannya tersebut. “Ha… haha… hahaha…” namun tiba-tiba ia tertawa meski terdengar canggung, “Hei Yoona, kau tahu bukan Siwon suka sekali bercanda,” timpalnya seadanya.

“Oh.” Yoona berucap lirih dengan kepalanya yang sedikit tertunduk, “Sudah kuduga,” lanjutnya dan bergegas pergi dari hadapan Donghae dan Siwon yang diikuti oleh teman-temannya, sementara Donghae hanya menatap kepergiannya dalam hening.

Meski dalam hitungan detik berikutnya iapun segera mengambil bukunya yang ia letakkan di atas meja untuk selanjutnya beranjak dari tempatnya meninggalkan Siwon yang hanya dapat menghembuskan nafas pasrahnya.

– isfa_id –

‘Tak.’

Buku itu mendarat di meja coklat yang menjadi milik seorang Lee Donghae, tubuhnyapun telah menempati kursinya setelah tas ranselnya ia gantung di belakang kursi tersebut dengan ia yang menarik nafas sedikit panjang dengan kedua telapak tangannya yang menutupi mukanya.

‘Srek.’

Hingga wajah itu terangkat dengan sedikit menengok ke kiri saat kursi di sebelahnya berpindah tempat beberapa senti meter. Tertangkap oleh retina matanya seorang laki-laki yang memang selalu menempati bangku di sebelahnya. Laki-laki yang memiliki tubuh sedikit tinggi darinya dengan kulit putih saljunya, juga dengan iris hitam kelamnya. Rambut hitamnya yang sedikit panjang menutupi sebelah matanya membuat jemari panjang nan indahnya menyingkapnya menampakkan kulit mulus pelipisnya.

“Apalagi yang kau cari di wajahku?”

“Ya?” Donghae terkesiap saat laki-laki itu melontarkan sebuah pertanyaan padanya. “Aku tak sedang memperhatikanmu.”

“Ya. Aku tahu.” Ucap laki-laki itu sekenanya, saat Donghae mengucapkan kalimat dustanya.

Iapun menjatuhkan tubuhnya pada kursi miliknya yang berada di sebelah kiri seorang Lee Donghae. Dengan ia yang kemudian mengeluarkan handphonenya di mana jari-jarinya segera mengetikkan beberapa kalimat yang entah ia kirimkan kepada siapa dan untuk detik berikutnya ia segera menyembunyikan benda tersebut pada tasnya yang juga tersampir di belakang kursinya persis seperti milik Donghae.

“Kibum Oppa.”

Laki-laki itu mengangkat kepalanya saat seorang wanita memanggilnya. Tampak di depannya wanita tersebut tengah tersenyum ke arahnya dengan sebuah kotak hadiah yang berada di kedua tangannya. “Untukku?” tanyanya berbasa-basi membuat wanita tersebut mengangguk lucu. “Terima kasih…”

“Krystal.”

“…Krystal.” ucap Kibum mengikuti cara Krystal menyebutkan namanya dengan sebuah senyum yang ia sunggingkan yang berhasil membuat seorang Krystal tersenyum dengan sangat lebar dan segera beranjak meninggalkannya dengan kedua tangannya yang ia letakkan di dadanya guna merasakan detak jantungnya yang seakan meneriakkan kebahagiaan.

Kibum meniupkan udara dari bibirnya membuat rambutnya yang menutupi dahinya tertiup ke atas. Ia membuka kotak hadiah di depannya yang membuat beberapa potong coklat dengan bentuk-bentuk lucu itu tertangkap oleh iris hitamnya. Kembali ia tutup kotak tersebut dengan ia yang segera menyerahkannya pada Donghae yang hanya duduk diam di sebelahnya sedari tadi. “Kau mau?”

“Ya?” Donghae hanya menatap Kibum bingung. “Bukankah ia memberikannya untukmu? Itu sangat tidak sopan bila kau memberikannya kepada orang lain.”

“Aku sudah memiliki banyak,” jawab Kibum dengan segera membuka tasnya dan menampakkan beberapa batang coklat dengan pita berwarna-warni yang tersimpan di sana, yang berhasil membuat Donghae menarik nafas sedikit kesal.

Ia mengambil kotak hadiah yang diberikan Kibum kepadanya, tapi bukan untuk menerimanya melainkan menyimpan kotak tersebut ke dalam tas milik Kibum. “Kau habiskan saja sendiri,” ucapnya yang membuat Kibum mengulas senyum kecil di wajahnya.

– isfa_id –

Donghae berjalan menuju gerbang universitasnya di mana jam kelasnya telah berakhir lima belas menit yang lalu. Tangan kanannya tergerak untuk memperbaiki posisi tas ransel di atas pundaknya dengan derap langkahnya yang tak terhenti. Matanya berkedip pelan saat mendapati Yoona tengah berdiri di depan gerbang dengan sebuah senyum yang ia terima dari wanita idamannya tersebut.

“Kau mau pulang, Oppa?” Yoona memberikan sebuah pertanyaan padanya saat Donghae tepat berada di hadapannya.

Donghae menggeleng, memberikan jawaban akan pertanyaan yang ia terima, “Aku harus kerja.”

Yoona menyunggingkan sebuah senyum saat jawaban itu ia terima dan kemudian segera berjalan meninggalkan Donghae setelah sebelumnya dia berucap, “Kalau begitu selamat bekerja.”

Ia, Donghae hanya menarik nafas dalam setelah menyuguhkan seulas senyum pada Yoona pertanda ucapan terima kasih untuk semangat yang wanita itu berikan padanya. Dengan ia yang kemudian bergegas pergi menuju halte bus yang berada tiga ratus meter dari universitasnya.

.
.

“Selamat datang…”

Tubuh itu terangkat setelah sebelumnya menunduk sebagai keramahan pada pelanggan yang memasuki kedai kopi tempat ia bekerja.

“Espresso Latte,” ucap pelanggannya dengan kepala yang tengah mencoba mencari sesuatu “13,” lanjutnya setelah menemukan tempat yang akan ia duduki.

Donghae hanya mengangguk kecil menjawab ucapan pelanggannya dan segera berbalik guna menyiapkan pesanan sang pelanggan.

Tak lama iapun menghampiri kursi sang pelanggan dan menyerahkan pesanan yang ada di tangannya. “Selamat menikmati,” ucapnya ramah dan berbegas berbalik untuk kembali menuju mejanya hingga sebuah kalimat menginterupsinya untuk kembali berbalik ke pelanggannya.

“Tak mau menemaniku?”

“Saya harus bekerja.”

Pelanggan itu terkikik menerima jawaban Donghae. “Tak banyak yang membeli kopi di jam segini, bukan?”

‘Tring.’

Lonceng di balik pintu itu berbunyi pertanda ada pelanggan lain yang memasuki kedai kopi tersebut, “Selamat datang…” ucap Donghae dan berlari kecil menuju mejanya meninggalkan pelanggan yang masih terkikik di kursinya.

“Sama seperti dia.” Dua laki-laki yang baru saja memasuki kedai kopi tempat Donghae bekerja segera menyebutkan pesanan mereka seperti apa yang pelanggan sebelumnya pesan.

“Silahkan tunggu sebentar,” jawab Donghae dan bergegas menyiapkan pesanan untuk pelanggan-pelanggannya setelah kedua laki-laki tersebut bergabung bersama sang pelanggan pertamanya malam ini.

“Kau tak bosan kemari setiap malam?” samar-samar Donghae menangkap pembicaraan dari tiga orang di ruangan tersebut. Sementara yang mendapatkan pertanyaan tersebut hanya tersenyum dengan mata hitamnya yang memandang pundak seseorang dari balik mejanya.

“Kau yakin bisa mendapatkannya?”

Laki-laki itu hanya mengangkat kedua alisnya dengan senyum yang semakin melebar.

‘Srak.’

Sebuah kunci tergeletak di atas meja coklat tempat tiga laki-laki itu berkumpul, membuat tawa salah seorang dari mereka terdengar, “Aku tak membutuhkan itu Kyu.”

“Hei, Kim Kibum, aku serius, bila kau bisa mendapatkannya, maka ini menjadi milikmu.”

Kibum, ia mengambil kunci tersebut dan mengembalikannya kepada pemiliknya, “Aku tak ingin menjadikannya sebagai bahan taruhan.”

“Kau sangat lucu.”

– isfa_id –

Donghae melempar tasnya pada sisi tempat tidurnya dan segera menjatuhkan tubuhnya pada kasur lantainya. Ia bahkan tak berniat menuju kamar mandi meski untuk membersihkan wajahnya saja. Tubuhnya terlalu lelah untuk digerakkan, bahkan seakan bernafaspun akan membuang banyak tenaganya.

Wajar saja bila Donghae merasa seperti itu, terlihat jelas dari angka yang ada di jam dindingnya, jarum pendeknya mengarah pada angka dua di mana seharusnya ia tengah tertidur lelap saat ini, namun nyatanya dia bahkan baru bisa berbaring guna menghilangkan penat di tubuhnya. Andai saja ia tak harus mencari nafkah untuk hidupnya.

Ia pun bangkit membiarkan pundaknya bersandar pada dinding dingin kamarnya. Mata sendunya menatap lurus pada pintu ruangan sempitnya, ruangan yang telah menjadi tempat tinggalnya paling tidak selama empat tahun ini. Tangannyapun bergerak untuk melepaskan jaketnya dan kemudian langsung menarik selimutnya setelah ia kembali membaringkan tubuh lelahnya.

Perlahan butiran-butiran berwarna putih itu jatuh yang sepertinya baru saja akan menemani malamnya yang singkat. Sesekali ia dengar butiran salju itu menyentuh jendela kamarnya, seakan mengetuknya dan ingin masuk ke dalamnya, yang akhirnya membuat tubuhnya kembali bangkit dan menuju ke arah jendela tersebut dengan tubuhnya yang ia balut dengan selimut tebalnya agar angin malam tak menyentuh tubuhnya.

Ia buka jendela kacanya dan membiarkan beberapa butir salju menyentuh kulit wajahnya dan turut mencair di sana. Langit teramat sangat gelap ia pandangi, bersyukur lampu-lampu kotanya menyala terang membuat ia dapat melihat titik-titik cahaya. Ia terseyum kecil saat seraut wajah melintas di pikirannya, yang akhirnya membuat ia menarik kotak bekal yang sempat ia ambil saat memasuki ruangannya. Sebuah kartu terselip dari balik pita biru yang tertempel pada kotak bekalnya.

‘Jangan terlalu sibuk bekerja, pikirkan juga kesehatanmu.’

Ia pun membuka kotak bekal tersebut, terdapat beberapa potong sandwich di dalamnya. Ia sedikit terkikik karena ini bukanlah menu makan tengah malam yang sesuai. Namun ia tetap mengambil potongan tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya, karena tak mungkin bila ia jadikan sarapan untuk pagi yang sebentar lagi menjelang.

– isfa_id –

Donghae berlari kecil mengerjar sosok yang berada beberapa langkah di depannya. Ia menyentuh pundak itu pelan hingga membuat sang pemilik bagian tubuh tersebut berbalik menghadapnya. “Terima kasih.”

“Em?”

Donghaepun hanya tersenyum dan berjalan menjauh membiarkan sosok itu menampakkan wajah bingungnya yang tak terlihat olehnya.

“Im Yoon-ah ssi.”

Sosok itu, yang baru saja Donghae tinggalkan membalik tubuhnya saat seseorang menyapanya. Iapun menyuguhkan senyuman pada sosok yang menyapanya.

“Siwon Oppa.”

.
.

Donghae kembali menjatuhkan tubuhnya pada kursi yang telah menjadi miliknya. Matanya melirik kursi kosong di sebelahnya, sepertinya pemiliknya belum datang.

“Kau menungguku?”

“Cih,” Donghae mendengus saat Kibum bertanya seakan ia akan menjawab ‘Ya.’ meski sebenarnya memang itu yang terjadi. Dengan bergegas Donghae memalingkan pandangannya dan mengeluarkan buku catatannya karena sebentar lagi kelasnya akan dimulai, ia harus belajar dengan serius.

“Jangan menungguku malam ini, aku tak akan datang.”

“Terserah!” jawab Donghae tanpa memandang wajah Kibum yang memberikan pernyataan padanya. Lagi pula apa maksud Kibum memberi tahu Donghae hal semacam itu. Apakah Donghae meminta Kibum datang setiap malam ke kedai kopi tempat ia bekerja? Sementara Kibum di sebelahnya menampakkan senyum kecil melihat ekspresi wajahnya meski Donghae tak menyadari hal tersebut.

.
.

Langkah kaki Donghae perpacu cepat karena ia telah kehilangan beberapa menit untuk menuju tempat kerjanya, ia harus bergegas agar tak ketinggalan bus yang akan mengantarnya. Kelasnya berlangsung terlalu lama tadi. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melewati perpustakaan. Tampak di matanya dua sosok orang yang ia kenal tengah duduk bersama di sana. Ia memutar langkahnya, berniat menyapa sosok tersebut, namun akhirnya ia urungkan saat mengingat waktu yang semakin berkurang untuknya.

– isfa_id –

Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Donghae menunjukkan pukul dua belas malam. Ia melepaskan afron coklat gelap yang tengah ia gunakan dan menggantungkannya pada tempat yang berada di belakang tubuhnya. Iapun membungkukkan badannya pada rekan kerjanya yang akan menggantikannya. Kedai kopi dua puluh empat jam itu akan ia tinggalkan sekarang, untuk ia kunjungi sore hari di hari berikutnya.

Ia mendorong pintu kaca yang akan menghantarkan ia keluar dari ruangan tersebut. Ia tatap jalan malam yang lowong, berbeda seratus delapan puluh derajat bila di siang hari. Lalu lalang kendaraan akan menjadi pemandangan biasa yang ia tonton dengan suara kebisingan mesin juga klakson yang saling bersahutan. Asap dari knalpot kendaraan akan membuat udara tercemar, namun itu tak terjadi bila di malam hari, lebih tepatnya bila telah melewati tengah malam.

Iapun segera melanjutkan perjalanannya untuk menuju halte bus terdekat yang akan membawanya pada tempat tinggalnya yang telah menunggunya seharian, atau sebenarnya ia yang telah tak sabar untuk dapat segera pulang setelah kepenatan yang ia rasakan hari ini.

Hingga di sinilah Donghae berada setelah perjalanan lebih kurang lima belas menit. Ia duduk pada bangku kosong di halte bus tersebut dan memandang poster yang terpampang di sana, di mana wajah seorang model cantik terpajang di sana, dengan rambut panjang sedikit ikalnya. “Ia benar-benar cantik.” ujarnya.

Tak berselang lama kemudian ia berdiri saat bus yang akan ia naiki berhenti di hadapannya.

– isfa_id –

Hari ini, seperti biasa, Donghae kembali berkutat dengan kegiatannya. Ia kembali memasuki ruangan yang sama seperti hari-hari sebelumnya dan menempati tempat duduk miliknya seperti biasanya. Kembali pula ia tatap bangku kosong di sebelahnya, telah dua hari tempat itu tak terisi. Sosok itu tak hadir di kelas mereka.

Donghae menatap nanar handphonenya sesaat setelah ia membuka kontaknya dengan nama Kibum yang ia tunjuk. Jujur ia tak ada niat menyimpan nomor laki-laki itu bila saja Kibum tak mengetiknya sendiri saat itu. Namun setelah itu Donghae juga tak berniat untuk menghapusnya meski tak pernah terjadi kontak sekalipun antara mereka selain pembicaraan di kelas yang terkadang tak ingin Donghae lakukan.

Namun pergerakan jari Donghae terhenti saat ia merasakan ada seseorang yang mendekatinya. Ia mendongak, hingga didapatinya seorang wanita bersurai coklat kehitaman tengah berdiri di hadapannya dengan tangan kanannya yang terangkat menampakkan telapak tangan putihnya dan berucap ‘Hai.’ dengan senyum indah yang ia suguhkan.

Donghae menatapnya dalam diam, ia tahu wanita ini, ia pernah melihatnya satu kali, saat sang wanita memberikan sebuah bingkisan coklat pada seseorang yang seharusnya duduk di bangku kosong di sebelahnya.

“Donghae Oppa.”

“Ya? Kau mengenalku?” ucap Donghae tak percaya wanita tersebut menyebut namanya, padahal mereka sama sekali tak pernah saling sapa, bertemupun tidak, hanya saat itu saja ia melihat wanita tersebut. Dan terlebih, ia mendapatkan sapaan yang begitu manja.

Wanita tersebut hanya menyuguhkan senyuman sebagai jawaban dari rasa ketidakpercayaan seorang Lee Donghae. Dan untuk selanjutnya matanya tertuju pada bangku kosong di sebelah pria tersebut yang membuat senyum itu seketika hilang dari wajahnya. “Apa yang terjadi padanya?” tanyanya pada Donghae yang terlihat sedikit bingung akan arah pembicaraannya. “Kibum oppa.” lanjutnya membuat bibir Donghae seketika membentuk sebuah lingkaran sempurna.

“Entahlah.” Hanya itu jawaban yang Donghae berikan.

Wanita itu kembali tersenyum meski kadarnya berkurang daripada sebelumnya, “Baiklah.”

Donghae kembali menatap wajah wanita yang berada di depannya saat ini meski akhirnya pandangannya berpindah pada sesuatu yang berada dalam dekapan wanita tersebut. Dan sepertinya wanita itu menyadarinya.

“Oh… ini.” ucapnya terhenti seraya menatap sebuah bingkisan yang tengah ia bawa. “Aku belajar membuat kue, dan aku ingin memberikannya padanya, Kibum oppa.”

Kembali bibir Donghae menampakkan bentuk yang sama seperti sebelumnya, “Oh.” ujarnya singkat.

“Kau mau?”

“Tak perlu.”

“Kalau begitu aku harus kembali membawanya pulang.”

Donghae tatap lagi wajah wanita tersebut yang kembali menyuguhkan sebuah senyuman untuknya, meski kembali ia tak membalasnya dengan hal yang sama. “Emmm…”

“Krystal.” ujar wanita tersebut seakan mengerti bahwa Donghae ingin mengetahui namanya.

“Krystal ssi…”

“Krystal.”

“Ya, Krystal ssi…”

“Krystal!”

“Baiklah…” Donghae menghembuskan nafas pelan, “…Krystal.” ucapnya menanggalkan keformalannya seperti yang wanita tersebut inginkan. “Apa kau…”

“Ya?”

Kembali mata Donghae menatap wajah Krystal, meski kini lebih lekat daripada sebelumnya. Wajah itu terlihat tengah menantikan kelanjutan dari apa yang ia katakan, meski ia akhirnya menyudahinya. “Tak apa.”

“Baiklah.” Jawab Krystal meski sebenarnya ia sedikit penasaran dengan apa yang ingin Donghae katakan. “Sampai jumpa lagi!” lanjutnya dan bergegas meninggalkan ruang kelas Donghae sebelum ia harus berpura-pura menjadi bagian dari kelas tersebut.

– isfa_id –

Donghae menatap jam tangannya dan kemudian berpindah menatap pintu kaca di hadapannya. Biasanya saat ini pintu itu akan terbuka dikarenakan oleh pelanggan setianya yang akan menyesap kopi racikannya. Tapi kali ini tidak, dan itu telah terjadi selama satu minggu. Kibum tak menampakkan dirinya. Iapun menunduk dengan hembusan nafas dari bibirnya. Tangannyapun merogoh kantong afron coklatnya namun tiba-tiba ia terkejut membuat handphone yang baru ia keluarkan jatuh menyentuh ujung jari kakinya saat seseorang yang tiba-tiba berada di hadapannya.

“Mengapa kau tak menghubungiku?”

Donghae mendengus kesal mendengar ucapan laki-laki tersebut. Iapun segera berjongkok guna mengambil handphonenya yang telah berhasil membuat ibu jari kakinya berdenyut nyeri.

“Silahkan pesanannya.” ujar Donghae setelah ia kembali mengantongi handphonenya.

Laki-laki tersebut terkekeh mendengar ucapan Donghae yang ia tahu tengah menghindari percakapan dengannya. “Seperti biasa, dan juga… seperti biasa.” ucap laki-laki tersebut menyebutkan pesanannya dan juga menunjuk kursi yang akan ia tempati.

.
.

Donghae menaiki bus yang akan membawanya pada tujuan akhirnya hari ini. Ia melangkahkan kakinya dan memilih kursi belakang yang selalu ia tempati guna mempermudahnya saat ia akan menuruni busnya kelak. Iapun menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang membuat ia dapat melihat laki-laki yang tengah tersenyum padanya di luar sana. Hingga akhirnya sang supir bus menginjak pedal gas yang membawa busnya pergi, meninggalkan sosok tersebut di halte yang tak berpenghuni, membuat Donghae menolehkan kepalanya memperhatikan sosok tersebut yang telah membalik tubuhnya dan berjalan ke arah yang berbeda dengan yang tengah ia tuju.

.
.

Dan di sinilah kini Donghae berada, di depan pintu tempat tinggalnya. Ia tatap kotak kecil yang berada di hadapannya, di depan ujung jari kakinya. Ia tersenyum dan segera mengambil kotak tersebut dan memasuki ruangan sederhananya.

Tas hitam itu ia letakkan di atas meja belajarnya setelah ia menekan tombol untuk membuat ruangan tersebut mendapatkan cahaya penerangannya. Iapun segera menjatuhkan tubuhnya pada kasur lantainya yang tak sempat ia bereskan tadi pagi.

Ia tatap kotak kecil dalam genggamannya di mana pita berwarna biru itu menghisai ujung kanan atasnya. Telah cukup lama ia tak menerima hal tersebut.

Ia lepas pita biru tersebut dan menyimpannya pada laci kecil meja belajarnya di mana pita yang sama telah tersusun rapi di dalamnya.

‘Ku harap kau menyukainya.’

Donghae tersenyum saat membaca kartu yang ia temukan saat ia membuka kotak kecil tersebut. Dan untuk selanjutnya ia raih benda yang menjadi hadiahnya ‘pagi’ ini. Pulpen hitam itu ia genggam dengan jari-jari lelahnya. Bergegas ia ambil buku yang berada di meja belajarnya dan membuka lembarnya secara acak, tak mempedulikan di lembar berapa buku itu terbuka.

‘Lee Donghae’

Ia membiarkan tinta hitam itu mengukir namanya pada kertas putih tersebut.

Cukupkan pagi singkatnya dengan senyum bahagianya.

– isfa_id –

Donghae terpaku di depan mejanya saat mendapati kotak bekal yang berada di atasnya. Ia melirik seisi kelas yang hanya diisi oleh tiga makhluk hidup yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Wajahnya sedikit menggambarkan kebingungan dan juga rasa penasaran tentang siapa yang melakukannya.

Pita biru itu ia lepaskan dan ia simpan pada kantong depan tas hitamnya. Ia buka kartu yang tersimpan di atas kotak bekal tersebut.

‘Belum telat untuk sarapan, bukan?’

Ia buka kotak bekal tersebut, di mana potongan roti dengan selai strawberry berada di dalamnya. Ia raih juga kotak susu kecil yang menjadi teman sarapan yang ia terima. Di sana juga tertempel sebuah kertas kecil berwarna kuning yang terdapat emoticon smile, yang berhasil membuatnya tertawa.

“Hei.”

Meski tiba-tiba ia berteriak saat seseorang mengambil satu potongan rotinya.

Sosok itu yang adalah Kibum tak menggubris teriakkan Donghae dan langsung melesakkan roti itu ke dalam mulutnya yang untuk selanjutnya ia biarkan memenuhi usus kecilnya.

.
.

Donghae membiarkan dagunya bersandar pada sandaran kursi di kantin universitasnya. Ia tatap salju yang mulai mencair di luar sana, menandakan musim semi yang akan segera tiba. Namun ia segera membalik tubuhnya saat melihat seseorang yang melewati jalan tersebut dan menuju ke arahnya.

Ia tatap buku yang telah tergeletak di atas meja tempat kopi hitamnya berada, juga tas yang telah tersampir pada kursi di sebelahnya. “Hai.” ucapnya kaku.

Wanita itu tersenyum dan segera menjatuhkan tubuhnya pada bangku kosong di sebelah Donghae di mana tasnya telah lebih dulu menempatinya. “Boleh?” tanyanya berbasa basi, karena nyatanya ia telah menduduki kursi tersebut.

Donghae hanya mengangguk, segera menyesap kopi hitamnya, membuat lidahnya sedikit terbakar karena panas yang ia terima meski ia menyembunyikan rasa terkejutnya akan hal tersebut.

“Kau tak ada kelas?”

Donghae menggeleng, “Kau sendiri?”

“Ada, lima belas menit lagi.”

Hening itu tercipta dengan hamparan salju yang perlahan-lahan memastikan dirinya mencair, melebur, membiarkan tanah meresapinya.

Donghae hanya menatap sosok wanita tersebut dari sudut matanya, sementara sosok itu hanya diam menatap lurus ke depan pada pohon pinus kecil yang mulai menjatuhkan tumpukan salju yang bertenger pada daun-daunnya yang mulai tampak menghijau.

“Oppa…”

Donghae menoleh, dengan sedikit berjingkit karena terkejut akan panggilan yang ia terima setelah hening yang menyelubungi. “Hmm?”

Sosok itu menatap lekat wajahnya, menghitung setiap kedipan mata yang Donghae lakukan, juga memastikan hembusan nafas itu dapat didengar oleh telinganya. Iapun tersenyum mendapati lawan bicaranya tersebut terdiam menunggu bibirnya berucap. “Tak apa,” ucapnya kemudian dan segera berdiri dengan tas dan juga buku yang telah berada kembali di tangannya. “Kelasku sebentar lagi dimulai, sampai jumpa.”

Ia berlari kecil dengan Donghae yang juga ikut berdiri menyaksikan kepergiannya.

“Hei.”

Meski tiba-tiba seseorang mengagetkan Donghae.

“Mengapa begitu lama tuan Choi?” ucap Donghae saat mendapati Siwon berada di sampingnya.

“Apa kalian sudah berkencan?”

“Ya?”

“Kau… dan Yoona.” Siwon berucap seraya menatap raga Yoona yang semakin menjauh dari mereka.

Donghae tak menggubris pertanyaan Siwon dan segera mengambil tasnya “Ayo!” yang mau tak mau membuat Siwon segera mengikuti langkahnya.

– isfa_id –

“Kau tak lelah?”

Donghae menatap Siwon yang berdiri di sebelahnya yang tengah sibuk memilih buku yang ia butuhkan untuk tugas kuliahnya, seperti apa yang juga tengah Donghae lakukan.

“Hmm?” pungkas Siwon karena tak mendapatkan jawaban dari temannya tersebut.

Donghae hanya mengangkat kedua pundaknya dengan jari-jarinya yang terus meratapi buku-buku yang berjejer rapi pada rak kayu bercat putih tersebut.

Siwon hanya menggeleng kecil mendapat jawaban yang teramat sangat tak memuaskan tersebut. Ia tak habis pikir dengan apa yang tengah Donghae lakukan dengan perasaannya. Ia telah memperhatikan itu sejak semester awal perkuliahan dimulai, mata Donghae tak pernah luput dari seorang Im Yoon-ah. Namun kini itu telah berjalan selama dua tahun dan tak ada perkembangan yang terjadi antara keduanya.

“Ayo!” Donghae memukul pelan pundak Siwon dengan buku yang telah ia putuskan untuk menjadi miliknya dan segera berjalan meninggalkan Siwon yang bergegas mengambil buku yang juga telah menjadi pilihannya.

.
.

Donghae bergegas menaiki busnya, meninggalkan Siwon yang masih harus menunggu bus lainnya dikarenakan tujuan mereka yang berbeda. “Sampai jumpa di kampus.”

Siwon hanya tersenyum membalas ucapan Donghae dan kemudian menjatuhkan tubuhnya pada bangku yang sepertinya memang disisakan untuknya.

Sementara itu Donghae perlahan menggenggam pegangan tali yang menggantung di atas kepalanya dikarenakan ia yang tak mendapatkan kursi. Ia melirik Siwon sekilas saat bus tersebut mulai melaju membuat ia tersenyum karena sosok tersebut tengah sibuk membuka lembaran dari buku yang baru saja ia beli.

– isfa_id –

Entah untuk yang keberapa kalinya Donghae harus berdiri sedikit lebih lama di depan pintu kediamannya setiap kali ia mengakhiri rutinitas di setiap harinya. Karena kali inipun ia melakukan hal yang sama lagi seperti hari-hari sebelumnya.

Buku itu terletak rapi di depan pintu ruangan yang akan Donghae masuki. Dan seperti biasa, Donghae menemukan sebuah pita biru yang bertengger indah di sudut atasnya. Ia raih buku dengan cover berwarna orange pastel tersebut dan mendekapnya dengan sebelah tangannya.

‘Bruk.’

Tas itu segera ia letakkan di samping meja belajarnya setelah tubuhnya memasuki tempat tinggalnya, dengan kedua kakinya yang melepaskan sepatunya asal di depan pintu. Iapun segera menjatuhnya tubuhnya pada lantai kayu coklat kamarnya dan menyandarkan pundaknya pada kasur lantai yang menggulung rapi di sudut ruangan tersebut. Perlahan ia raih kartu kecil yang menyelip di bawah pita biru yang telah ia lepaskan dan simpan di samping tubuhnya.

‘Ku harap kau bisa menulis namaku di tiap lembarnya.’

Donghae mengangkat sebelah alisnya saat membaca kalimat tersebut. Ia angkat buku tersebut dan meniliknya dengan seksama, tak ada apapun pada sampul buku tersebut, polos, hanya sebuah ukiran nama dengan tinta berwarna gold di sudut kanan bawah buku tersebut.

‘Lee Donghae’

Donghaepun membuka lembar-lembar buku tersebut, hanya kertas kosong yang tampak, tanpa ada coretan tinta sedikitpun. Iapun merogoh tasnya dan mengeluarkan pulpen yang menjadi miliknya di hari sebelumnya. Ia perhatikan pulpen tersebut dengan seksama sebelum membuka tutupnya. Dan untuk selanjutnya ia letakkan buku tersebut di atas meja belajarnya setelah ia merubah posisi tubuhnya.

Ia membuka buku itu pada lembaran acak, entah yang ke berapa. Ia usap perlahan seraya menatap pita biru yang berada di tangan kirinya. Ia pejamkan matanya, membayangkan wajah seseorang yang tengah ia pikirkan saat ini. Hingga bibirnya menggambarkan sebuah senyuman saat sosok itu hadir. Iapun membuka matanya dengan ujung pulpen yang telah berada di atas kertas putih itu.

“Im Yoon-ah.”

Donghae mendesah pelan dengan jemarinya yang tergerak menuliskan sebuah nama pada lembar buku tersebut.

Senyuman itupun terus menemaninya meski untuk detik berikutnya wajah suram itu nampak saat ia menyadari apa yang tertulis di sana.

“Aish~”

Ia mengacak rambutnya juga menggerakkan tangannya tak tentu arah, menampakkan goresan tak bercorak pada kertas tersebut, hingga apa yang ia tulis sebelumnya tertutupi oleh garis-garis kasar hasil ciptaannya. Dan untuk selanjutnya ia segera menutup buku tersebut dan juga membaringkan tubuhnya dengan wajah yang menghadap pada langit-langit kamarnya dan juga dengan mulut yang terbuka seraya menghembuskan nafas kasar.

– isfa_id –

Donghae bergegas meninggalkan perpustakaan kampusnya saat menyadari jam kerjanya akan dimulai satu jam lagi, dan itu berarti dia tak mempunyai waktu yang banyak mengingat jarak antara kampus dan kedai kopinya.

Sementara itu, sosok yang sedari tadi bersembunyi di balik rak buku yang berada dekat dengan meja di mana Donghae tengah berusaha menyelesaikan tugas kuliahnya itu menampakkan dirinya, menatap punggung Donghae yang telah menghilang di balik pintu perpustakaan tersebut. Ia berjalan, mendekati meja yang baru saja ditinggalkan oleh pemiliknya. Ditatapnya buku dengan cover berwarna orange pastel yang terletak di atas meja tersebut, di mana sepertinya Donghae tak sengaja meninggalkannya.

‘Lee Donghae’

Nama itu tertangkap oleh iris hitam yang tengah membiarkan buku itu berada dalam genggamannya.

Ia buka buku tersebut, membuat lembar-lembar kosong itu juga nampak di matanya. Hingga akhirnya pergerakkan tangannya terhenti pada lembar di mana guratan tangan Donghae berada. Garis tak beraturan itu menutupi sesuatu yang telah tertulis sebelumnya, membuat sosok itu segera menutup buku tersebut kasar dan segera berlalu dari ruangan yang selalu diselimuti oleh keheningan itu.

– isfa_id –

Donghae mengacak rambutnya hingga membuat surai itu tampak kusut tak beraturan. Ia buka laci meja belajarnya, namun tak menemukan benda yang tengah ia cari. Ia menghilangkannya. Hadiahnya.

Telah dua hari ini ia tak melihat buku miliknya, tempat terakhir yang ia ingat adalah perpustakaan. Tapi tuan Shin, petugas di perpustakaan tersebut mengatakan tak melihatnya. Namun ia tak bisa mengingat tempat lain selain tempat tersebut. Di kedai kopinya ia sama sekali tak menyentuh benda tersebut, bahkan tak ada satu bendapun yang ia biarkan keluar dari tas ranselnya. Tapi nyatanya ia telah kehilangan bukunya. Salah satu benda berharga miliknya.

.
.

Hingga akhirnya di sinilah Donghae berada, di dalam kelasnya yang masih sepi dikarenakan teman-teman satu kelasnya yang masih sibuk di luar sana denan kegiatan masing-masing, toh masih tiga puluh menit lagi kelas dimulai.

Ia hanya bisa menyandarkan kepalanya lesu di atas mejanya dengan tarikan nafas malas yang ia lakukan. Ia merasa melakukan sebuah dosa yang besar hari ini.

‘Bruk.’

Hingga akhirnya ia mengangkat tubuhnya saat seseorang melemparkan sesuatu di hadapannya.

“Oh.”

Donghae menatap benda tersebut. Buku dengan cover berwarna orange pastelnya. Ia menemukannya. Tepatnya seseorang mengembalikannya padanya.

Ia tatap sosok yang tengah terduduk diam di sebelahnya, “Terima kasih,” ucapnya pelan seraya terus menatap buku miliknya yang tak bersamanya selama dua hari ini. “Bagaimana kau tahu kalau ini milikku?” awalnya Donghae ingin menanyakan hal tersebut meski akhirnya ia batalkan saat sadar bahwa hal itu adalah pertanyaan yang bodoh. Semua orang akan tahu itu miliknya bila membaca nama yang terukir di sudut kanan bawah benda tersebut. Ya, meski nyatanya bukan hanya ia pemilik nama Lee Donghae di kampus ini. Tapi itu tak penting, bukan?

“Kibum Oppa.”

Donghae dan juga Kibum yang sedari tadi diam di sampingnya mengangkat kepala mereka bersamaan saat seseorang menyapa Kibum.

Wanita itu telah berdiri di hadapan Kibum dengan kotak bekal berwarna cream yang berada di kedua tangannya. Ia segera mengulurkan tangannya, memberikan benda tersebut kepada Kibum yang hanya menatapnya dalam diam. “Untukmu.”

“Tak usah.”

“Tapi aku benar-benar berusaha membuatnya pagi ini, khusus untukmu.”

“Aku tak butuh.”

“Tapi ini nasi goreng kimchi kesukaanmu.”

“Bukankah sudah ku bilang tak usah, aku tak membutuhkannya, kau makan saja sendiri.”

Wanita itu tiba-tiba terdiam, dengan senyum yang seketika hilang dari wajahnya. Ia menunduk beberapa saat meski akhirnya ia mengangkat kembali kepalanya dan bergegas membalik tubuhnya dan meninggalkan ruangan tersebut di mana Kibum melempar kasar buku yang baru saja ia keluarkan dari tasnya ke atas mejanya yang membuat Donghae segera memukul pundaknya.

“Kau keterlaluan.”

Donghae bangkit dari duduknya dan segera berlari menyusul sosok yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.

“Krystal ssi.”

Donghae memanggil sosok tersebut yang sama sekali tak menghentikan langkahnya.

“Krystal.”

Sosok itu terdiam, membuat Donghae turut menghentikan langkahnya.

Krystal membalik tubuhnya hingga membuat Donghae dapat menatap wajahnya, di mana mata itu tengah berusaha menahan genangan yang seakan ingin melesak keluar dari salah satu indranya tersebut. Namun ia tetap tersenyum berusaha dengan keras agar genangan itu tak mengalir.

“Biar aku yang memberikannya padanya.”

Donghae mengulurkan tangannya untuk menerima bingkisan yang masih berada di kedua tangan Krystal. Namun Krystal menolaknya, ia menggelengkan kepalanya.

“Aku akan menghabiskannya, seperti apa yang Kibum oppa minta.” Krystal berucap pelan dan segera membalik kembali tubuhnya, meninggalkan Donghae yang menatap punggungnya yang terbalut blazer putih kesukaannya.

Tubuh Donghaepun turut berputar dan kembali memasuki kelasnya. Ia berjalan kembali menuju mejanya di mana Kibum yang telah menghilang dari tempatnya. Donghaepun hanya bisa menghempaskan tubuhnya pada kursi yang telah menjadi miliknya tersebut dan kembali menyandarkan kepalanya seperti sebelum Kibum memasuki ruangan tersebut, dan akhirnya hal tersebut membuat ia sadar bahwa ada sesuatu yang tertinggal di atas sana.

Buku dengan cover berwarna hitam itu membuat tangan Donghae tergerak untuk mengambilnya. Ia tatap benda tersebut, di mana nama Kibum tertera di sudut kanan bawah buku tersebut.

“Kim Kibum”

Donghae membacanya dengan telunjuknya yang meraba tulisan tersebut. Namun kemudian matanya menyipit saat menyadari sesuatu. Ia segera mengeluarkan bukunya yang baru saja Kibum kembalikan padanya sebelumnya. Ia biarkan kedua buku itu berjajar di atas mejanya, mereka memiliki ukuran yang sama. Ia tatap kedua nama yang tertera di masing-masing coverya, tulisan itu memiliki warna tinta yang sama, hanya saja bentuk tulisannya yang berbeda.

Milik Donghae tertulis dengan huruf hangul yang sepertinya diukir dengan begitu rapi sementara milik Kibum tertulis dengan huruf romawi yang terkesan tegas. Namun iapun akhirnya mengangkat pundaknya. Lagi pula buku seperti ini banyak dijual di toko buku yang sering ia singgahi.

.
.

Krystal, wanita itu kini tengah berada di kantin universitasnya, mata merahnya menandakan bahwa ia baru saja menyelesaikan tangisannya. Tempat itu sepi, di mana hanya ada dia dan dua pasang mata yang berada di meja lain yang berjarak lima meja darinya.

‘Pluk.’

Ia tatap benda yang baru saja ia letakkan di atas mejanya. Kotak bekal berwarna cream itu ia buka perlahan, di mana sarapan yang ia siapkan khusus untuk seseorang yang baru saja menolaknya itu tertangkap oleh retinanya. Dengan pelan jemarinyapun mengambil sendok yang berada di sebelah kanan kotak bekalnya. Namun akhirnya pergerakkan tangannya terhenti saat tiba-tiba seseorang menutup kotak bekalnya.

Sosok itu segera mengambil benda tersebut, memasukkannya pada kantong kertas yang terletak di sebelah tubuh Krystal. “Berhentilah melakukan hal ini untukku.” Ia berujar dan untuk selanjutnya segera meningalkan Krystal yang kembali meneteskan air matanya meski dengan sebuah senyum yang terukir di wajahnya.

– isfa_id –

Donghae memacu langkahnya semakin cepat dikarenakan waktu yang tak bersahabat dengannya kali ini. Jangan salahkan matanya yang tak mau terbuka seperti biasa pagi ini ataupun tubuhnya yang terasa begitu lelah.

Sepuluh menit telah berlalu di mana kelas itu telah dimulai menandakan Donghae yang benar-benar telah telat di kelas pertamanya hari ini. Dan itu membuat Donghae berlari lebih kencang dari sebelumnya. Namun tiba-tiba ia melangkah mundur saat melewati fakultas teknik. Ia menatap seseorang yang ia kenal yang berdiri di balik tembok coklat tersebut, meski akhirnya kakinya kembali menciptakan pergerakkan mundur saat ia tahu bahwa itu bukan hanya seseorang, tapi dua orang yang ia kenal.

Kedua sosok itu tengah bercumbu ditemani oleh desiran angin yang seakan menusuk jantung seorang Lee Donghae. Kaki itu terasa lemas dan semakin membawa tubuhnya terdorong ke belakang meski ia sebenarnya tak ingin.

“Donghae Oppa.”

Donghae kembali berlari, segera meninggalkan tempat tersebut meski seluruh tubuhnya terasa kaku saat salah seorang dari dua sosok tersebut menyebut namanya.

.
.

Kibum hanya terdiam di kursinya, menatap kursi kosong di sebelah kanannya. Tak pernah sekalipun kursi itu tak berpenghuni, ke mana perginya sang pemilik tempat tersebut?

Ia merogoh kantong jeans hitam yang tengah ia kenakan, ia tatap nanar layar hitam tersebut, tak mempedulikan dosen yang tengah menjelaskan sesuatu di depan kelasnya. Tak ada apapun yang dapat ia lakukan selain menatap nanar layar tersebut, karena memang tak pernah ada yang bisa ia lakukan. Ia bahkan tak bisa menghubunginya, karena ia yang tak memiliki kontaknya.

“Hubungi aku, agar aku bisa menyimpan nomormu.”

Kibum pernah berujar seperti itu pada Donghae saat ia selesai mengetik dan menyimpan nomornya pada handphone Donghae, namun tak sekalipun Donghae menghubunginya hingga membuat iapun tak bisa menghubungi Donghae, seperti saat ini.

– isfa_id –

Donghae hanya terbaring lesu di kasur lantainya, menatap buku yang bukan miliknya di atas meja belajarnya.

Selama satu minggu ini ia tak menginjakkan kaki di universitasnya, bahkan ia tak masuk kerja dengan alasan sakit pada managernya. Bahkan untuk bangkit dari tidurnya saja teramat sangat melelahkan baginya.

“Kau bilang kau mencintaiku, Oppa? Tapi nyatanya aku tak pernah mengetahui hal tersebut. Kau biarkan aku menunggu, dan ini sudah terlalu lama. Aku lelah.”

Donghae mengingat jelas kalimat yang dilontarkan Yoona padanya saat mereka tak sengaja bertemu, karena sejatinya Donghae selalu mencoba menghindari pertemuan tersebut. Bahkan iapun tak membukakan pintu rumahnya saat Siwon beberapa kali datang untuk ‘menjenguknya’.

“Aku mencintai Siwon oppa.”

Air mata itu mengalir saat ucapan terakhir Yoona kembali terngiang di telinganya.

.
.

Mata itu berkedip lemah dengan kepala yang mendongak pelan menatap langit malam dari jendela kamarnya. Ia usap air mata yang mulai mengering di sudut matanya dan segera mengeluarkan tubuhnya dari selimut tebalnya. Tangan kirinya menekan perutnya yang terasa perih. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya pada lemari makanannya. Tak ada apapun yang tersisa hingga membuat ia segera meraih jaket hitam tebalnya dan memasukkan dompet berwarna senada ke dalam sakunya.

Ia tak boleh bersedih selamanya, bukan? Lagipula ini sudah lebih dari seminggu, dan ia tak ingin menyiksa tubuhnya lebih lama lagi.

‘Klik.’

Ia mengunci pintu kediamannya, menuruni anak tangga yang akhirnya mengantarnya pada mini market yang terletak tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.

.
.

Donghae membuka tutup ramyeon yang ia letakkan di atas meja belajarnya setelah merapikan kamarnya yang ia biarkan tak terusus sebelumnya. Ia gerakkan garpunya guna menyatukan bumbunya sebelum siap untuk menyantapnya. Ia biarkan angin malam itu menyentuh kulit tubuhnya  dengan cara membuka jendela kamarnya hingga membuat iapun tak perlu repot meniup ramyeon panasnya.

Ia teguk habis semuanya, beserta kuah pedasnya hingga berhasil membuat perih perutnya sedikit menghilang. Mangkok kosong itupun kini kembali ke atas meja belajarnya dengan ia yang menatap langit tengah malam yang sedikit cerah, menampakkan awan yang bergeser perlahan di tiup angin. Bulan sabit itupun sesekali mengintip membuat bibirnyapun membentuk hal serupa. Ia tersenyum. Tipis.

Matanyapun kini melirik pada buku di atas meja belajarnya. Apa pemiliknya tak membutuhkannya? Karena benda tersebut sudah cukup lama bersamanya. Sepertinya ia harus mengembalikannya secepatnya.

Tubuhnyapun bergeser, memposisikan dirinya di hadapan meja belajarnya. Ia tatap buku bercover hitam tersebut di mana nama pemiliknya tertera di sana. Telunjuknya kembali menyentuh huruf-huruf tersebut seperti saat pertama ia ‘menemukan’ buku tersebut.

“Kim Kibum”

Donghae membaca nama itu pelan dan perlahan membukanya.

Ia tersenyum saat menatap tulisan Kibum di tiap lembarnya. Tulisan yang sedikit berantakkan untuk sebuah catatan kuliah. “Seperti ini caranya belajar.” Donghae berujar seraya terus memperhatikan catatan tersebut, di mana terdapat banyak anak panah di tiap kata yang tertulis, berbeda dengan miliknya yang sungguh ia tulis dengan rapi di buku catatannya.

Terus ia perhatikan tulisan-tulisan tersebut, membuka tiap lembarnya. “Tunggu.” ujarnya seperti menyadari sesuatu.

Donghaepun segera membuka laci meja belajarnya, mengambil sebuah kartu yang tersimpan di sana, ia buka dan ia letakkan di atas buku milik Kibum. Dengan seksama ia perhatikan tulisan yang terdapat di dua benda tersebut, bergantian, perlahan, dengan jari-jarinya yang juga ikut bergerak menunjuk satu per satu huruf yang tertulis.

Iapun segera merogoh kantong tas ranselnya dan mengeluarkan pulpen hitam yang selalu ia bawa saat kuliah. Dengan cepat ia ambil salah satu buku yang tersusun rapi di hadapannya. Ia tak peduli buku apa yang ia ambil yang penting ia dapat menuliskan sesuatu di atasnya. Ia buka lembar buku tersebut secara acak dan segera menuliskan sesuatu di atasnya. Lee Donghae, ya… hanya namanya yang ia tulis.

Ia letakkan buku itu berjajar dengan milik Kibum dan juga kartu yang masih berada di atasnya. Sama… ya, ini jenis tinta yang sama.

– isfa_id –

Donghae menatap nanar kursi kosong di sebelahnya. Kelasnya telah berakhir, dan sang pemilik tempat tersebut sama sekali tak menampakkan dirinya. Padahal ada banyak hal yang ingin ia pertanyakan.

Iapun mengeluarkan handphonenya setelah menyimpan kembali buku-bukunya ke dalam tas ranselnya. Ia buka list kontaknya yang menampakkan nama Kibum di sana. Apa ia harus menghubunginya? Tapi mau tak mau ia harus melakukan itu bila ia ingin mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanya. Namun pergerakkan tangannya terhenti saat ia mendapati seseorang yang tengah berdiri di depan kelasnya.

Bergegas ia jinjing tasnya dan bergegas keluar dari sana tanpa mempedulikan sosok tersebut yang tengah memanggil namanya, bahkan iapun tak peduli dengan sosok wanita yang tengah berjalan di hadapannya. Ia segera pergi. Menghindar. Dengan ia yang kembali berusaha menghubungi seseorang dari handphonenya.

Donghaepun mendengus saat ia tak berhasil menghubungi Kibum dengan matanya yang menatap buku hitam yang berada dalam genggaman tangan kirinya. Ia mencoba mengingat siapa yang bisa ia tanya mengenai Kibum, tapi tak ada seorangpun yang terlintas. Kibum bahkan tak dekat dengan seorangpun di kelas mereka, jadi percuma.

Ia mengingat dua orang yang sering datang ke kedai kopinya dan bercakap dengan Kibum di sana, tapi ia tak kenal mereka, ia hanya tahu Kibum pernah memanggil salah satu dari mereka ‘Kyu’ , hanya itu. Dan merekapun tak akan datang bila Kibum tak ke sana.

“Krystal.”

Tiba-tiba nama itu terlintas di benak Donghae yang membuat ia segera berlari guna menemui Krystal meski ia tak yakin Krystal tahu di mana Kibum berada, karena nyatanya Donghae tahu bahwa Kibum telah lama tak mengikuti kelas, sama sepertinya.

Namun akhirnya itu membuat Donghae menghembuskan nafas pasrah karena tak menemukan Krystal di kelasnya. Ruangan itu kosong, karena sepertinya kelasnyapun telah berakhir, hingga akhirnya membuat Donghae melangkah menjauh dengan lesu.

.
.

Donghae berjalan perlahan, menunggu gilirannya untuk menaiki busnya.

“Donghae Oppa.”

Tubuh itu berbalik, saat suara itu menyentuh gendang telinganya. Ia tatap sosok wanita yang tengah berlari ke arahnya hingga mau tak mau membuat ia sedikit berbelok arah dan membiarkan orang di belakangnya memasuki busnya terlebih dulu.

Sosok itu tersenyum, mengangkat tangannya hingga menampakkan telapak tangan putihnya pada Donghae dan berujar “Hai.” padanya.

“Aku menunggumu, aku tak tahu kau kuliah hari ini, Oppa, maaf.”

Donghae menatap sosok itu bingung. Mengapa harus menunggunya?

Wanita itu kembali tersenyum, iapun merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Amplop putih itu memenuhi retina Donghae, namun satu hal yang teramat sangat menarik perhatiannya. Pita biru itu tersampir di pojok kanan atas amplop tersebut.

“Kau…”

“Dia memintaku memberikan ini padamu.”

– isfa_id –

Donghae berjalan lesu meninggalkan fakultas seni setelah ia tak menemukan sosok yang ia cari. Ia keluar, pindah, namun tak ada yang tahu ke mana ia pergi. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam Krystal telah menghilang, dan itu membuat Donghae tak tahu meski melakukan hal apa lagi kali ini.

Hingga akhirnya Donghaepun kembali ke kediamannya bahkan memutuskan untuk tak masuk kerja hari ini. Ia terlalu tak bersemangat.

Ia segera mengubur tubuhnya pada selimut tebalnya setelah memasuki ruangan tersebut, tak ada apapun yang bisa ia lakukan saat ini, selain memejamkan matanya agar ia bisa melewati hari ini dengan lebih cepat.

.
.

Hai…

Lee Donghae…

Kau membaca suratku? Berarti aku telah pergi.

Maaf karena tak berbuat banyak untukmu selama ini.

Kau tahu? Sempat terbersit bahagia di hatiku saat kau menuliskan namaku di buku yang ku hadiahkan untukmu. Namun itu hanya sesaat setelah aku mendapati coretan yang kau berikan. Kau ingin menghapusnya. Jadi aku putuskan untuk mengakhirinya. Terlebih karena hal itu membuatku sangat marah hingga menyakiti perasaan Krystal, adikku, saat aku tak sengaja membentaknya di hadapanmu.

Maaf, karena telah mencintaimu seperti ini.

Kim Kibum.

.
.

Donghae menarik nafas dalam dengan matanya yang terus terpejam. Betapa bodohnya ia selama ini yang selalu mengira bahwa Yoonalah yang selalu memberikan ia ‘hadiah-hadiah kecil’ itu, hingga membuat ia akhirnya harus merelakan wanita yang ia cintai itu menjadi milik teman dekatnya, dikarenakan ia yang sudah terlalu yakin bahwa Yoona akan menjadi miliknya. Namun akhirnya ia harus kehilangan wanita tersebut, dan juga, kehilangan sosoknya.

– isfa_id –

7 tahun kemudian

Donghae melambaikan tangannya pada sosok tinggi yang tengah mendekatinya. “Mengapa begitu lama tuan Choi?” ucapnya setelah sosok tersebut berada tepat di hadapannya.

Siwon hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah senyuman khasnya yang selalu berhasil membuat Donghae lupa akan rasa kesalnya setelah menunggu teman baiknya tersebut meski untuk waktu yang teramat sangat lama. Ya, persahabatan mereka berhasil mengalahkan segalanya.

“Jadi, kapan kau akan menikah?”

Donghae tersenyum saat Siwon melontarkan pertanyaan tersebut saat mereka tengah melangkahkan kaki menuju halte bus yang akan mengantarkan mereka pulang setelah rutinitas harian mereka.

Dan Siwonpun akhirnya hanya bisa mengangkat kedua pundaknya saat Donghae tak memberikan jawaban apapun atas pertanyaannya.

Hingga di sinilah mereka akhirnya berada, berdiri berdampingan dengan orang-orang yang melakukan hal yang sama, yang juga menampakkan wajah penat setelah bekerja seharian.

Seorang pria paruh baya yang berdiri dengan bersandar pada dinding halte itu menjadi perhatian Donghae, terlebih saat pria tersebut berujar, “Ayah akan segera pulang, sayang.” dari handphone yang menempel di telinganya. Perlahan pria tersebut berpindah posisi terlebih saat beberapa orang telah menaiki bus mereka. Iapun mengistirahatkan tubuh lelahnya pada bangku kosong yang tersedia. Hingga berhasil membuat Donghae terpaku di tempatnya berdiri.

Siwon yang menyadari hal tersebut mengikuti arah pandangan Donghae, di mana poster yang tertempel di dinding kaca halte tersebut memenuhi retinanya. “Ia cantik, bukan?” Siwon berujar seraya mendekati poster tersebut. “Kau tahu, ia junior di universitas kita.”

Donghae hanya terdiam, memperhatikan poster itu dengan seksama.

“Hei! Kau mau ke mana?”

Dan untuk detik berikutnya Siwon seketika berteriak saat Donghae segera berlari memasuki sebuah taxi.

“SM Building.”

Donghae mengatakan tujuannya pada supir taxi tersebut. Ia yakin bisa menemukannya di sana, seperti apa yang tertulis pada poster yang baru saja ia lihat.

.
.

Donghae berjalan lesu menuruni lima anak tangga di depan gedung yang baru saja ia singgahi. Ia tak bisa bertemu dengannya. Harus membuat janji terlebih dahulu? Ia bahkan tak pernah tahu ia berada di sini. Ia terus melangkahkan kakinya semakin jauh dari gedung tersebut, hingga akhirnya sebuah suara membuat ia berhenti.

“Donghae Oppa?”

Donghae berbalik, hingga wanita cantik tersebut tertangkap oleh indra penglihatannya. Sosok itu tengah mengenakan rok mini bermotif kotak dengan kemeja putih berlengan panjang yang ia gulung hingga menampakkan kulit putih tangannya. Rambut coklat panjang itu tergerai membuat mata seorang Lee Donghae tak mampu berkedip.

“Ternyata benar.”

Wanita tersebut berjalan semakin dekat ke arah Donghae membuat Donghae akhirnya mengedipkan matanya.

“Kau ingin menemuiku?”

“Oh.” Donghae bingung harus berucap apa, setelah sekian lama.

“Itu?”

Donghae memperhatikan arah yang wanita itu tunjuk, di mana kamera DSLR yang menggantung di lehernya tersebut menjadi tujuan jari tersebut. “Penyelamat hidupku.”

Wanita tersebut tertawa mendengar jawaban yang Donghae berikan.

Donghaepun merogoh tas ransel yang tengah ia bawa saat keheningan itu tercipta setelah suara tawa yang ia dengar. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tersebut dan memberikannya pada sosok di hadapannya. “Aku hanya ingin mengembalikan ini.”

Sosok itu menerima benda yang Donghae berikan padanya. Ia perhatikan buku dengan cover berwarna hitam di tangannya itu di mana nama seseorang terukir di pojok kanan bawahnya, yang akhirnya membuat ia mengembalikan buku tersebut. “Sebaiknya kau kembalikan saja langsung padanya.”

Buku itu kembali ke tangan Donghae dengan wanita tersebut yang mengucapkan perpisahan padanya. “Krystal ssi.” Hingga akhirnya membuat Donghae memanggil sosok yang perlahan telah menjauh darinya.

“Krystal.”

“Maaf.” ujar Donghae saat Krystal mengoreksinya. “Krystal,” lanjutnya yang membuahkan senyum di wajah cantik tersebut. “Dia…”

– isfa_id –

Laki-laki itu tengah berjalan menyusuri jalan malam kota Seoul yang diterangi oleh lampu-lampu yang berwarna-warni. Ia biarkan sepatunya mencium wangi aspal di bawahnya sementara ia menghirup udara malam yang terasa lebih bersih dibanding siang hari yang dipenuhi oleh lalu lalang kendaraan. Jaket tebal berwarna navy itu menjadi pelindungnya dari angin malam yang terasa semakin dingin di akhir musim gugur dari negara yang sudah lama tak ia kunjungi. Namun langkahnya perlahan berhenti saat mendapati seseorang yang tengah berdiri di hadapannya.

Mereka saling diam dalam tatapan yang terjadi. Laki-laki itu hanya berdiri tegap dengan kedua tangannya yang ia letakkan dalam saku jaket tebalnya. Sementara sosok itupun hanya terdiam menatapnya dengan sesuatu yang ia genggam erat di tangan kanannya.

Perlahan sosok itu semakin berjalan mendekat, mengulurkan tangannya, memberikan benda yang telah ia pegang sedari tadi pada laki-laki yang berada di hadapannya.

Dan juga dengan perlahan laki-laki tersebut menerima benda tersebut. Ia tatap buku dengan cover berwarna orange pastel tersebut dan kemudian ia beralih menatap sosok di hadapannya. Sosok itu diam, bergeming tanpa suara. Hingga akhirnya membuat ia membuka buku tersebut di mana lembar kosong itu tampak di retinanya, ia tak mengerti, sungguh sungguh tak mengerti, meski jari-jarinya terus membuka tiap lembarnya hingga pergerakkan itu terhenti tepat di lembar di mana sesuatu tertulis di atasnya dengan goresan-goresan yang menutupi ‘kalimat’ tersebut.

Laki-laki itu terdiam, ia hanya bisa menunduk lesu.

“Aku telah menuliskan namamu, meski aku tak menyadari itu.” Sosok itu berujar membuat laki-laki tersebut mengangkat kembali wajahnya.

“Maaf, karena telah mencintaimu seperti ini.”

Sosok itu membalik tubuhnya saat tak mendapatkan respon apapun dari laki-laki di hadapannya. Ia menghembuskan nafas pasrah dan perlahan berjalan menjauh, hingga laki-laki itu mengeluarkan suaranya.

“Mengapa harus begitu lama?”

Laki-laki itu melangkah mendekati sosok yang membelakanginya. Ia sentuh pundak itu dengan kedua tangannya. Perlahan ia putar tubuh tersebut dan mengembalikan buku yang berada di tangannya kepada pemiliknya.

Sosok itu terdiam, menatap buku yang berada di tangannya. Apa ia telah begitu terlambat? Dan ia akan kehilangan sosok yang ia cintai, lagi?

“Lee Donghae.”

Laki-laki itu menyebut namanya hingga membuat sosok tersebut mengangkat wajahnya, “Apa tak mengapa bagimu bila seperti ini?”

Donghae menyadari arah pertanyaan laki-laki tersebut, karena sesungguhnya iapun mempertanyakan hal tersebut. Apa tidak apa-apa bila ia seperti ini? Apa tidak apa-apa bila ia mencintai sosok yang serupa dengannya? Karena nyatanya itulah yang membuat ia harus begitu lama meyakini perasaannya. Hingga akhirnya ia berujar “Tak mengapa…” dengan sebuah senyum yang terukir di wajahnya “…Kim Kibum.”

Kibumpun turut tersenyum mendengar jawaban Donghae yang telah ia tunggu selama ini.

Kembali dua pasang mata itu saling menatap, mencoba meresapi rasa hati masing-masing. Benarkah? Hingga akhirnya pertanyaan itu tak akan pernah lagi terucap saat kedua bibir itu bertemu di temani salju pertama musim dingin yang telah menggantikan musim gugur saat denting jam itu berbunyi.

Tak mengapa bila memang harus seperti ini, aku akan terus mencintaimu.

E.N.D

 

Advertisements

8 thoughts on “Sand of Snow

  1. Kyaaaaa Hae lama bgt menyadarinya,kan kasihan Kibum awalnya cinta Kibum bertepuk sebelah tangan
    btw aku dah mengira jga klau yg kirim2 hadiah buat Hae itu Kibum,berharap bgt Hae nulis nmanya d buku itu

  2. “Mengapa harus begitu lama?”
    Kenapa harus 7taon?? Wae??
    Uuhhhh.. *colok idung hae* si kibum lgi, seenak udel ngilang…

    aaakkhhh eoni gomawo fictnya. Yng lain jngan lupa dilanjut yaahh.. heheh sarangkihae :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s